School X Fight [ROUND 7]

Title : School X Fight.

Author : Kumiko Kureichi (@Nandalicialicie).

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Shim Minhyo (OC), Kim Hyejung (OC).

Genre : School life, Romance, Comedy.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG-13.

Previous: Previous : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Demi kerang bambuuuu!! Maafkan aku readers School X Fight tercintaaaahhhhh~~~ #sungkeman Sesuai permintaan kalian di part sebelumnya, part ini aku buat panjanggg sekaleh. Naskahnya sampe membentang luas 7 lautan 5 samudera di NeoOffice. Maaf ini cuma 25 halaman NeoOffice. Kalau kalian meminta lebih, sok atuh, Miko mah teu kabeurateun. Yang penting readers puas dan bahagia dunia akherat. Hahahah xD. Semoga tidak kepanjangan dan tidak kependekan. Happy reading ^^.

Minhyo POV

“Kami mencari siswi yang bernama Shim Minhyo dari kelas 3-0.”

Tiba-tiba dua orang guru yang dulu pernah memergoki Lee Hyukjae datang ke kelasku. Beberapa pasang mata menatap kearahku. Apa ada kasus lagi? Aku pun segera berdiri dari tempatku.

“Harap ikut kami ke ruang kepala sekolah sekarang.” pintanya. Tanpa basa-basi aku segera mengikuti kedua guru itu. Tenanglah Shim Minhyo. Kau pasti bisa mengatasinya sendiri. Apapun masalahnya, aku tidak peduli.

“Jeoseonghamnida seonsaengnim!” sahut Donghae tiba-tiba.

“Bisa aku ikut dengan kalian?” tanyanya. Aku mengerutkan dahiku. Apa-apaan anak itu? Ikut campur urusanku saja.

“Ah, apa kau Lee Donghae si pelapor dan saksi mata itu?” tanya Kim seonsaengnim. Pelapor dan saksi mata? Maksudnya? Dia melaporkan sesuatu kepada kepala sekolah tentangku? Ada apa ini?

Kelas mulai ramai, mereka semua berbisik tentang yang aneh-aneh kepadaku.

“Apa Minhyo membuat masalah lagi?”

“Ah, anak itu memang tak hentinya membuat kekacauan disini.”

“Musuh tetap saja musuh.”

“Dia memang murahan.”

Mataku memanas mendengar celaan dari mulut mereka. Kenapa harus  berakhir seperti ini juga? Kenapa sepertinya masalah terus datang secara bergilir kepadaku? Apakah aku tidak bisa hidup tentram seperti dulu lagi? Aku merindukan teman-temanku.

Kami berempat segera menuju ruang kepala sekolah. Yang letaknya berada diiiii … kawasan luar Grup 0. Oh tidak, aku bisa membayangkan bagaimana kami akan di keroyok oleh mereka. Eh, tapi ini kan jam pelajaran. Koridor dan lapangan pasti sepi. Syukurlah.

Kukira akan ada kasus baru yang menimpa diriku. Dan bingo! Ternyata benar-benar kasus. Tapi kali ini aku yang menjadi korbannya. Dan aku makin terkejut ketika melihat Choi Siwon bersama kepala sekolah. Ah iya, dia ketua Osisnya. Aku muak bertemu dengannya. Rasanya ingin memakan dirinya hidup-hidup sekarang juga.

Yap, betul. Kasus pengeroyokanku dan Kyuhyun saat di depan sekolah beberapa hari yang lalu.

Entahlah, kenapa suasana menjadi tegang begini. Namun aku tetap mempertahankan sikap dinginku. Untung aku masih ingat aku masih mogok bicara kepada siapapun. Kulihat raut wajah Donghae sangat serius. Jadi, dia melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah? Astaga, Lee Donghae pabo! Untuk apa kau melakukan itu? Sekarang lihatlah Choi Siwon, wajahnya sangat tegang. Kira-kira apa yang ada di pikirannya? Dari jarak 1 meter lebih saja aku bisa melihat keringatnya yang mengalir dari keningnya.

“Jadi Shim Minhyo, tolong sebutkan ciri-ciri pelakunya.” tanya kepala sekolah Lee.

“Eung … hmm ..” seperti ada yang melilit lidahku. Sepertinya aku terlalu gugup untuk mengatakannya. Apakah ini bukan jebakan lagi?

“Tenanglah Minhyo-ya. Kau pasti bisa.” bisik Donghae pelan kepadaku sambil menggenggam tanganku. Aku menarik nafas pendek lalu melepaskan tangan Donghae perlahan. Enak saja dia main pegang-pegangan.

“Ciri-cirinya, mereka masih anak sekolah,”

“Apa kau yakin? Kau tahu dari sekolah mana mereka?” tanya kepala sekolah.

“Ng … sepertinya, mereka belum terlalu tua. Maaf, aku tidak tahu.” jawabku ragu.

“Baiklah. Lanjutkan.”

“Mereka namja dan ada 3 orang. Salah satu dari mereka tubuhnya tinggi.” jelasku. Sepertinya Siwon bertugas untuk mencatat apa yang kukatakan.

“Hanya itu? Apa tidak ada lagi ciri-ciri yang mencolok?”

“Maaf, tapi hanya itu yang kutahu. Aku benar-benar tidak mengenal mereka.” jawabku menyesal.

“Algesseumnida. Mungkin ada yang ingin ditambahkan oleh Lee Donghae?” tanyanya kepada Donghae. Aku menatapnya cemas, jangan sampai ia mengatakan hal yang tidak kuinginkan.

“Mereka menyerang Minhyo dua kali. Dan saat penyerangan yang kedua kalinya, disitu Cho Kyuhyun dari kelas 3-1 terlibat dalam pengeroyokan itu. Dia menolong Minhyo saat preman itu hendak menikam Minhyo.”

Sontak aku melotot kepadanya. Dasar bodoh!! Untuk apa dia bilang bahwa Kyuhyun terlibat masalah ini?!! Apa yang ada ia pikirkan sebenarnya?! Aaah … aku ingin sekali memakinya sekarang juga.

“Siwon-ah, apa Kyuhyun masuk hari ini?” tanya kepala sekolah.

“Belum seonsaengnim, kemungkinan dia akan hadir besok.” jawab Siwon.

“Baiklah, kalian bisa kembali ke kelas. Jika ada bukti atau saksi mata lagi tolong segera lapor kepadaku.”

“Ne, algesseumnida.” kami berdua membungkuk hormat kepadanya. Saat kami sudah berada diluar aku segera mencaci maki Donghae dengan kesal.

“Apa yang kau lakukan, hah?!! Untuk apa melaporkan masalah ini kepada pihak sekolah?!! Terlebih lagi kau menyangkut pautkan Cho Kyuhyun ke dalam masalah ini. Apa kau tidak tahu resikonya, hah?!!” teriakku kesal.

“Minhyo-ya, dengar. Ini semua kulakukan demi kebaikan kita. Aku hanya berusaha untuk membantumu. Itu saja.” jawabnya.

“Membantuku katamu? Hah, aku tidak butuh bantuanmu! Dan yang kau lakukan hanyalah menambah beban hidupku!! Jangan pernah mencampuri urusanku lagi, ingat itu baik-baik!! Sekarang enyahlah dari hadapanku!! Aku muak melihat wajahku yang sok malaikat itu!!” makiku habis-habisan. Kulihat ia sempat shock dan ada raut kecewa di wajahnya. Maafkan aku Donghae-ya, aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya tidak ingin kau terlibat masalah ini dan kau menjadi sasaran preman itu juga. Aku hanya tidak mau kau masuk ke dalam keadaan bahaya.

“Terserah!! Sekarang lakukan apa yang mau kau lakukan!!” ia pun pergi meninggalkanku. Mianhae Donghae-ya, andai saja tidak berakhir seperti ini. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu.

Pintu ruangan kepala sekolah terbuka. Muncullah Siwon dari dalam. Begitu ia melihatku, raut wajahnya menjadi pucat. Ah, anak ini. Pasti ada yang di sembunyikan darinya.

“Choi Siwon!!” aku menarik tangannya dan menyudutkannya ke dinding sambil menatapnya tajam.

“Lepas! Apa yang kau lakukan?!!” ia memberontak. Oke, keajaiban. Kenapa aku merasa tenagaku lebih kuat darinya? Apa saking gugupnya ia tak bisa melakukan apa-apa?

“Kumohon, aku ingin berbicara empat mata denganmu. Sebentar saja!” pintaku memohon.

“Aku, aku tidak ada waktu untuk itu.” ia mengalihkan pandangannya padaku.

“Katakan padaku! Kenapa kau melakukannya?!!” ia menatapku terkejut. Lihat, ekspresinya seperti orang yang ketahuan berbohong. Benar kataku.

“Me-melakukan apa maksudmu?” tanyanya panik.

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau tega memfitnah Lee Hyukjae?! Padahal kau sendiri yang melakukannya! Kenapa? Bukankah kau itu orang yang baik hati?” tanyaku langsung.

“Hah, kau menanyakan kasus basi itu?” tanyanya menyepelekan. Ada perasaan lega dari dirinya. Lantas aku marah. Kasus basi?

“Kasus basi katamu?!! YAK!! Kau yang menyebabkan Hyukjae mengundurkan diri dari sekolah ini!!”

“Ya .. aku tahu! Aku tahu! Kau tanya kenapa? Jika kau ada diposisiku kau pasti juga akan melakukan hal yang sama! Hah, sudahlah. Apakah aku harus menjelaskan semuanya secara rinci kepadamu?” tanyanya remeh.

“Tentu saja! Semua harus dijelaskan agar tidak ada kesalah pahaman!” desakku.

Ia tersenyum kecut kepadaku, “ Kau tahu bagaimana perasaan sang kakak ketika Adiknya mengalami kecelakaan parah hingga ia harus berbaring di rumah sakit hingga 5 bulan lamanya? Ditambah lilitan hutang yang tidak sedikit yang dialami keluarganya? Dan juga yang paling menyesakkan, biaya sekolah elit ini yang sangat mahal? Apa kau tahu perasaan sang kakak itu?!” tanyanya bertubi.

Aku hanya diam. Mencoba mencerna perkataan yang dilontarkan Choi Siwon tadi. Apa maksudnya ia menjelaskan hal itu?

“Lalu, ketika sang dermawan berhati iblis datang membantunya. Membantu segala kesulitan yang di derita sang kakak itu. Tentu saja bantuan itu tidaklah ‘gratis’.” lanjutnya.

“Sejak saat itu, si kakak harus membalas kebaikan sang dermawan itu. Bukan dengan uang. Kakak harus membayar kebaikan itu dengan kejahatan. Selama hidupnya si kakak harus melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Ia dipaksa, diperbudak, seperti disiksa di api neraka. Apa kau bisa merasakan perasaan sang kakak itu??” tanyanya.

Apa dia sedang bercerita tentang kehidupannya? Kalau iya, apa mungkin ‘sang kakak’ itu adalah dirinya?

“Apakah … kakak itu .. adalah kau??” tanyaku.

“Ya. Bagaimana menurutmu? Apa aku ini adalah kakak yang jahat? Atau kakak yang bodoh?” tanyanya lagi. Aku menutup mulutku, ini tidak mungkin. Siwon dipaksa atau terpaksa melakukan itu karena diancam oleh seseorang? Siapa?

“Jika kau tanya siapa sang dermawan berhati iblis itu. Jawabannya adalah orang yang sudah menjebloskanmu ke Grup 0.”

Minhyo POV end

Author POV

“Jika kau tanya siapa sang dermawan berhati iblis itu. Jawabannya adalah orang yang sudah menjebloskanmu ke Grup 0.”

“Mustahil!” teriak Minhyo tak percaya. Gadis itu mengacak rambutnya stress. Kalau saja Kyuhyun tidak menolongnya beberapa hari yang lalu, gadis itu pasti akan percaya bahkan setuju dengan penjelasan Choi Siwon tadi. Tapi sekarang? Jika itu adalah Kyuhyun yang dulu, berarti Kyuhyun yang sekarang tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Bisa saja.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya sendiri. Tanpa sadar Minhyo mengkhawatirkan Cho Kyuhyun, namja yang seharusnya yang ia benci saat ini juga.

“Apa dia benar-benar sudah berubah? Maksudku, apa dia sudah berubah sepenuhnya?” pikirnya lagi. Dermawan berhati iblis, atau Iblis berhati dermawan?

~~~o~~~

Keesokan harinya, Minhyo tidak berangkat dengan sehelai perbanpun yang melilit di tubuhnya. Keadaannya sudah sepenuhnya membaik. Ia pun kembali berjalan kaki berangkat menuju sekolahnya. Hari ini ia juga boleh bersyukur karena ia bangun lebih awal dari biasanya. Seperti ada yang mendorong semangatnya dari dalam lubuk hatinya.

Ketika ia sampai di depan gerbang, tak sengaja matanya menangkap sebuah mobil mewah yang melintasinya. Mobil itu memasuki gerbang utama. Minhyo refleks mengikuti mobil itu. Beruntung sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa murid saja. Sehingga tidak ada yang menyadari kalau dirinya berasal dari Grup 0.

Ia mengintip di balik pohon beringin yang besar. Mobil itu berhenti di parkiran khusus Grup 1. Tak lama, orang yang telah ditunggunya keluar dari mobil mewah itu. Ya, Cho Kyuhyun. Namja itu terlihat sudah baik-baik saja. Minhyo bernapas lega, beruntung tidak terjadi sesuatu yang parah pada namja itu.

Namun, ada sesuatu yang mengejutkan. Seorang gadis keluar dari mobil yang sama dengan Cho Kyuhyun. Gadis itu berparas cantik dan anggun. Terlihat seperti seorang putri. Minhyo menebak-nebak dalam hatinya. Kira-kira siapa gadis cantik yang satu mobil dengan Kyuhyun?

Seperti ada yang mencabik-cabik hatinya saat Kyuhyun mengulurkan tangannya kepada gadis tersebut. Kemudian mereka berjalan berdua layaknya sepasang kekasih.

Minhyo membeku di tempatnya.  Minhyo meremas dada kirinya yang terasa nyeri. Sesak. Apa Minhyo salah mengartikan pertolongan dan ciuman Kyuhyun saat itu?

Author POV end

Kyuhyun POV

“Kajja Hyejung-ah.” ucapku sambil mengulurkan tanganku. Ia meraih tanganku, akhirnya kami berjalan beriringan menuju kelas. Huft, untung saja sekolah masih sepi. Astaga .. apa jadinya kalau banyak orang saat ini. Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi. Seantero sekolah akan membicarakan kami dan dia akan mengetahuinya. Ah, iya .. Minhyo. Bagaimana keadaannya sekarang?

“Kyu ..” sahut Hyejung pelan.

“Nde?” tanyaku.

“Apa selama ini kau bermain dibelakangku?” tanyanya santai. Mataku membelalak. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu kepadaku? Aish, aku lupa Hyejung ini orang yang sangta blak-blakan.

“Ah .. jangan bercanda. Mana mungkin aku berselingkuh? Seharusnya aku yang berkata seperti itu kepadamu. Hahaha.” aku tertawa garing. Tiba-tiba terlintas saat kejadian dimana aku mencium Shim Minhyo saat itu. Ah, kenapa kesannya aku jahat sekali kepadanya?

“Hmm, benarkah?” tanyanya tanpa menatapku. “Tentu.” jawabku canggung.

Gadis ini adalah Hyejung, dan dia adalah tunanganku. Dan aku tidak mencintainya. Setelah lulus SMA kami akan segera menikah. Sebenarnya aku bisa saja menolak, namun kalau aku menolak, taruhannya adalah perusahaan orangtuaku. Apalagi, Hyejung sudah terlanjur menyukaiku. Lebih tepatnya, ia telalu terobsesi kepadaku. Bukannya aku sombong, tapi memang itu kenyataannya. Dia bisa digambarkan sebagai putri yang mempunyai segalanya. Apapun yang ia inginkan pasti akan langsung menjadi kenyataan. Apalagi Ibunya sudah lama meninggal. Jadi, Appanya sangat menyayangi anak sematawayangnya itu.

~~~o~~~

Saat bel istirahat berbunyi. Aku segera menuju kantin, begitu juga Hyejung yang mengikutiku sejak tadi. Banyak siswi yang berbisik-bisik membicarakan kami. Aish, kalau sampai gosipnya sampai ke Grup 0 bagaimana?

Kami duduk berdua di salah satu meja yang dekat jendela. Ah, kenapa aku jadi tidak percaya diri seperti ini? Sementara Hyejung, dia terlihat biasa saja. Curang. Kesannya seperti aku takut kepadanya. Ayolah, kenapa aku mendadak jadi pengecut seperti ini ketika ada Hyejung.

“Kim Hyejung?” tiba-tiba Siwon datang. Ah, dia lagi.

“Ah, wonnie? Lama tak jumpa. Apa kabarmu?” tanya Hyejung ramah. Sebelumnya Hyejung memang kenal dengan Siwon. Bagaimana tidak? Mereka itu teman sejak kecil. Dan Siwon juga yang mempertemukanku dengan Hyejung. Sama saja ia membawa malapetaka untukku. Sungguh, aku sama sekali tak tertarik dengan Hyejung. Dia memang cantik, tapi aku tidak suka dengan gadis yang pintar. Dia sama sekali tidak menarik dimataku. Bahkan Minhyo jauh lebih baik darinya.

“Baik. Rupanya kau sudah kembali dari Amerika? Kenapa tak mengabariku? Kau juga pindah kemari.”

“Mianhae. Ini juga mendadak. Saat aku mendengar kabar bahwa Kyuhyun mengalami musibah, aku langsung meminta Appa untuk pindah ke Seoul saja.” jelas Hyejung. Siwon menanggapinya dengan ber-‘oh’ria. Kenapa nampaknya dia santai sekali?

“Syukurlah. Tapi .. aku masih penasaran siapa yang tega melukai Kyuhyun. Tanpa modus yang jelas.” ujar Hyejung. Hening. Aku maupun Siwon tidak menanggapinya dengan serius. Menurutku tidak masalah dia melukaiku, asalkan Minhyo baik-baik saja. Tapi tidak mungkin aku membicarakan Minhyo di depan mereka berdua.

“Hyejung-ah, Kyuhyunnie, aku ada urusan sebentar. Sampai jumpa.” pamitnya dan langsung pergi meninggalkan kami.

“Aish .. kenapa dia jadi seperti itu? Padahal aku ingin sekali mengobrol lebih lama dengannya.” gerutu Hyejung.

“Kenapa kau tidak bertunangan saja dengannya?” ucapku pelan. Hyejung tersenyum jahil kepadaku. “Omo .. kau cemburu?” tanyanya senang. Heh? Cemburu? Lebih baik aku cemburu melihat dua kucing sedang bermesraan.

Kyuhyun POV end

 

Minhyo POV

Aku duduk lemas di tempatku. Aku tidak berselera untuk makan, milk tea-ku sudah habis di minum Joohyun. Entah sejak kapan anak itu menjadi rakus dan cerewet sekali akhir-akhir ini. Aku hanya menjadi kambing congek mendengar cerita-ceritanya saat masa kecil. Tapi aku juga mendengarkan sebagian. Joohyun itu anak tunggal sepertiku, tapi hidupnya lebih menyenangkan dari pada diriku. Sepertinya.

“Ya!! Lihat ini!! Ada berita terpanas minggu ini!!” seru seorang siswi sambil berdiri diatas meja guru. Beberapa orang menghampirinya dengan heboh. Joohyun menarik-narik tanganku agar ikut kesana. Tapi aku menolaknya sehingga gadis itu pun berlalu. Lihat, kan?

Tak lama kemudian Joohyun kembali dengan raut wajah kesal. Ada apa dengan anak ini?

“Ada berita apa?” tanyaku cuek.

“Berita nggak penting.” ia menopang dagunya dan memakan rotiku dengan rakus. Mendadak perasaanku tidak enak. Kenapa Joohyun bisa tidak tertarik dengan berita yang katanya terpanas ini? Apa dia suka yang dingin-dingin?

“OMONA!! Cho Kyuhyun sudah mempunyai tunangan?!!!”

“Iya, kabarnya tunangannya itu dari Amerika, lho!”

“Namanya Kim Hyejung! Omo … cantik sekali!!”

“Mereka pasangan yang cocok!!”

“Lihat itu!! Mereka kelihatan mesra!!”

Deg!!

Mataku membulat. Tunangan? Apa yang dimaksud mereka gadis yang tadi pagi berdua dengan Kyuhyun? Mereka sudah tunangan. Berapa lama? Kenapa .. kenapa bisa?

“Hey!! Aku mendapatkan foto-foto mereka yang lain!!” teriak seorang siswi yang baru datang dengan beberapa lembar foto. Siswi itu menempelkannya di papan tulis sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Sepertinya itu foto-foto lama. Memang benar, mereka terlihat mesra di foto-foto itu. Matakupun menjadi memanas.

“Itu foto yang di upload 2 tahun yang lalu di situs pribadi Kyuhyun!”

Dua .. dua tahu yang lalu? Di situs pribadinya?

Aku mengepalkan tanganku erat di bawah meja. Cih, ini memuakkan. Lagi-lagi aku mudah di permainkan.

“Cih, hanya foto-foto biasa seperti itu mana bisa dijadikan bukti? Mereka stalker yang payah. Lagi pula berita itu tidak menyegarkan sama sekali. Iya, kan, Minhyo-ya?” tanya Joohyun. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Jangan sampai Joohyun tahu mataku kini sudah berair.

“Hentikan!!” teriak Donghae tiba-tiba. Ia berdiri dan merobek foto-foto tersebut.

“Dilarang mengotori kelas kalian dengan sampah-sampah ini!! Sekarang bubar!!” teriaknya tegas.

“Ne!! Kenapa kalian menjadi murahan sekali seperti Grup 1!! Suka membicarakan orang dan bergosip yang tidak-tidak!! Apalagi membicarakan manusia yang tidak berguna itu!! Mau dia bertunangan, menikah, bahkan mati sekalipun kalian tidak usah peduli!! Apa kalian lupa siapa yang telah menjebloskan kalian ke kelas ini?!! Benar-benar rendahan!!” timpal Yuri tiba-tiba. Entah mengapa aku merasa tersinggung saat Yuri mengatakan hal itu.

Aku segera keluar meninggalkan kelas yang menyesakkan ini. Aku benar-benar tidak tahan. Kenapa bisa Kyuhyun bertindak senekat itu disaat ia sudah mempunyai orang lain di hatinya. Apa semua ini hanya permainan busuknya? Ia sengaja menjebakku agar aku menjadi bahan celaan dan siksaan lagi. Dan ia juga telah  menyiksaku secara tidak langsung. Minhyo bodoh. Cho Kyuhyun brengsek.

~~~o~~~

Aku berjalan menuju kelasku dengan lesu. Hari ini sangat amat biasa aja. Tidak ada yang membuat semangatku memuncak. Aku mengabaikan beberapa orang yang memandangku sinis dan juga membicarakanku yang tidak-tidak. Terus bersikap sok tidak peduli. Sebenarnya, aku juga bosan seperti ini terus menerus. Jujur, ini bukan gayaku. Minhyo tidak pernah menjadi orang pendiam yang membosankan dan penuh misteri seperti ini. Minhyo yang sebenarnya adalah Shim Minhyo yang bodoh, konyol, dan luar biasa menyebalkan. Tapi keadaan rumit seperti ini telah membuatku menjadi begini. Aku marah. Aku marah kepada semua orang yang telah membuatku jadi begini. Aku marah kepada diriku sendiri. Dan aku menyesal.

Tidak ada gairah hidup. Tidak juga membuatku untuk mengakhiri hidup ini. Aku masih muda dan masih banyak alamat yang harus kutelusuri. Aku tidak boleh putus di tengah-tengah hanya karena masalah sepele. Masih banyak halaman yang harus kutempuh, berbagai cobaan menunggu didepan sana. Ibu pernah bilang kepadaku, “Kita tidak perlu menunggu kemenangan datang kepada kita, tapi kemenanganlah yang harus menunggu untuk kedatangan kita.”. Itu artinya, kita harus terus berusaha hingga halaman terakhir hidup kita.

Mungkin ini saatnya aku menjadi dewasa, merubah sikapku yang berandal. Aku ingin menjadi anak yang berguna dimata Ibuku, Ayahku, dan semua orang. Dan juga aku tidak ingin mengecewakan mereka.

Tapi pertanyaannya, harus jadi apa sikapku selanjutnya?

Grepp!

Donghae datang dari belakang dan menarik tanganku dengan kasar. Ia menggangguku yang sedang asyik melamun. Bibirku mengeluarkan rintihan kecil akibat cengkramannya yang sedikit kencang. Kulihat alisnya yang saling bertaut. Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya mudah berubah setiap waktu. Dimana-mana pasti yeoja yang sulit dimengerti. Tapi baru kali ini aku menemukan namja yang sulit dimengerti. Tidak lucu kalau dia sedang PMS.

Ia menarikku hingga halaman belakang kelas 3-0.

“Ada apa denganmu?” tanyaku sedikti menyentak. Baiklah, mungkin ada baiknya berbicara sedikit dari pada terus marah dalam diam atau sebaliknya.

“Jadi benar … Siwon pelakunya?” tuduhnya kepadaku.

Pelaku? Astaga, kenapa sampai sekarang otakku masih bisa lelet berpikir?

“Pelaku? Pelaku apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Tidak usah berpura-pura! Yang mengacaukan fasilitas Grup 1, Choi Siwon si ketua Osis, kan, pelakunya?!”

Astaga. Dia sudah tahu. Apa jangan-jangan dia menguping pembicaraanku dengan Siwon saat di depan ruang kepala sekolah?

“Benar, kan?! Jawab aku Shim Minhyo!!”

“Ne .. memang dia .. pelakunya.”

“Apa sejak awal kau sudah mengetahuinya?”

“Ne … tapi,” Donghae memotong ucapanku duluan.

“Tapi apa?! Kenapa kau menyembunyikannya dariku?!! Kenapa kau membiarkannya!! Apa kau memang sengaja ingin Hyukjae dikeluarkan dari sekolah ini hah?!!!” teriaknya tepat didepan wajahku.

“Tidak. Kau tidak mengerti … ini semua .. demi kebaikan kita—“

“KEBAIKAN MACAM APA?!!! Kau malah mempersulit semuanya!!! Tanpa sadar kau telah melindungi seluk beluk Grup 1 yang busuk dan bejat itu!! Karenamu Hyukjae telah mengeluarkan diri!! Dia tidak tahan terus menerus di hina oleh orang-orang kaya itu!!”

“Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu kenapa Siwon tega melakukan itu!”

“Hah, tentu saja karena dia adalah anak buah Cho Kyuhyun, kan?!! Tapi mereka semua sama saja! Mereka menganggap kami ini sampah yang mudah diinjak-injak begitu saja! Mereka semua licik dan munafik!! Aku tidak mengerti, kenapa kau malah menyembunyikannya dariku.”

“Cukup! Kau tidak tahu kenyataannya Lee Donghae!! Bukankah kau pernah bilang bahwa kau mengerti kenapa aku menyembunyikannya? Justru kau yang munafik! Kau selalu ikut campur urusan orang lain. Sadarlah, kau itu namja yang tidak peduli kepada siapapun! Bahkan saat Hyukjae di tuduh oleh Grup 1, kau hanya diam dan bilang bahwa apa yang kulakukan hanya sia-sia, dan juga satu persatu dari kita akan ditendang dari sini. Begitu juga sama denganku, itulah alasanku mengapa menyembunyikannya darimu. Karena itu percuma saja!! Bahkan Cho Kyuhyun bisa menjadi satu-satunya orang yang berada disini! Kau hanya asal bicara, kenyataannya kau tidak memaklumi apa yang kusembunyikan darimu. Sudahlah. Aku lelah berdebat denganmu!”

Aku tidak mengerti, apa ia tidak mendengar pembicaraanku sampai selesai. Kenapa dia seolah-olah tidak tahu penyebab Siwon melakukannya dengan terpaksa. Atau … Siwon berbohong kepadaku?

Minhyo POV

Kyuhyun POV

Pagi-pagi aku sudah dipanggil oleh kepala sekolah. Aish, memalukan sekali. Siswa terpandang sepertiku dipanggil oleh kepala sekolah, apalagi kalau bukan ada kasus? Untungnya Hyejung tidak mengikutiku.

“Annyeong haseyo.” sapaku begitu memasuki ruangan. Aku sedikit terkejut melihat adanya Minhyo dan Siwon disini. Astaga, ada apa ini?

“Silahkan duduk Cho Kyuhyun.” ucap kepala sekolah. Aku menurutinya, mataku melirik kearah Minhyo yang berada di sampingku. Ekspresinya datar-datar saja. Dan perban-perban yang melilit tubuhnya sudah dilepas. Syukurlah dia tak apa.

“Bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik?” tanya kepala sekolah.

“Ye.” jawabku pendek.

Dan begitulah selanjutnya, kini aku tahu kenapa aku dipanggil kemari. Itu karena kejadian yang hampir mencelakai Minhyo seminggu yang lalu. Mereka menanyaiku ciri-ciri pelakunya dan motif dari penyerangan itu. Tapi aku sama sekali tidak mengenali pelakunya. Dan menurut pendapatku sendiri, motif dibalik semua ini adalah balas dendam.

“Baiklah. Kalian berdua boleh kembali ke kelas masing-masing.” ucap kepala sekolah setelah selesai menginterogasi kami. Sejak tadi Minhyo hanya diam dan menanggapi dengan tanggapan pendek. Apa .. dia marah padaku?

Krek~

Pintu tertutup. Minhyo diam di tempat, begitu juga denganku. Apa aku harus berbicara kepadanya? Sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu kepadaku. Aish, kenapa suasana menjadi canggung seperti ini. Biasanya kami akan berkelahi seperti dulu.

“Cho Kyuhyun …” ia memanggilku. Aku menengok dan ….

PLAK!!

Aku terkejut dengan perlakuannya. Kenapa dia malah menamparku?

“Jika kau tanya kenapa aku menamparmu. Ini karena perbuatanmu yang tidak senonoh kepadaku!” ucapnya sambil menatapku tajam.

“Senonoh? Apa maksudmu?!”

“Hah, kau masih bisa berpura-pura tolol! Apa aku harus menceritakan kejadian seminggu yang lalu!!” nafasnya terengah-engah. Terlihat ia marah sekali kepadaku.

“Lalu apa masalahku?!” tanyaku lantang.

Gadis itu terdiam beberapa saat. Tiba-tiba ia menundukkan kepalanya.

“Kau masih berani bertanya apa masalahmu? Haha, benar-benar namja brengsek. Apa kau pikir .. aku gadis murahan yang bisa dipermainkan begitu saja? Pertama aku mengenalmu, kau begitu baik kepadaku hingga memindahkanku ke kelas elit. Lalu setelah itu kau mendepakku keluar dari kehidupan normalku dengan seenaknya. Kau merendahkanku. Apa kau tahu rasanya jika jadi diriku? Aku .. marah, aku marah karena telah membohongi Ibuku, dan mengecewakan Ayahku. Aku … dikucilkan, sulit rasanya beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku harus terpisah dengan teman-teman lamaku yang kini dengan mudahnya membenciku. Dan tiba-tiba, kau datang dan menyelamatkanku dari sebuah penyerangan. Dan dengan mudahnya … kau merebut ciumanku seenaknya saja. Apa aku benar-benar gadis murahan? Berapa harga diriku dimatamu Cho Kyuhyun?”

Aku terdiam. Seberapa banyak kesalahan telahku perbuat kepadamu? Apa begitu banyaknya sehingga kau tidak bisa membuka pintu maafku kepadaku. Minhyo, melihatmu begini, membuatku membenci diriku yang sekarang ini.

“Bahkan … meminta maaf saja tidak bisa. Walaupun kau mengatakannya, maaf, aku tidak bisa menerimanya. Kau sudah membuat hatiku sakit, Cho Kyuhyun.” suaranya bergetar. Gadis ini menangis diam-diam dihadapanku, dan aku tidak bisa melakukan apapun.

“Kenapa kau harus menciumku? Apakah agar semua orang tahu betapa murahannya diriku?!” hardiknya.

“Karena aku menyukaimu!!”

Emosiku melonjak naik. Kulihat gadis itu mendongak dengan pipi yang basah, ia shock. “Kau sudah tahu jawabannya, kan? Mulai sekarang, berhentilah menyakiti hatimu sendiri! Berhenti mengatai dirimu sendiri adalah murahan, Min-ah … ”

“Kau … menyukaiku? Hahaha! Bisa-bisa dunia ini kiamat jika kau menyukaiku. Sudahlah, memang faktanya kalau aku ini adalah gadis murahan. Aku menyadarinya. Mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Kehadiranmu hanya merusak hubunganku .. dengan Lee Donghae. Dan namaku … bukan Min-ah.”

DEG!!

Hubungan, dengan Lee Donghae?

“Kyuhyunnie!!” sebuah suara mengejutkan kami. Minhyo segera menghapus air matanya. Ternyata itu adalah Hyejung. Ia menghampiriku dengan wajah penasaran.

“Kenapa kau lama sekali? Siapa gadis ini?” tanyanya sambil memandang rendah Shim Minhyo.

“Hye .. hyejung-ah .. untuk apa kau kemari?” tanyaku gugup. Sialan! Disaat seperti ini kenapa Hyejung harus datang? Kau benar-benar namja brengsek Cho Kyuhyun!

“Tentu saja mencarimu, Kyunnie~” ucapnya sambil menggandeng manja lenganku.

Kulihat mata Minhyo memerah dan sedikit berair. Apa gadis ini ingin menangis? Aku tidak mengerti. Ah, biarlah, dia sudah mempunyai Donghae.  “Hyejung-ah, kajja.” ajakku. Aku dan Hyejung meninggalkan Minhyo disana. Sepertinya, ini adalah balasan yang setimpal untukku Minhyo-ya.

Kyuhyun POV end

Minhyo POV

Aku menopang daguku untuk menahan kantuk. Sungguh pelajaran Matematika yang membosankan dan sulit dimengerti. Ya Tuhan, kenapa aku diciptakan dengan otak sekecil udang? Beberapa kali aku menautkan alisku, kenapa belum satu materipun menyangkut di kepalaku. Sebentar lagi ujian kelulusan, dan yang kutahu hanya kelas unggulan yang bisa mengikuti ujian. Nah, itu dia yang makin mempersulitku. Sebelum mengikuti ujian kelulusan, Grup 0 harus mengikuti tes seleksi. Yang lolos akan dipindahkan antara Grup 1-4. Yang gagal, mau bagaimana lagi? Tentu saja mereka akan dilempar ke sekolah lain. Peraturan busuk.

“Aish .. yang ini bagaimana caranya? Kenapa bisa seperti ini?!” bisikku kesal. Aku iri melihat Joohyun yang sangat tekun. Padahal dia bukan anak yang pintar, tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Dia itu anak yang tekun, pasti dia bisa masuk Grup 2 atau 3. Haahh … lalu bagaimana denganku?!

Joohyun menoel-noel lenganku. Lalu menuliskan sesuatu di buku tulisku secara diam-diam. “Itu caranya, cermati dan cepat kerjakan. Aku tahu soal yang dikasih saenim ini adalah kisi-kisi soal tes seleksi. Hanya saja ia tak berani bilang, bisa-bisa ia dikeluarkan dari sekolah ini. Cepat kerjakan!” ujarnya panjang lebar. Omona … betapa beruntungnya aku mempunyai teman seperti Joohyun!

“Ne. Gomawo.” bisikku.

“Seo Joohyun! Shim Minhyo! Kenapa kalian malah mengobrol! Cepat kerjakan soalnya!” bentak Kim Saenim garang. Astaga … berisik katanya?! Apakah kelas yang sedang ribut ini dinamakan kelas yang tenang?! Apa hanya aku saja yang berisik?!

“Guru bawel,” aku mendengar umpatan Yuri yang duduk di belakangku. Aigoo, bisa-bisanya ia sempat bermake-up ria disaat jam pelajaran. Dia itu memang ulzzang yang tertunda atau apasih?

Sluuurrrppp!

Aku mendengar suara orang yang sedang menyedot minuman. Begitu aku menengok ke belakang.

Astaganaga …

Apa yang terjadi? Ada apa dengan kelas ini? Semuanya, sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang makan di dalam kelas, bermain dengan ponsel, mendengarkan musik, bahkan ada yang bermain lempar-lemparan bola baseball. Dan anehnya, kenapa Kim Saenim hanya diam? Maksudnya apa? Kim Saenim itu tuli atau pura-pura tuli?

Kalau begini jadinya, bisa-bisa kami semua didepak dari sekolah ini! Aigoo … aku tidak ingin itu terjadi!

Kriiiinggg!!!

Bel pulang berbunyi. Semua orang begitu semangat berkemas barang-barangnya. Aish, giliran pulang saja mereka begitu semangat. Kulihat sekelilingku, belum satupun soal mereka kerjakan kecuali Donghae dan Joohyun. Apalagi aku? Mengerti saja tidak.

“Baiklah. Ini PR untuk kalian. Kalian bisa mengerjakannya dengan berkelompok. Satu kelompok maksimal 2 orang.” ujarnya.

“Kim Saem, kalau mengerjakannya sendiri?” tanya Joohyun. “Memangnya kau bisa mengerjakannya sendiri?” tanyaku sedikit kecewa. Padahal aku berencana ingin berkelompok dengannya.

“Aniya, aku hanya bertanya.” jawab Joohyun.

“Boleh saja. Tapi aku akan menambahkan nilai plus bagi yang mengerjakannya berkelompok. Selamat siang.” Kim Saem langsung pamit meninggalkan kelas.

“Yes!! Joohyun-ah, kau mau kan berkelompok denganku?!” pintaku.

“Aaa … baiklah.” ujarnya.

“Tidak bisa! Joohyun sudah berkelompok denganku!!” ujar Yuri tiba-tiba. Gadis itu langsung merangkul lengan Joohyun.

“Mwo?! Yaa! Shireoyo! Dia sudah menjadi kelompokku!!” omelku langsung merebut Joohyun dari tangannya.

“Wae?! Sejak dulu dia sudah sering berkelompok denganku! Orang sepertimu mana bisa diandalkan menjadi rekan kerja.” sindirnya. Aish, jinjjayo! Aku ingin sekali menjambak rambutnya. Lagi pula sejak kapan dia akrab dengan Joohyun.

“Ayolah Yuri-ya … kau tahu aku sulit mendapatkan teman kelompok disini!” pintaku memohon.

“Kata siapa? Itu disana!” Yuri menunjuk ke seorang namja yang tengah berjalan kemari. Mworago?! Dengan Lee Donghae?!

“Donghae-ya! Apa kau sudah mendapatkan kelompok?” tanya Yuri. Ia menggeleng. Aish, kenapa ia harus menjawabnya! Yang benar saja, sekelompok dengannya.

“Ah, kalau begitu. Kau dengan Minhyo saja! Dia juga belum mendapatkan kelompok.” saran Yuri.

“Tidak. Terima kasih. Sepertinya aku akan mengerjakannya sendiri saja.” tolakku sopan.

“Wae? Bukankah jika bersama hasilnya akan lebih baik?” tanya Joohyun. Aku melotot kepadanya. Kenapa ia ikut-ikutan memaksaku?!

“Dia benar. Lebih baik kita mengerjakannya bersama. Agar kita dapat nilai tambahan.” timpal Donghae. Apa-apaan namja ini? Aish, harusnya kau tolak saja Lee Donghae pabo!

“Kau saja, aku tidak usah. Kalau ingin nilai tambahan kau bisa memilih orang lain.”

“Tapi aku mau mendapatkan nilai tambahan. Kalau masih ada orang lain aku tidak akan memilihmu! Pokoknya kau harus mau!” ujarnya memaksa.

“YA! Kau memaksaku?!” bentakku.

“Ne! Memangnya kenapa?!” ucapnya menantang.

“Hei~ kalian … sudahlah. Tidak ada waktu untuk bertengkar. Sudahlah Minhyo-ya, toh ada untungnya juga kau sekelompok dengan Donghae. Dia itu pintar dan baik hati. Kalian berdua cocok.” goda Yuri.

“YAA! Ini belajar kelompok!! Bukan berkencan!!”

“Aku tidak bilang kalian berkencan. Kenapa kau menuduhnya begitu. Omona … apa kau diam-diam menginginkannya, Shim Minhyo?? Ahahahaa!!”

Sial. Kenapa jadi begini? Dan kenapa Donghae malah ikut tertawa juga. Aish, apa mereka pikir ini lucu? Ini tidak lucu. Sangat tidak lucu. HAHAHA.

“Terserah. Berbicaralah sesuka kalian.”

~~~o~~~

“Minhyo-ya!! Yaaa! Jamkanmanyo!! Minhyo-ya!!” aku terus berjalan cepat tanpa meladeni suara Lee Donghae yang memanggil-manggilku itu. Sudah kubilang sifatnya suka berubah-ubah. Bukankah tadi siang kami baru saja berdebat? Lalu kenapa tadi ia memilihku untuk menjadi kelompoknya?! Dimana-mana pasti kebanyakan perempuan yang labil, tapi aku baru menemui namja labil sepertinya.

“Ya! Kenapa kau diam saja?! Dari tadi aku memanggilmu tahu!” ujarnya sembari menarik tanganku.

“Aku dengar. Apa kau tidak lihat aku mempunyai telinga. Dan ini masih berfungsi.” balasku sewot.

“Lalu kenapa kau diam saja?! Kalau orang memanggilmu setidaknya kau menanggapinya!” ucapnya bawel.

“Apa maumu?” tanyaku langsung.

“Mengenai kerja kelompok. Bagaimana kalau nanti sore di rumahmu?”

“Mworago?! Nanti sore? Rumahku? Andwae!! Kenapa mendadak sekali?!” protesku.

“Aku tidak bisa. Kalau hari lain aku tidak bisa.”

“Lalu kenapa harus di rumahku?”

“Baiklah. Kalau begitu di rumahku. Nanti sore kujemput di rumahmu. Arraseo? Dah …” ucapnya tanpa menerima persetujuan dariku.

“Yaa! Donghae-ya! Apa-apaan dia. Aish … menyebalkan.”

Yuri dan Joohyun datang menghampiriku dengan tatapan yang sulit dimengerti. Saling senyum dan menunjukkan gigi mereka seperti kuda.

“Omo .. omo .. lihat yang akan berkencan nanti sore. Aaah~ manis sekali.” goda Yuri.

“Ya, neo .. kalian sudah merencanakan ini sebelumnya, kan? Terutama kau Kwon Yuri! Kau sengaja agar aku berkelompok dengan Donghae, kan?” tuduhku kepadanya.

“Hahah, yang benar saja. Sebelum ada kau, Joohyun tidak jarang berkelompok denganku, ne?” mereka berdua menangguk-angguk. Cih, busuk.

“Gotjimal … sejak kapan kau akrab dengan Joohyun.” umpatku kesal. Candaan macam apa ini?

“Minhyo-ya, kau tidak marah padaku, kan?” tanya Joohyun. “Aniya.” jawabku ketus.

Kulihat Baekhyun sudah datang dan menunggu di depan gerbang. “Sudahlah. Asal kalian tahu saja, ini benar-benar tidak lucu bagiku.” ucapku setelah itu segera menghampiri Baekhyun yang baru datang.

Minhyo POV end

Author POV

Minhyo berjalan bolak-balik layaknya setrikaan. Gadis itu masih tidak yakin akan pergi bersama Donghae nanti. Apa yang akan dilakukannya nanti jika belajar bersama Donghae? Berdebat tentang sesuatu yang tidak penting? Saling lempar buku? Atau terus menyalahkan satu sama lain?

Minhyo membuang jauh-jauh pikirannya yang abstrak itu. Tidak. Bagaimanapun ini hanya sekedar belajar bersama. Tidak ada yang akan dilakukan selain belajar. Ya, benar.

Ini sudah jam 4 sore. Minhyo tidak tahu Donghae sudah datang atau belum. Dan gadis itu belum bersiap sama sekali.  Tapi nanti dia akan tahu jika Ibunya berteriak dari bawah. Oh, tentu, Ibunya. Minhyo teringat suatu hal. Tidak! Jangan sampai Ibunya tahu kalau nanti ada temannya datang. Dan juga jangan sampai Ibunya tahu kalau dia akan ikut tes seleksi. Dia pasti akan mati sebelum lulus sekolah.

Ia kalap mencari baju yang cocok dan buku-buku apa saja yang harus di siapkan. 5 menit kemudian gadis itu sudah siap. Dalam hidupnya, ia belum pernah secepat itu soal bersiap-siap. Biasanya waktunya terbuang dengan memikirkan hal yang tidak penting.

Tak lupa, Minhyo menulis sebuah surat kecil untuk Ibunya. Ia tahu sekarang Ibunya sedang tidur dan sebentar lagi akan terbangun. Maka dari itu, ia tak ingin Ibunya kerepotan mencarinya kemana-mana.

Begitu Minhyo keluar dari rumahnya, ia sudah mendapati Donghae yang terlihat jenuh duduk diatas motornya. “Omo …” pekiknya pelan. Minhyo buru-buru menghampiri Donghae.

“Kau … sejak kapan ada disini?” tanya Minhyo. Donghae menatapnya malas dan memberikannya helm. “Jangan banyak tanya, cepat naik.” titah Donghae.

“Ya .. seharusnya kau klakson atau telepon saja aku! Jadinya kau tidak usah menunggu lama disini.” ujar Minhyo.

“Aish … sudah ratusan kali aku pencet klakson dan puluhan kali meneleponmu satu jam yang lalu Shim Minhyo! Sebenarnya terbuat dari apa rumahmu ini?” omel Donghae kesal.

“Mwo .. menelepon? Jinjja?” Minhyo segera mengecek ponselnya. Dan terdapat 25 panggilan tak terjawab serta 10 pesan masuk. Gadis itu mengetuk kepalanya dengan ponsel. Tapi ia bersyukur, Ibunya tidak terbangun.

Setibanya di rumah Donghae, Minhyo cukup terkejut. “Tidak terlalu buruk, lalu apa yang membuatnya masuk ke Grup 0?” gumamnya pelan. “Nde?” tanya Donghae “A-aniya ..” jawab Minhyo.

Gadis itu berpikir, hanya ada 2 faktor yang mempengaruhi seorang murid masuk ke kelas rendah. Yang pertama, mungkin faktor ekonomi, dan yang kedua, tidak berprestasi sama sekali. Mungkinkah Donghae itu orang yang bodoh? Yang benar saja.

“Annyeong haseyo. Kau pasti Minhyo, temannya Donghae, kan?” tanya seorang Ahjumma dengan ramah. “Ye, Eommonim. Annyeong haseyo.” balas Minhyo sambil memberi hormat. “Kenapa .. dia tahu namaku?” bisik Minhyo pada Donghae.

“Donghae sering bercerita tentang teman-temannya kepadaku tiap malam. Dia juga paling sering menceritakan tentang dirimu.” ujarnya. Minhyo  tertawa garing sambil melirik tajam kearah Donghae “Ahahaha … geuraeyo?” tanyanya sopan sambil berlagak sok manis.

“Ya .. kau ceritakan apa tentang diriku? Awas saja kalau kau menjelek-jelekkan diriku. Hahaha.” bisik Minhyo pada Donghae dengan nada mengancam.

“Donghae pernah bilang, kau ini anak yang sangat manis dan periang. Dia juga pernah bilang kalau dia—“

“Ah, Eomma aku ke kamar dulu dengan Minhyo. Tugas kami sangat banyak.” potongnya tiba-tiba sambil menarik tangan Minhyo menuju kamarnya.

Lagi-lagi Minhyo terkejut melihat suasana kamar Donghae yang begitu rapih. Berbeda dengan kamarnya yang sempit dan juga berantakan. Di sekitar meja belajar juga terdapat beberapa foto. Ada foto Donghae bersama keluarganya, bersama Hyukjae, dan juga foto bersama teman-teman Grup 0.

“Kau tinggal di Grup 0 sejak kelas 1 SMA, ya? Berarti kau juga 3 tahun di Grup 1?” tanya Minhyo.

“Eoh.” jawab Donghae singkat “Apa perbedaannya? Kau lebih suka dimana?” tanya Minhyo cerewet.

“Bukankah kau juga pernah merasakannya?” jawab Donghae malas.

“Ya … aku hanya 2 minggu disana sebelum di masukkan ke Grup 0! Bahkan aku belum mempunyai satu temanpun disana.” keluh Minhyo.

“Sudahlah, jangan cerewet. Cepat kita kerjakan soalnya setelah itu kau pulang.”

“Omo … kau mengusirku? Ya! Lagi pula siapa yang mengajakku kemari?!” bentak Minhyo. Donghae tak meladeni omongan Minhyo.

“Oiya, ngomong-ngomong kenapa Abeoji-mu?” tanya Minhyo karena sedari tadi ia tidak melihat sosok sang Ayah Donghae.

“Dia sudah meninggal.” ucap Donghae santai. Minhyo merasa terkejut dan tidak enak dengan perkataannya “Maaf. Aku turut berduka.” ucap Minhyo penuh sesal.

“Gwenchana. Lagi pula aku masih mempunyai Eomma.” jawab Donghae sambil tersenyum simpul.

“Ne, kau benar. Tapi jika tidak ada Abeoji di samping kita, pasti rasasanya akan berbeda. Sangat berbeda. Kita tidak punya teman untuk mengobrol, bercerita, dan berseda gurau. Aku tahu, rasanya pasti sangat menyakitkat ditinggal orang yang kita cintai.” ujar Minhyo dengan pandangan mata sendu.

“Hahaha … kau berkata seperti itu seolah kau juga anak yatim.” canda Donghae. Minhyo tersenyum kecil mendengarnya, “Memang benar.” ucapnya pelan hampir tak terdengar.

“Nde?” Donghae sedikit terkejut. Itu artinya ia dan Minhyo sama-sama anak yatim. Donghae tidak menyangka, Minhyo menanggapinya dengan senyuman seindah itu. Padahal sendirinya juga ikut merasakan kesedihan yang sama. Berbeda dengan Donghae yang setiap malam selalu menangisi akan kepergian Ayahnya yang sudah lama. Melihat perilaku Minhyo selama ini, yang selalu ceria bahkan tidak jarang membuat onar, tidak bisa dipercaya kalau Minhyo adalah anak yatim. Dan Donghae akui, ia salut dengan ketegaran gadis itu.

Beberapa detik setelah itu, keadaan menjadi canggung. Minhyo melihat kearah Donghae yang nampaknya ingin mengatakan sesuatu. Gadis itu mencuri-curi pandang kesekeliling kamar Donghae. Menantikan namja itu mengatakan sesuatu.

“Aaa … sebenarnya aku …” ucap Donghae malu-malu. Minhyo menoleh kearahnya dan malah makin membuatnya gugup.

“A .. aku ingin … minta maaf.” ujar Donghae cepat pada kalimat terakhir. Minhyo nampak berpikir, minta maaf untuk apa? Oh, kejadian yang waktu itu. Mungkin.

“Maaf karena aku sudah membentakmu. Aku benar-benar menyesal.” ujar Donghae terus-terang. Minhyo tersenyum canggung mendengarnya, “Oh .. gwenchanayo.” ujarnya sambil terkekeh kecil. Entahlah, tiba-tiba Donghae begini terpana melihat wajah Minhyo yang sedikit memerah dengan senyuman kecilnya. Itu membuat Minhyo terlihat begitu manis.

Minhyo merasa risih karena Donghae tanpa sadar menatap Minhyo begitu lama. “Aaa … lalu sampai dimana tadi?” tanya Minhyo memecah keheningan diantara mereka. “Oh, ini tugasnya.” Donghae mengambil sebuah buku tulis dari meja belajarnya.

Tak lama, mereka berdua larut dalam soal-soal matematika yang sangat merumitkan bagi Minhyo ini. Namun tidak sekarang, karena berkat penjelasan Donghae yang sangat amat merinci, Minhyo bisa mengerti sedikit tentang soal itu.

“Sekarang, kau kerjakan nomor 17 ini.” titah Donghae. “Mwo?! Panjang sekali soalnya! Ya … kenapa tidak kau saja?!” tolak Minhyo.

“Tadi kan sudah kuajari. Cepat kerjakan saja!” perintah Donghae. Minhyo pun mencoba mengerjakannya. 10 menit kemudian, minhyo selesai mengerjakan soalnya.

“Bagus. Tapi lain kali kau harus lebih cepat lagi! Nanti ujian akan ada waktunya, yang ada kau malah tidak lulus. Dan juga, jangan lupa hafalkan perkalian. Agar mempermudah saat kau mengerjakan soal. Arraseo?” tutur Donghae bak seorang guru. Minhyo mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ah … ini membuatku pusing. Soal yang lain aku serahkan kepadamu. Yang penting aku sudah mengerti.” ujar Minhyo santai sambil menguap malas.

“Mwo?! Yak! Kalau ingin lulus hapus juga sifat pemalasmu itu!” omel Donghae kesal. Namun pada akhirnya namja itu yang harus mengalah. Donghae sibuk dengan tugasnya dan tugas Minhyo yang harus ia kerjakan, sementara Minhyo hanya bersantai sambil melihat-lihat suasana kamar Donghae.

Ide nakal Minhyo muncul dengan sendirinya, diam-diam gadis itu mengobrak-abrik rak buku Donghae tanpa sepengetahuan pemiliknya. Siapa tahu ada yang bisa dipakai untuk membuka kedok Lee Donghae yang sebenarnya. Minhyo membayangkan jika ia menemukan buku diari Donghae, atau … majalah pria dewasa simpanannya. Itu pasti akan sangat menakjubkan. Ckckck, tapi tidak mungkin pikiran Minhyo sampai kesana.

“Walaupun dia anak yang pendiam, pasti sifat aslinya tidak beda jauh dengan lelaki yang biasanya.” ucapnya pelan tanpa didengar Donghae.

Minhyo menemukan sebuah album foto yang diletakkan di pojok kanan atas rak buku. Sepertinya itu adalah album foto lama, karena sudah sangat berdebu dan terlihat seperti jarang di buka. Letaknya juga seperti sengaja di sembunyikan atau dibiarkan begitu saja.

“Ah, hanya foto biasa.” tanggapnya begitu melihat foto Donghae yang memakai seragam sekolah. Minhyo membuka halaman selanjutnya dan membuat gadis itu shock. Bagaikan diterjang puluhan petir menyambar dirinya. Foto Donghae bersama teman-teman sekelasnya. Namun bukan di Grup 0. Minhyo begitu familiar dengan ruang kelas mewah yang melatar belakangi foto tersebut. Ditambah, Donghae yang sedang merangkul seorang siswa. Cho Kyuhyun.

“Omo …” Minhyo menutup mulutnya tak percaya. Terlihat jelas keakraban diantara Donghae dan Kyuhyun. Gadis itu menepis pikirannya, “Tidak, pasti mereka hanya sekedar berteman.” batinnya dalam hati.

Minhyo semakin dibuat bodoh dengan foto yang ada di halaman selanjutnya. Tidak sama seperti dugaannya. Donghae dan Kyuhyun berfoto bersama. Dan mereka sangat terlihat akrab seperti seorang sahabat. Sekarang ia malah bingung, kenapa keadaan yang sekarang berbeda dengan keadaan 2 tahun yang lalu? Kenapa mereka bisa bersahabat? Dan kenapa mereka bisa bermusuhan? Dan apa pula penyebabnya? Ada apa dibalik semua ini?

“Ya .. kau sedang apa?” tegur Donghae tiba-tiba. Minhyo segera menyembunyikan album foto itu dibalik tubuhnya.

“A-aniya .. ehem .. bisakah aku meminta segelas air?” tanya Minhyo.

“Ne .. jamkanman.” Donghae memandanginya heran. Setelah Donghae keluar dari kamarnya, Minhyo segera mengambil foto Donghae dan Kyuhyun dari album tersebut dan menyimpannya di ransel miliknya.

“Ini … ini tidak mungkin! Bagaimana bisa mereka seakrab itu? Aku harus mencari tahu tentang hal ini.” tekadnya. Ia berpikir, siapa kira-kira yang tahu tentang masa lalu Donghae? Terlintas sosok Hyukjae di benak Minhyo. Ya, gadis itu akan segera menemui Hyukjae.

Kemudian Donghae kembali ke kamarnya dengan segelas air dan memberikannya kepada Minhyo. Gadis itu menegaknya sampai habis hingga membuat Donghae terkejut “Wah, kau sangat haus ya rupanya?” tanya Donghae. Minhyo tersenyum seperti orang bodoh.

“Aaa … Donghae-ya, tadi Eomma meneleponku agar cepat pulang. Bisa aku pulang sekarang?” tanya Minhyo.

“Mwo? Tapi kan—“

“Oh, ayolah … kau ini kan cerdas. Kau saja yang mengerjakan sisanya. Yang penting aku sudah mengerti. Ne? Ne?” bujuk Minhyo padanya.

“Aish, terserahlah. Pasti kau hanya mengada-ada. Bilang saja kalau kau malas belajar. Tapi yasudahlah. Mau kuantar?” tawar Donghae.

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. A .. annyeong.” Minhyo segera keluar dari kamar Donghae dengan terburu-buru. Hal itu sempat membuat curiga Donghae. Namun namja itu segera menepis pikiran itu jauh-jauh.

Author POV end

Minhyo POV

Astaga, aku masih terkejut sekali. Rasanya seperti mimpi buruk. Kepalaku seperti ditimpuk batu kerikil berbobot 20 kg. Rasanya seperti akulah satu-satunya orang idiot di dunia ini. Jika Kyuhyun dan Donghae adalah mantan sahabat, lantas apa yang membuat mereka terpisah dan saling benci satu sama lain? Dan juga, kenapa Donghae tidak menceritakan hal ini kepadaku? Apa dia sudah menganggapnya itu tidak penting?

“Sial. Sudah terlalu sore!” gerutuku kesal. Ini sudah hampir jam 6. Bisa-bisa Ibu memarahiku. Dan aku sedang tidak ingin ribut dengannya. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah. Mungkin untuk mengunjungi Hyukjae, lain kali saja.

Aku berjalan menuju halte bis yang letaknya hanya 20 meter dari rumah Donghae. 15 menit kemudian aku sampai di halte dekat rumahku. Tak jauh dari sana, aku melihat ada seorang pemuda yang sedang duduk dan nampak sedang mabuk. Astaga, padahal baru jam 7 malam, kenapa disaat seperti ini sudah ada yang mabuk? Kalau dia anak sekolah, bisa-bisa ditangkap polisi.

Jarakku dengannya makin dekat. Tergeletak 2 botol bir di dekatnya. Namja itu bersandar di tiang listrik pinggir jalan. Dan ia benar-benar anak sekolahan. Aku mendengar suara racauan-racauannya yang tak jelas itu.

“Brengsek kalian! Beraninya merebut gadisku!!”

Aku merasa seperti mengenal suara itu. Aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Choi Siwon?” pekikku. Astaga, bagaimana bisa ketua Osis seperti dirinya mabuk-mabukan diwaktu senja?! Benar-benar tidak masuk akal.

Ia menatapku dengan tatapan liarnya. Dan itu membuatku sedikit risih. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku padanya “Kau harus segera pulang sebelum polisi melihatmu! Ppali! Kubantu kau mencari taksi!” ujarku sambil membantuny berdiri. Baiklah, walaupun ia pernah bertindak jahat kedapaku, anggap saja aku malaikat baik hati yang berwajah menyebalkan.

“Lepaskan!!” ia menepis tanganku dengan kasar. Omo .. omo … sudah untung dia mau kutolong! Tahu begitu lebih baik aku membiarkannya dipinggir jalan seperti gembel saja!

“Hahaha … kau … Shim Minhyo .. pujaan hati TUAN CHO KYUHYUN!”

“Mworago?!” pekikku. Aish, dia berbicara terlalu ngelantur. Pujaan hati katanya, terlalu gombal -_-.

“Ya! Sadarlah kau sedang mabuk Tuan Choi!” ucapku sembali menampar-nampar pipinya.

“Diam kau pengganggu!!” bentaknya begitu kasar kepadaku. Aku sangat terkejut. Tersirat tatapan marah dan benci dari matanya. Dan itu sedikit membuatku takut. Seakan-akan ia akan membunuhku.

“Kau ini apa-apaan?” tanyaku sedikit takut.

GREP!

Tiba-tiba saja ia mencengkram kerah bajuku dan hampir membuatku tercekik.

“Lep .. lepas .. kan. Choi .. siwon!!” aku memukul-mukul pundaknya keras. Apa dia tidak sadar? Dia itu laki-laki! Dan ototnya itu sangat besar-besar seperti kuda! Dasar namja tidak tahu diri!

“Dengar kau pengganggu! Kehadiranmu itu hanya membuatku susah dan sengsara!! Kau itu seperti hama!! Kau harus ….” ia tak melanjutkan kata-katanya. Lalu ia menghempaskan tubuhku dengan kasar.

“Pergi! Dan jangan muncul dihadapanku lagi!!” teriaknya marah. Aku hampir menangis dibuatnya. Kenapa dia berani memperlakukan perempuan sekasar ini? Memangnya dia pikir aku ini perempuan yang mudah ditindas?

“Minhyo-ya!!”

DEG!

Suara itu, mengingatkanku kepada seseorang. Cho Kyuhyun. Namja itu berlari kearahku dan menatapku dengan khawatir. Sedangkan aku masih diam terpaku akan kedatangannya yang secara tiba-tiba.

“Neo .. gwenchanayo?” tanyanya kepadaku. Ia memegang kedua pundakku dan memastikan aku baik-baik saja. Ada apa dengan namja ini? Jelas-jelas aku sudah membentaknya dengan kata-kata kasar kepadanya waktu itu. Kenapa ia masih berani muncul di hadapanku?

“Siwon-ah!! Sialan kau—“

Aku segera menahan tangannya yang hendak meninju Siwon. “Hentikan. Lebih baik kau mengantarnya pulang!!” larangku kepadanya. Tersirat tatapan marah di matanya. Namun pada akhirnya ia mengalah. Kyuhyun menyetop sebuah taksi dan menyuruh si sopir taksi untuk mengantar Siwon pulang ke alamat yang sudah diberikan.

“Kan sudah kubilang kau antar dia pulang! Kenapa kau membiarkannya sendiri!! Dasar bodoh!!” omelku.

“Kau ini selalu saja. Untuk apa kau mempedulikan orang yang sudah melukaimu!!” balasnya nyolot. Astaga, apa-apaan anak ini?!

“Lalu untuk apa kau mempedulikanku?! Bukankah sudah kubilang jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Pergilah! Aku muak melihat wajahmu!” usirku kepadanya.

Wajahnya terlihat murung dan kecewa. Entahlah, sepertinya aku tidak melihat wajahnya yang seperti ini. “Kenapa kau selalu begini? Apa aku selalu salah dimatamu?” tanyanya lesu.

“Astaga … Cho Kyuhyun-nim, kau lupa apa yang selama ini kau lakukan kepadaku?” tanyaku sinis.

“Aku tidak peduli kau membenciku atau tidak. Tapi kau harus ingat, perkataanku yang lalu itu aku sungguh-sungguh. Aku menyukaimu, Shim Minhyo.” ia mengatakannya dengan raut wajah sungguh-sungguh sambil mencengkram kedua bahuku.

“Omong kosong …” aku memalingkan wajahku. Tatapan matanya membuat jantungku berdetak 10x lebih kencang.

“Kumohon jangan begini. Kau boleh memukulku, bahkan membunuhku. Tapi tolong jangan katakan kau tidak ingin melihatku dihadapanmu lagi. Aku tidak bisa melakukannya, Min-ah.” ujarnya memelas.

Kenapa … ada apa dengannya? Jelas-jelas aku sudah mememakinya terang-terangan. Tapi kenapa kepala anak ini keras seperti batu? Kupikir Kyuhyun sudah menyerah, tapi kenapa dia malah semakin memaksa. Apa dia benar-benar menyukaiku? Ah, itu mustahil. Ayolah Minhyo, jangan mau terperangkap oleh jebakan busuknya itu!

“Terserah padamu. Yang jelas aku benar-benar muak dengan semua kebohongan dan janji palsumu itu!” kulihat dahinya mengerut tanda ia marah.

“Kenapa kau tidak percaya kepadaku? Minhyo-ah, kali ini aku benar-benar serius dengan ucapanku! Aku benar-benar menyukaimu! Kenapa kau sangat membenciku?!” tanyanya emosi. Astaga, namja itu berbicara seolah dia tidak mempunyai dosa apapun kepadaku.

“Namja brengsek. Kau masih berani bertanya kenapa aku membencimu? Bajingan.” aku meninggalkan dirinya dengan berlinang air mata. Tidak, Minhyo kau tidak boleh mempedulikan namja itu.

“Shim Minhyo, kau harus menghapus Cho Kyuhyun dari ingatanmu! Harus!!”

Minhyo POV end

Author POV

Seorang pemuda berjalan dengan tergesa keluar menuju pintu gerbang utama. Tangannya mengepal dengan keras dan urat di sekitar dahinya hampir terlihat jelas. Terpampang ekspresi marah dari wajahnya.

Namja itu berhenti ketika melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan bersama memasuki gedung dengan bergandengan mesra. Tangannya memukul batang pohon dengan keras dan mengucapkan kata-kata sumpah serapah yang ditujukan kepada sepasang kekasih itu.

“Cho Kyuhyun, bajingan kau!” terlihat perasa tidak rela saat Cho Kyuhyun sedang merangkul mesra gadis yang ada disebelahnya.

Namja itu tiba-tiba tersenyum licik dan terlihat menyeramkan “Tapi sebentar lagi kau akan tahu rasanya kehilangan orang yang kau cintai.” kemudian ia melanjutkan langkahnya keluar dari gerbang utama.

Namja yang tingginya sekitar 180-an cm itu menatap sinis kearah seorang gadis dan namja yang sedang mengobrol di depan pintu gerbang belakang. Pintu dimana akses keluar masuk Grup 0 di sekolah.

“I got you … Shim Minhyo.” ucapnya sambil menyeringai.

Setelah namja yang bersama Minhyo pergi, kini tinggal Minhyo dan si namja misterius itu yang berada disana. Minhyo nampak tidak menyadari akan ancaman besar yang akan mendatanginya sebentar lagi.

Namja misterius itu mendekati Minhyo dari belakang. Ia merogoh saku celananya dan muncullah sebuah pisau lipat dari sana. Tinggal satu meter lagi namja itu mendekati Minhyo, namun seseorang menepuk pundaknya dengan tiba-tiba.

Sontak namja itu berbalik dan menemukan seorang gadis berambut panjang di belakangnya.

“Hye .. hyejung-ah …” namja itu terkejut dengan kedatangan Hyejung dengan tiba-tiba itu.

“Siwonie, apa yang kau lakukan disini?”

To Be Continued ……..

HAHAHA!! Author jelangkung—yang hobinya datang tak dijemput dan pulang tak diantar-_-—datang kembali dengan serial jadul School X Fight. Saya harap saya nggak terlambat dan reader(s) nggak keburu bosen sama ceritanya. Maafkan saya yang suka terlambat datang. Karena pulsa modem yang masih ngarat. HAHAHA.

Hayo … kira-kira ada yang bisa nebak apa maksud dari adegan terakhir tadi? Come on baby come on~ feel it baby feel it~ *joget kepiting Like This*. Enggak deng, biasa aja. Ayo … yang bisa nebak dapat ucapan selamat dari author ………… di part selanjutnya. HAHAHAH.

Oiya, aku kan lagi jarang online via pc. Jadinya nggak bakal sempet nongol di blog wordpress. Aku cuma aktif di twitter. Atau kalian yang mau tanya-tanya soal SxF atau kenal lebih deket sama aku #ciyee bahasanya #duagh bisa invite pin bb aku #promosi #cuih 29F08099.

Sekian dulu ngebacotnya, semoga bisa disambung di next part #AMIN. Annyeong~!!! *wush.

Iklan

39 thoughts on “School X Fight [ROUND 7]

  1. kykny Hyejung nyruh Siwon buat mta2in kyuhyun, trz siwon ska ma hyejung. gtu gg thor? yang sabar aja thor klo modem kyk bgtu….. d tunggu chapter 8 y! 🙂

  2. jni kapan lanjutnya? sumpah, aku udah nunggu ini dari awal taun 2013 lho, masa belum dilanjut juga u.u kontak kamu juga gabisa dihubungi? pengen baca lanjutannya lhaaa :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s