Black in White #1

*poster belum ditemukan*

 

Kumiko Kureichi presents …

Cho Kyuhyun

Kim Heekyung

Lee Donghae

 

BLACK in WHITE

~~~o~~~

Jangan tanya kenapa nggak ada posternya, belom sempet nyari artworker.

Jangan tanya kenapa castnya itu itu aja, ini ff colongan *eh.

Jangan tanya kenapa judulnya nggak nyambung sama ceritanya, intinya, ini FF menceritakan tentang cerita seorang lelaki dan perempuan yang berbeda kepribadian, tapi menjadi satu. Ya pokoknya gitulah. Harusnya Two in One ya. Ya tapi gue maunya Black in White, gimana? Derita L.

And last … jangan tanya kenapa lagi. Gue pusing. Mending langsung baca aja~

Ketika seorang anak berandalan yang tak terkalahkan oleh siapapun, berhasil ditaklukan oleh seorang gadis mungil yang baik hati dan polos seperti anak kecil. Memangnya bisa?

Cerita itu dimulai ketika akhir musim panas di kota Seoul …

Seorang gadis dengan kaos tangan panjang dan celana jeans sederhana, ia berjalan dengan santai di trotoar sebuah jalan. Tangan mungilnya menyeret sebuah koper besar berwarna biru muda. Bibirnya tak henti mengeluarkan senandung kecil, ditemani sebuah boneka panda yang ia peluk di tangan kirinya. Senyumnya secerah matahari yang menyinari kota Seoul saat itu.

Kaki kecilnya berhenti melangkah, dan ia berhenti tepat di depan sebuah kedai ramyun sederhana. Suara dentingan bel pada pintu masuk berbunyi. Gadis itu tersenyum sumringah ketika bertemu dengan seorang Ahjumma pemilik kedai tersebut.

“Annyeong Haseyo!” sahut gadis itu dengan riang.

“Omona! Uri Heekyung!” Ahjumma itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri gadis yang dipanggilnya Heekyung. Wanita parubaya itu memeluknya erat seolah telah lama tak berjumpa.

“Kapan kau pulang dari Amerika? Kenapa kau tidak menghubungi kami agar bisa menjemputmu di bandara? Aigoo … dasar anak nakal.” cerocosnya panjang lebar.

“Hehehe … tadi aku sempat tersesat sebentar.” ucap gadis itu polos.

“Kenapa kau tidak menghubungi Donghae saja? Kau tahu, tadi dia sudah ku suruh untuk menjemputmu di bandara. Apa kau bertemu dengannya?” tanya Ahjumma khawatir. Gadis itu menggelengkan kepalanya, “Semuanya terasa asing bagiku.” jawabnya polos.

Ahjumma mengajaknya duduk di bar, lalu memberinya es serut “Ini … diluar sangat panas. Kau pasti kelelahan kan?” ujar Ahjumma itu ramah.

“Ne, gamsahamnida, Ahjumma.” gadis itu melahap es serut itu dengan senang.

“Bagaimana kabar orangtuamu disana? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Ahjumma, namun senyuman itu memudar dari wajahnya. Tatapannya menjadi redup. “Ne, mereka … baik-baik saja.” ucapnya tak bersemangat.

“Na wasseo!” sahut seorang pemuda yang baru datang.

“Oh, Donghae-ya. Syukurlah kau pulang cepat, Heekyung sudah datang lebih dulu. Dia bilang dia tidak menemukanmu di bandara Incheon. Kau ini bagaimana, kemana saja kau?” tanya Ahjumma itu cerewet.

“Jinjja? Aku sudah menunggu 2 jam disana. Sekarang mana dia?” tana Donghae.

“Annyeong Donghae Opp— omona! Dia Donghae Oppa?! Jinjjayo?! Kenapa dia tidak bertambah tinggi?” tanyanya jujur dengan tampang watados. Mendengarnya, pemuda bernama Donghae itu sedikit jengkel dengan sifat teman kecilnya ini yang terlalu frontal dan polos.

“Oh ya? Lalu apa kabar dengan tinggi badanmu yang tidak ada perkembangan, juga?” tanyanya dengan menekan kata ‘juga’.

“Hahahaha … aigoo Heekyung-ah. Jadi itu penyebabnya kau sulit menemukan Donghae di Bandara?”

“Eommoni, kau juga ingin menghinaku?” tanya Donghae sebal.

“Sudahlah, lebih baik kau antar Heekyung ke kamarnya sekarang. Dia sudah kelelahan sekali.” wanti Eommoni-nya. Ia mengangkat koper besar milik Heekyung dan menyuruh gadis itu untuk mengikutinya.

Mereka sampai dilantai atas, Donghae membuka pintu kamar yang akan ditempati Heekyung. Sebuah kamar yang tidak begitu kecil, namun nyaman untuk ditempati. Dindingnya dicat berwarna biru muda, warna kesukaannya. Sebuah ranjang sederhana berada di samping jendela dengan gorden bermotif bintang. Heekyung tersenyum senang melihat kamar yang begitu nyaman yang akan ia tempati.

“Sepertinya aku akan betah tinggal disini!” katanya bersemangat.

“Mau kubantu membereskan barang-barangmu?” tawar Donghae.

“Ani, terima kasih Donghae Oppa.” jawabnya.

“Baiklah. Kalau ada apa-apa, kamarku ada di depan kamarmu.” ucapnya sebelum ia meninggalkan Heekyung di kamarnya sendiri.

Gadis itu langsung membuka laptopnya dan memasang modem internet. Dengan cekatan gadis itu langsung membuka emailnya dan memeriksa apa ada email yang masuk dari Appanya.

“Ah! Dia sedang online!” serunya semangat.

Hee-chan : Appa! Aku sudah sampai dengan selamat :).

Tak lama kemudian balasan muncul di kolom chat mereka.

Kim Heenim : Heekyung-chan, bagaimana kabarmu disana? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kabar Lee Ahjumma? Apa kau sudah bertemu dengan Donghae?

“Aish, dasar cerewet.”

Hee-chan : Aku baik. Mereka semua baik-baik saja. Appa, kau tahu? Donghae oppa sangat berbeda dari 5 tahun yang lalu. Dia semakin tampan, tapi sayangnya tinggi badannya tidak bertambah. Kkkkkk~ xD

Kim Heenim : Aigoo … beraninya kau mengejek temanmu sendiri. Chagi, mian Appa tidak bisa melanjutkannya. Sebentar lagi akan ada rapat. Semoga harimu menyenangkan.

Hee-chan : Appa!

Kim Heenim : Ada apa sayang?

Hee-chan : Jaga kesehatanmu. Dan … cepatlah rukun dengan Eomma. Aku tidak ingin kalian terus menerus bertengkar. Appa harus merebut kembali Eomma kepelukan Appa. Aku yakin Appa bisa dan harus! Aku tidak ingin kalian berpisah, kumohon. Appa harus berjanji padaku!

“Appa, cepat balas pesanku …” ucapnya penuh harap.

Kim Heenim : Appa janji 🙂

Kim Heenim just sign off

Heekyung mendesah, itulah alasan gadis itu harus terpisah dengan kedua orangtuanya yang berada di Amerika. Broken home. Rumah tangga orangtuanya terganggu karena ada orang ketiga, Eommanya berselingkuh, ditambah setiap hari orangtuanya sering bertengkar. Tak jarang Appa Heekyung pulang dalam keadaan mabuk karena frustasi dengan kelakuan Eommanya yang sering membawa pria selingkuhannya ke rumah. Hingga suatu hari Appa Heekyung bertengkar dengan selingkuhan Eommanya sehingga menyebabkan Eommanya menjadi korbannya. Karena kejadian itu, Appa Heekyung mengirimnya ke Seoul dan di titipkan kepada keluarga Donghae, yang dulu pernah menjadi tetangga—dan mendiang Abeoji Donghae adalah sahabat Appa Heekyung— dan teman kecil Heekyung. Heekyung yang mengerti keadaan menuruti permintaan Appanya. Namun di hati kecilnya, ia ingin keluarganya kembali menjadi keluarga yang harmonis. Dan tentu saja keluarga Donghae tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Pada pukul lima pagi, Heekyung sudah siap dengan seragam sekolah barunya. Gadis itu beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Setidaknya ia tidak merepotkan Eomma Donghae.

“Oh, Heekyung-ah. Kau bangun pagi sekali. Sepertinya kau sangat bersemangat untuk pergi sekolah. Tunggulah di meja makan. Biar ku siapkan sarapan setelah itu aku membangunkan Donghae.”

“Ah, tidak usah. Biar kubantu Ahjumma menyiapkan sarapan.” tolaknya sopan.

“Baiklah, tapi jika ingin membantuku sebaiknya kau membangunkan Donghae saja.”

“Arasseo.” gadis itu segera menaiki tangga dan menuju kamar Donghae.

“Aku masuk saja, atau diketuk dulu, ya?” tanyanya bingung. “Tapi kalau aku ketuk pintunya, belum tentu kan kalau dia sudah bangun?” setelah berpikir dua kali, akhirnya gadis itu mengetuk pintunya dua kali. Setelah memastikan tidak ada jawaban apapun, gadis itu membuka pintunya yang tidak di kunci.

“Astaga, ceroboh sekali tidak di kunci.” ujarnya. Gadis itu memasuki kamar Donghae yang terlihat begitu rapih. Heekyung menemukan Donghae diatas sebuah ranjang, disana ia masih terlelap dalam mimpinya.

“Oppa ireona!” Heekyung mengguncang-guncangkan tubuh Donghae pelan. Namun Donghae malah mengubah posisinya membelakangi Heekyung.

“Aish, oppa bangun! Cepatlah!” Heekyung terus mengusik Donghae dengan cara apapun.

“Ayolah Oppa! Jangan memaksaku untuk mencabut bulu kakimu!” rajuk Heekyung. Ia menghela napas, sepertinya ia harus melakukan cara itu, sama seperti saat ia membangunkan Ayahnya.

1 .. 2 .. 3 …

Sreeeet~

“AAAAAWW!!” dan seketika itu juga Donghae bangun dari tidurnya. Yang benar saja, Heekyung benar-benar mencabutnya dengan sadis—menggunakan plakban yang entah dari mana ia dapatkan—. Donghae meringis kesakitan.

“Omo … sepertinya aku mencabut terlalu banyak. Oppa, gwenchana?” tanya Heekyung polos.

“HYAK!! Apa yang kau lakukan?! Dasar anak nakal!! Aish … ini sakit tahu!” omel Donghae sambil meringis kesakitan.

“Mianhae … lagi pula ini salahmu sendiri susah dibangunkan! Astaga, aku seperti sedang membangunkan kerbau saja.”

“Mwoya?! Dasar kurcaci! Ouch … bulu-bulu malangku.”

“Apa yang harus dibanggakan dengan bulu jelekmu itu. Cepatlah mandi, setelah itu kita sarapan. Aku tidak mau terlambat di hari pertamaku sekolah.” titah Heekyung lalu ia pergi meniggalkan Donghae.

“Aish! Keterlaluan, kenapa harus bulu kakiku juga yang jadi korbannya.” Donghae bangkit dari tidurnya dengan malas. Lalu ia melihat kearah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 05.45.

“YAK!! DASAR KURCACI SIALAN!!”

Donghae berjalan menuju halte bus dengan wajah malas. Ia masih kesal dan dendam kepada Heekyung yang tega mencabut bulu kakinya dengan sadis. Ia tak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan Heekyung yang menurutnya tidak penting sama sekali.

“Oppa, kira-kira aku sekelas denganmu tidak, ya?”

“Apa perpustakaannya memiliki komputer dan fasilitas internet? Siapa tahu aku bisa mengirim email kepada Appa disana.”

“Siapa saja guru-guru yang ada disana?”

“Oppa! Kenapa kau diam saja hah?!”

“Dasar kerdil bawel! Sekolahku besar! Dan banyak guru yang bekerja disana! Mungkin ada 60an atau … ah, aku tidak peduli. Intinya kau cerewet!” gerutu Donghae kesal.

“Aish, aku hanya bertanya. Kenapa kau menjawabnya pakai sewot?”

“Siapa yang sewot? Aku tidak sewot.” Donghae mulai merasa dongkol dengan sifat Heekyung yang polosnya overload.

“Dasar orangtua rempong.” cibir Heekyung.

“Yak! Siapa yang kau panggil orangtua, hah?!”

Heeyung hendak membalasnya, namun bis sudah datang dan gadis itu tak ambil pusing langsung menaikinya. Donghae hanya menggerutu tak jelas di belakangnya. Hingga mereka tiba di sekolah.

“Woah! Sekolah yang bagus!”

“Tentu. Aku termasuk murid pintar disini. Makanya aku mendapat beasiswa.” ucap Dongha sombong.

“Aku tidak tanya.”

-___-

“Lupakan. Kajja. Tapi …” Donghae menghentikan langkahnya dan menatap Heekyung dengan serius.

“Apa?” tanya Heekyung.

“Jangan pernah kau mendekati siswa yang bernama Cho Kyuhyun.” ujarnya hati-hati. Heekyung memandangnya heran “Memangnya siapa dia? Oh, kau takut padanya?” tanya Heekyung.

“Tidak. Aku serius Heekyung-ah. Pokoknya kau harus menjauhi Cho Kyuhyun. Dan jangan sekali-kali kau berurusan dengan berandalan itu.” Donghae berjalan mendahului Heekyung yang masih kesulitan mencerna kata-katanya.

“Tunggu dulu. Apa maksudmu? Kau menyuruhku untuk menjauhi atau tidak berurusan dengan berandalan yang bernama Cho Kyuhyun? Begitukah?” tanya heekyung.

“Apa otakmu selamban itu? Tentu saja.”

“Lalu apa masalahnya dengan—maksudku, memangnya ada apa dengannya?” tanya Heekyung bingung.

Donghae berhenti dengan tiba-tiba sehingga membuat Heekyung yang berjalan di belakangnya menabrak punggungnya.

“Yak! Bisa tidak bilang-bilang kalau berhenti, hah?!” protes Heekyung.

Donghae memegang kedua pundak Heekyung dan menatapnya dalam “Turuti saja apa kataku, nanti kau juga akan tahu.” ucapnya serius. Dan itu membuat Heekyung sedikit merinding. Seberapa bahayanya manusia yang bernama Cho Kyuhyun itu?

Heekyung memasuki kelasnya, 2-1. Sementara Donghae duduk dibangku 3-2. Namun yang ia herankan, Donghae malah semakin overprotective kepadanya. Buktinya, tadi Donghae sempat berkata “Istirahat nanti jangan kemana-mana. Tunggu aku di kelasmu. Aku akan kesana! Pokoknya jangan kemana-mana!” Heekyung merasa ada yang aneh.

“Annyeong haseyo. Joneun Kim Heekyung imnida. Aku pindahan dari Amerika. Bangapseumnida.” Heekyung membungkuk hormat di depan semua teman barunya.

“Baiklah, kau boleh duduk di bangku yang kosong.” perintah Lee Seonsaengnim. Heekyung memilih duduk di bangku urutan ketiga dari depan yang dekat dengan jendela.

Satu jam kemudian bel istirahat pun berbunyi. Beberapa siswa keluar kelas bersama teman-temannya. Namun tidak dengan Heekyung. Gadis itu menopang dagu dengan tangannya sambil menatap keluar jendela dengan bosan.

Ia mendesah, tangannya mencoret-coret kaca jendela yang sedikit berdebu. Ia menulis namanya tidak jelas. Ia bosan. Katanya Donghae akan datang? Tapi kenapa lama sekali?!

“Aaaaa!! Donghae oppa!!”

Terdengar suara jeritan para siswi perempuan dari luar. Seperti habis melihat seorang artis. Keadaan diluar sangat heboh. Heekyung terkejut, apa barusan nama temannya itu yang diteriaki? Ah, Donghae kan banyak. Maksudnya bukan hanya dia saja yang punya nama Donghae.

“Lee Donghae! Omo! Omo! Dia menuju ke kelas kita!!”

“Mwo? Lee Donghae? Kenapa kalian berlebihan sekali?” tanya Heekyung kepada salah satu teman sekelasnya.

“Omo~ kau tidak mengenalnya? Dia itu seorang pangeran sekolah! Dia sangat tampan dan baik hati.” jelasnya. Heekyung hampir tertawa selebar lapangan basket. Pangeran sekolah? Tampan dan baik hati? Seandainya para gadis-gadis itu tahu bagaimana ekspresi Donghae saat bulu kakinya dipangkas.

Donghae datang menghampiri Heekyung, dengan seorang siswa di belakangnya yang berlagak like a boss. Heekyung tertawa geli, “Annyeong, pangeran sekolah!” ledeknya kepada Donghae.

“Cerewet.” Donghae menarik tangan Heekyung untuk mengikutinya. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan cemburu.

“Siapa gadis itu? Apa dia kekasihnya?”

Donghae membawa gadis itu menuju cafetaria bersama temannya. Sesampainya disana, banyak orang yang menatap mereka penasaran.

“Kenapa mereka menatapku berlebihan sekali?” tanya Heekyung sedikit risih.

“Mungkin mereka iri padamu, bisa dekat dengan pangeran sekolah yang tampan ini.” ujar teman Donghae “Apaan sih. Kau berlebihan.” ujar Donghae.

“Kau siapa?” tanya heekyung.

“Oh, maaf. Namaku Lee Hyukjae. Kau bisa memanggilku Eunhyuk. Aku teman sekelas Donghae. Kau pasti Heekyung sepupunya Donghae, kan?” tanya Eunhyuk.

“Sepupu?” tanya Heekyung bingung.

“Ne, dia sepupu jauhku. Dia baru datang dari Amerika kemarin. Benar kan, Heekyung-ah?” tanya Donghae dengan tatapan yang dibuat-buat kepadanya.

“Ah, n-ne ..” Heekyung tak mengerti apa maksud Donghae menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya adalah temannya. Donghae menyuruh Eunhyuk untuk memesan bibimbap.

“Ya! Jangan katakan yang sebenarnya kepada Eunhyuk dan siapapun, arra?” ujar Donghae.

“Katakan apa? Maksudmu, aku bukan sepupumu? Memangnya kenapa?” tanya Heekyung.

“Ini demi keselamatanmu! Kalau mereka tahu kalau kau adalah temanku, apalagi kita tinggal satu atap, habislah kau! Keselamatanmu bisa terancam!” pesan Donghae dengan nada misterius.

“Apa karena fans-fans alay-mu?” ejek Heekyung.

“Ini ada kaitannya dengan orang yang tadi aku bicarakan saat di gerbang sekolah.” ujarnya was-was. Heekyung berpikir sejenak. Cho Kyuhyun?

“Memangnya apa hubungannya sih orang itu denganmu?” tanya Heekyung heran. Kenapa dari tadi Donghae selalu kelihatan waspada dengan orang yang bernama Cho Kyuhyun.

“Dia rivalku.” jawab Donghae singkat. Heekyung memberi tatapan ‘ceritakan-semuanya-kepadaku’. Donghae memutar bola matanya, dan menjelaskan hubungan antara dia dan Cho Kyuhyun.

“Sejujurnya, hampir semua penghuni sekolah ini membencinya. Karena dia selalu membuat onar di sekolah. Dia selalu menantangku untuk berkelahi,”

“Lalu apa kau kalah?” potong Heekyung dengan antusias.

“Kau meremehkanku, hah?! Tidak. Hasilnya selalu imbang. Namun 2 minggu belakangan ini, dia tidak pernah masuk sekolah. Sejauh ini, sudah 5 siswa yang masuk rumah sakit karena ulahnya. Walaupun dia sudah jarang disini, tapi tetap saja kita harus selalu waspada.” jelas Donghae.

“Hah .. paling orang seperti dia hanyalah seorang pengecut yang berani main keroyokan!” ucap Heekyung meremehkan.

“Kau salah. Dia tidak berkelompok. Dia sendirian. Tidak ada yang berani mendekatinya. Jadi mana bisa dia mempunyai teman.” ujarnya. Heekyung sedikit tercengang, ia sendirian. Mungkin itu yang menyebabkan kelakuannya seperti itu. Dia tidak mempunyai teman.

“Kasihan sekali,” gumamnya pelan.

“Hah? Tadi kau bilang apa?” tanya Donghae.

“Bibimbapnya dataaaang~!!” seru Hyukjae sambil membawa 3 mangkok bibimbap.

Setelah membantu Lee Ahjumma melayani pelanggannya—setelah ia pulang sekolah tentunya–, Heekyung berencana untuk jalan-jalan di sekitar taman kota. Saat hendak menuruni tangga, ia berpapasan dengan Donghae yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.

“Kau mau kemana?” tanya Donghae.

“Jalan-jalan sebentar.” jawab Heekyung. Donghae menertawai Heekyung yang sedang menatapna heran.

“Wae?” tanya heekyung “Kau yakin akan jalan-jalan sendirian? Apa kau tidak takut anak kecil sepertimu tersesat? Kau tahu banyak penjahat diluar sana yang akan menculikmu! Hahahaha! Tunggu disini, aku akan menemanimu.” ujar Donghae.

“Mwo?! Kau mau ikut?” Heekyung menggerutu kesal.

Setelah menunggu Donghae berganti baju, mereka berdua berangkat berjalan kaki. Karena jarak dari rumah ke taman kota cukup dekat.

“Aku heran denganmu,” ucap Donghae. Heekyung menoleh kepadanya “Hmm?” tanyanya “Di musim panas seperti ini, masih ada orang aneh sepertimu yang masih bersemangat jalan-jalan. Padahal cuaca sangat panas hari ini.” ujar Donghae. Heekyung tertawa geli mendengarnya “Aneh? Kapan lagi kita bisa keluar jalan-jalan?” ujar Heekyung.

“Kau ini tidak berubah sama sekali dari dulu.” ucap Donghae sambil mengacak-acak rambut Heekyung.

Mereka sampai di taman kota, mereka berdua duduk di sebuah bangku yang dibelakangnya terdapat pohon pinus. “Oppa! Ayo foto aku!” ujarnya sambil menyerahkan ponselnya kepada Donghae. Donghae mengambil ponselnya, dalam hitungan ketiga ia mengambil foto Heekyung yang sedang tersenyum manis. “Kyeopta ..” ucapnya tanpa sadar sambil memperhatikan foto Heekyung.

“Nde? Kau memujiku? Hati-hati nanti kau menyukaiku. Hahaha.” canda Heekyung “Ada-ada saja.” gumamnya. Diam-diam ia memfoto Heekyung yang sedang tertawa dengan ponselnya.

“Cho Kyuhyun!! Mau pergi kemana kau, hah?!” bentak seorang pria parubaya kepada anak laki-laki yang bernama Cho Kyuhyun.

Anak yang bernama Cho Kyuhyun itu mengabaikannya, ia berbalik dan menatap pria itu sinis “Kau tidak berhak menyuruhku ini itu!” teriaknya lantang.

“Demi Tuhan … kau tidak boleh meninggalkan rumah ini!! Dengarkan aku Cho Kyuhyun!! Aku Ayahmu!!” ujarnya tegas.

“Mulai detik ini, aku bukan anakmu lagi!” Cho Kyuhyun pergi meninggalkan rumah itu. Dalam hatinya, ia mengutuk kesalahan Ayahnya yang sudah tidak bisa ia maafkan lagi. Ia berjalan tak tahu arah. Meninggalkan semua kenangan pahit yang ia alami bersama keluarganya yang sudah berantakan.

Ya, anak itu adalah Cho Kyuhyun. Seorang anak orang kaya yang hidupnya seperti berandalan. Ia sering berkelahi hanya untuk mengambil uang jajan teman sekolahnya, dan uang itu ia pakai untuk membeli rokok atau meminum-minuman keras. Semua itu karena peristiwa 1 tahun yang lalu. Dimana ia kehilangan jati dirinya saat itu. Sejak saat itu, semuanya berubah.

Wanita yang paling ia cintai di dunia ini meninggal dunia. Saat Ibunya sempat mengalami masa kritis, Ayahnya masih sibuk dengan proyek yang katanya bisa membuat orang kaya raya sekaligus gila. Dan saat Ayahnya tertipu, disaat itu juga Ibunya menghembuskan nafas terakhir. Kyuhyun marah kepada Ayahnya yang tidak pernah memperdulikan Ibunya. Sejak saat itu, hubungan mereka jadi tidak harmonis. Ditambah kakak perempuan Kyuhyun yang melarikan diri entah kemana karena tekanan batin yang selama ini mereka alami.

“Aku harap ia mati bersama uang-uangnya itu.” Kyuhyun mengepal tangannya keras. Persetan dengan lelaki tua bangka itu, kini aku harus memikirkan masa depanku, batinnya.

Tiba-tiba hujan mengguyur kota Seoul. Namja itu segera berlari ke tempat yang teduh. Ia berhenti di depan toko souvenir. Sialnya hujan turun makin deras. Kini ia kedinginan, dan kesepian. Ia tak tahu harus berlindung dimana.

“Oh tidak. Hujan!” ujar Donghae. Ia segera mengajak Heekyung menuju tempat teduh terdekat. Heekyung mendadak murung “Aish, kenapa harus hujan, sih? Menyebalkan.” bibirnya mengerucut dan membuat Donghae gemas sehingga mencubit pipinya “Kau itu jelek sekali kalau sedang ngambek.” ejek Donghae.

“Oppa, kita pulang saja!” ajak Heekyung “Tuh kan, kau ngambek.” ujar Donghae “Siapa yang ngambek? Aku hanya sedang badmood. Aku tidak suka hujan. Lebih baik kita pulang saja! Kajja!” ajak Heekyung.

“Tapi hujannya semakin deras. Nanti kita malah sakit. Sebaiknya tunggu hujannya mereda dulu.” kata Donghae “Aish, aku bosan harus menunggu.” tolak Heekyung.

“Tunggu disini, aku akan membeli kopi hangat dan payung. Jangan kemana-mana, arra?” pesan Donghae “Untuk apa?” tanay heekyung sebal “Katanya kau mau cepat-cepat pulang? Kita tidak akan bisa pulang tanpa payung. Makanya tunggu disini, ne?” Heekyung mengangguk. Gadis itu hanya menatap kosong punggung Donghae yang menjauh darinya.

Huft …

Ia menghela nafas. Gadis itu paling tidak suka 3 hal. Menunggu, sendirian, dan cuaca dingin. Gadis itu merapat ke dinding supermarket dan menggosok-gosok tangannya. Tiba-tiba sebuah objek membuat matanya berbinar.

“Summer …”

Gadis itu menatap ke sebrang jalan, dimana sebuah toko souvenir yang bernama ‘Summer’. Warna oranye dari tembok itu membuatnya tertarik. Terlihat begitu indah dan cerah. Dengan semangat gadis itu nekat menyebrang jalan tanpa melihat kanan-kiri.

TIIIIIIINNNNN!!!

Set!

Crussshhh!

Heekyung membeku saat seseorang mendekapnya erat dan baru saja menyelamatkan dirinya yang hampir tertabrak mobil. Orang itu membawa heekyung kedalam toko souvenir dan menatapnya.

“Gwenchana?” tanyanya yang terlihat kaget juga. Heekyung masih terbengong. Ia masih tidak menyangka bahwa dirinya hampir mati tabrakan.

“Hei!” pemuda itu menggerakan tangannya di depan wajah heekyung.

“Oh ..” Heekyung mengerjapkan matanya dan melihat pemuda itu. Tiba-tiba wajahnya memanas saat pemuda itu sedang menatapnya.

“Ga-gamsahamnida ..” ucapnya pelan hampir tak terdengar.

“Lain kali kau harus hati-hati jika ingin menyebrang. Anak kecil sepertimu seharusnya minta tolong kepada seseorang untuk disebrangi.” ujarnya ramah. Heekyung melotot, ia tak terima disangka anak kecil dan dinasehati seperti itu.

“Yak, kau kira aku anak kecil? Umurku sudah 17 tahun! Enak saja.” ucap heekyung tak terima.

“Ya! Kau baru saja kutolong dari maut. Kenapa kau sudah berani nyolot seperti itu? Lihat badanku! Basah semua dan semua ini gara-gara anak tengil sepertimu!” ujar pemuda itu sewot.

Heekyung menjadi dongkol, berani-beraninya orang asing sepertinya sudah main ejek-ejekan dengannya. “Aku juga tidak butuh kau yang menyelamatkanku! Itu salahmu yang sok pahlawan. Bilang saja kau ingin mengambil kesempatan memeluk-meluk gadis remaja sepertiku, kan? Dasar tua bangka.” balas Heekyung tak kalah sewot.

“Omo .. omo … dasar anak kecil tak tahu sopan santun. Awas kau—“

“Summer …” Heekyung terpaku oleh suasana di dalam toko Summer yang sedari tadi ia pandangi. Ia sangat takjub dengan lukisan di sekitar dinding yang menggambarkan sebuah pantai di musim panas, dan juga pemandangan di kebun bunga matahari saat musim semi. Ya, Heekyung sangat mencintai kedua musim itu.

“Omo … neomu kyeopta!” ia terkesan dengan sebuah gantungan kunci yang bertuliskan ‘Summer’ berwarna emas.

“Tch, benar-benar kekanakan.” cibir pemuda itu “Hei hei … tolong pasangkan ini di tasku!” pinta Heekyung sambil menunjukkan tas kecilnya kepada pemuda itu. Pemuda itu menggelengkan kepalanya lalu memasangkan gantungan itu di tas kecil Heekyung.

“Aaa~ manisnya! Bagaimana? Cocok tidak?” tanya Heekyung antusias kepada pemuda itu. Sejenak, ia melupakan masalah kecil yang ia ributkan dengan pemuda itu. Tiba-tiba pemuda itu tersenyum jahil, seakan merencanakan sesuatu. “Bagus. Sangat cocok untukmu.” ujarnya.

“Arra. Akan kubeli.” mereka menuju kasir untuk membayar gantungan itu. “5000 won.” ucap penjaga kasirnya, Heekyung menyerahkan beberapa lembar uang. Dan setelah barang itu dibeli, pemuda itu segera merebutnya.

“Dan .. ini hadiah untukku. Karena sudah menyelamatkanmu.” ujarnya sambil tertawa jahil.

“Mwoya?! Andwae! Shireo! Kembalikan kepadaku! Cepaaat! Kembalikan!” Heekyung berusaha meraih gantungan itu. Namun gantungan yang digenggam pemuda itu terlalu tinggi untuk dijangkau dengan tinggi badannya yang hanya 160cm itu.

“Yak! Ini sama sekali tidak lucu! Cepat kembalikan!” Heekyung tetap memaksa. Namun pemuda itu tidak menyerah.

“Jika kau ingin ini kembali, beritahu aku siapa namamu.” ujarnya. Heekyung menatapnya aneh “Hah, jadi kau hanya ingin tahu namaku? Kenapa tidak tanya dari tadi? Kau tidak harus mengambil barangku juga, kan?” tanya heekyung. Namun pemuda itu hanya tersenyum … err .. misterius.

“Namaku Kim Heekyung. Dan sekarang cepat kembalikan gantungan kuncinya!” pinta Heekyung.

“Kau pikir semudah itu? Jika kau ingin benda ini kembali, besok kita bertemu disini dijam yang sama. Jika kau tidak datang … ya … terpaksa benda ini menjadi milikku selamanya. Bye~” pemuda itu berjalan meninggalkan Heekyung yang terbengong.

“Yak!!” teriaknya kesal. Namun ada satu yang ia lupakan, gadis itu buru-buru memanggil pemuda itu “Ya! Siapa namamu?!” tanya Heekyung.

“SPARK!!”

“Spark? Aneh. Tapi keren juga …”

Kyuhyun bersandar pada dinding sambil memutar-mutar gantungan itu pada jarinya. Ya, dialah Cho kyuhyun yang menjadi Spark. Atau Spark yang menjadi Cho Kyuhyun?

Bertemu kembali besok? Padahal ia sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan besok. Entahlah, dalam hatinya ia hanya ingin bertemu dengan gadis itu, bertengkar soal hal yang tidak penting, dan melihat wajahnya yang berbinar itu.

Sejak awal, Kyuhyun juga tidak tahu. Kenapa tiba-tiba kakinya bergerak saat melihat gadis itu menyebrang dan hampir tertabrak mobil? Ia merasakan ada sesuatu di mata Heekyung yang berbeda dari siapapun. Tatapan yang melindungi. Tatapan yang memancarkan kenyamanan. Dan aura penyayang yang terpancar. Sama seperti Ibunya.

Dan sepertinya, namja itu mulai tertarik dengan gadis yang bernama Heekyung.

Heekyung mengecek pesan masuk yang ada di emailnya. Tidak ada pesan apapun dari Ayahnya di Amerika. Ia menghela nafas. Sedih, tapi … entahlah. Ada perasaan aneh di dalam dirinya.

“Spark ..” tiba-tiba ia mengucapkan nama itu. Nama pemuda yang baru saja membuatnya kehilangan kesadaran. Kenapa juga ia mau bertemu dengan Spark besok. Come one, itu hanyalah sebuah gantungan kunci. Ia bisa membelinya lagi. Dan heekyung tahu itu. Tapi, ia merasa ada yang spesial. Heekyung sangat mencintai musim panas. Tapi hatinya berdebar saat melihat tatapan itu. Mana yang spesial? Gantungan kunci, atau … orang itu?

“Sparko … hei, kenapa nama kalian bisa sama?” ia bertanya kepada boneka panda kesayangannya.

To be continued …

Aaarrrggghh, my 3rd series. Padahal School X Fight belom kelar, dan nggak akan kelar :(. I dunno, cuma lagi ngisi kekosongan waktu aja. Jadi inilah … hasil begadang saya. Cerita nggak jelas dan tak tahu arah jalan pulang~ *tampar*. Semoga aja nggak ada yang minta next part. Huaaaaa~ pengen nangis kalo inget SxF. Gara-gara kesibukan sekolah ditambah nilai saya TURUN TT_TT. Semoga aja nilai saya turun karna karma nggak ngelanjutin SxF. Jadinya saya bisa semangat ngelanjutin FF yg pending xD

Okey, ini nggak penting. Tapi, saya tetap minta komentar kalian tentang FF ini. Siapa tau kalau ceritanya bagus, bisa lanjut. Dan lagi-lagi, ini ide dapet dari kamar mandi. Entah kenapa kamar mandi itu tempat yang mendukung buat cari ide. Mungkin kalau saya nanti terbitin novel, saya bakalan cantumin ‘My beloved bathroom’ di halaman Thanks To. Hahaha, makin gila aja. Yaudah, ditunggu responnya ya 🙂

 

Iklan

9 thoughts on “Black in White #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s