School X Fight [ROUND 6]

Title : School X Fight.

Author : Kumiko Kureichi (@Nandalicialicie)

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Shim Minhyo (OC).

Genre : School life, Romance, Comedy.

Rating : PG-13.

Lenght : Chaptered.

Previous : 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Haiiiii!!! Akhirnya ketemu di Round 6!! Wow, sesuatu banget! #eh Penasaran kah siapa yang nolong Minhyo kemaren? Tapi kok pada sok tau sih yang nolong si Kyuhyun-___- #AuthorNyolot Padahalkan ………….

Eh iya, aku juga minta maaf lagi-lagi pending ._.v Maaf juga kalo kependekan. Yaudah, dari pada asal nuduh(?), mending baca aja lanjutannya ^_^ Happy reading yaaa~

—o—

Donghae POV
Ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Joohyun. Ada apa dia meneleponku? Tumben sekali. Tanpa basa-basi langsung ku tekan tombol berwarna hijau.

Yeoboseyo? Donghae-ya! Minhyo belum pulang dari tadi! Eommanya meneleponku. Beliau mengira ia ada di rumahku. Apa dia ada di rumahmu?” cerocosnya langsung.

“Nde? Di rumahku? Eobseoyo.”

Jinjjayo?! Aish, eottokae? Lalu sekarang dia ada dimana, ya? Aku khawatir dia di keroyok preman lagi!” tanya Joohyun gelisah.

“Akan kucari dia. Kau tenang saja Joohyun-ah.”

Arasseo. Gomawo Donghae-ya!

Setelah menutup telepon, aku langsung mencari kunci motorku dan menuju garasi rumah. “Mau kemana Donghae-ya? Sebentar lagi makan malam! Jangan pulang terlalu larut!” tanya Eommaku “Ne, arratta. Aku hanya sebentar.” ucapku setelah itu segera melaju menuju sekolah.

Sudah beberapa menit aku menyusuri jalan menuju sekolah. Namun aku belum menemukan sosok Minhyo. Apa dia masih di sekolah? Cih, dasar gadis aneh! Kutawari tumpangan tadi malah menolak. Sekarang malah menyusahkanku.

“Astaga, apa itu?!” pekikku ketika melihat tiga orang pemuda sedang menyudutkan seorang gadis. Jangan-jangan Minhyo?!

“Andwae!!” aku segera memarkirkan motorku di pinggir jalan dan berlari menuju tempat itu. Tidak! Itu benar-benar Minhyo. Apa yang terjadi? Apa mereka preman yang menghajarnya kemarin?

Salah satu diantara mereka melayangkan pisau lipat kearah Minhyo. Aku hendak menghalangnya namun tiba-tiba seseorang datang terlebih dahulu.

“ANDWAEEE!!!!”

Deg!

Tubuhku membeku seketika. Preman itu menikam seorang pria yang menyelamatkan Minhyo. Mereka segera melarikan diri. Aku melihat tubuh Minhyo yang bergetar ketika melihat darah segar keluar dari perut namja itu. Wajahnya sangat pucat. Dan konyolnya aku masih saja mematung di tempat ini. Apa yang kau lakukan Lee Donghae? Kenapa kau hanya diam seperti seorang pengecut?!

“Min-ah …”

Tidak.

Namja itu … apa yang kulihat barusan. Mereka berciuman, disaat seperti ini, di depan mataku. Seperti ada yang tertusuk di dadaku. Kenapa aku tak bisa bernafas dengan baik?

“Minhyo ..” gumamku pelan. Setelah lama mematung, akhirnya aku tersadar. Aku segera berlari menghampiri Minhyo dan namja-yang-tidak-diketahui-itu.

“Minhyo-ya!!” teriakku. Aku memeluk gadis itu erat. Tubuhnya bergetar hebat. Ia menangis sangat kencang, dan air matanya membasahi dadaku.

“Donghae-ya .. selamatkan dia!!” ucapnya “Ppaliwa!!” teriaknya keras. Ia semakin terisak.

“Cho Kyuhyun?!” pekikku terkejut. Jadi namja yang menolongnya ini adalah Cho Kyuhyun?! Apa-apaan ini? Aku merasa dipermainkan. Kenapa harus dia? Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Aku harus segera menolongnya.

“Arraseo.” aku segera menghubungi 911. Beberapa menit kemudian ambulans datang dan segera membawa Kyuhyun ke rumah sakit yang sudah banyak kehabisan darah.

Dongahe POV end

Author POV

“Min-ah ..” gumam Kyuhyun pelan saat terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Ketika ia sadar, kini ia sudah ada di sebuah ruangan serba putih.

“Minhyo-ya ..” gumamnya lagi. Seorang yeoja berumur 20 tahunan tersenyum di sampingnya. “Kyuhyunie .. ini noona.” ucap yeoja itu. Kyuhyun berusaha bangkit dari tidurnya. Noonanya membantu Kyuhyun untuk merubah posisinya menjadi duduk.

“Gwenchanayo?” tanya Noonanya khawatir. Kyuhyun menangguk pelan

“Kenapa aku bisa disini?” tanya Kyuhyun polos.

Noonanya melotot kesal. “Kenapa bisa ada disini katamu?! YAK!! Ini sendiri akibat ulahmu yang tengil!! Bisa-bisanya kau berkelahi dengan preman lalu kalah hanya karena disutuk dengan pisau! Payah!! Kenapa tidak kau patahkan tangannya saja sekalian, hah?!” omel Noonyanya habis-habisan. Kyuhyun hanya melongo melihat jiwa muda Noonanya yang telah bangkit. Padahal umurnya sudah tua.

“Aish, apa-apaan noona ini?” ucap Kyuhyun kesal “Hehehe, aniya. Aku hanya bercanda. Ini serius Kyuhyunie, untuk apa kau berkelahi dengan preman?” tanya Noonanya penasaran.

“Aniya. Hanya kecelakaan kecil.” jawab Kyuhyun santai “Ish, jinjja. Kau menyebalkan sekali.” ucap Noonanya kesal.

“Tadi siapa yang kau ucapkan?” tanya Ahra “Maksudmu?” tanya Kyuhyun tak mengerti “Sejak tadi kau terus menyebut-nyebut nama ‘Minhyo’ nuguya? Apa dia selingkuhanmu, ya? Hmm? Hmm?” tanya Ahra penuh selidik.

“Aish! Apa-apaan kau ini. Tidak mungkin.” jawab Kyuhyun malas.

“Tenang saja Kyunie, bahkan sampai saat ini aku tetap tidak suka dengan tunanganmu yang manja itu.” ucap Ahra. Kyuhyun tersenyum penuh arti.

~~~o~~~

Minhyo menundukkan wajahnya lesu. Matanya bengkak karena menghabiskan banyak air mata. Wajahnya masih pucat. Ia duduk di bangku taman rumah sakit. Disampingnya ada Donghae yang masih menatap menerawang ke depan. Hati namja itu masih sakit. Kejadian itu selalu terulang di pikirannya.

“Minhyo-ya, sebaiknya kita pulang. Ini sudah malam. Untuk apa kita masih disini?” tanya Donghae dengan suara tertahan. Ia hampir menangis melihat keadaan Minhyo yang memprihatinkan.

Gadis itu hanya diam. Tak menjawab ajakan Donghae tadi. Pikirannya dipenuhi oleh Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun. Ia merasa begitu menyesal, kecewa, dan marah. Sungguh sulit di percaya, orang yang menolongnya adalah musuh besarnya sendiri.

“Kau yang munafik!! Aku tidak perlu belas kasihanmu! Toh, aku juga sudah tahu kau yang melakukan ini padaku!! Kau kejam Cho Kyuhyun!! Kau benar-benar iblis!! Aku benci padamu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu!! Catat itu baik-baik!”

Kata-katanya yang pedas itu sampai menusuk hati Kyuhyun. Kini gadis itu merasa menyesal. Baginya, menyelamatkan nyawanya merupakan ucapan maaf dari Kyuhyun yang selama ini telah menyiksanya. Minhyo dihantui oleh perasaan bersalah.

“Minhyo, ayo kita pergi.” Donghae mengepalkan tangannya. Tak bisa ia pungkiri, ia melihat sendiri gadis yang disukainya berciuman dengan orang lain. Namja berambut hitam itu mencoba menahan amarahnya.

Grepp!

Donghae meraih tangan Minhyo dan menariknya dengan kasar. Genggamannya sangat kuat. Minhyo menatapnya bingung.

“Sampai kapan kau mau disini, hah?” bentak Donghae kasar. Mata Minhyo memanas lagi. Gadis itu mencoba menahan air matanya. Ia tak mau menjadi gadis cengeng lagi.

Mau tak mau gadis itu pun berdiri. Dalam lubuk hatinya ia sangat mengkhawatirkan kondisi Kyuhyun. Apa dia baik-baik saja? Apa dia selamat?

“Berhenti memikirkan namja itu lagi!!” teriak Donghae emosi. Air matanya mengalir begitu saja. Minhyo juga terkejut saat melihat Donghae menangis. Ini pertama kalinya ia melihat Donghae mengeluarkan air mata.

“Dengar, jika aku jadi kau, meskipun ia sudah menyelamatkan nyawaku bahkan hingga ia terbunuh, selamanya aku akan tetap menanggapnya musuh!!”

“A .. apa maksudmu?” ucap Minhyo tercekat.
“Apa setelah kau tahu dia yang menyelamatkanmu kau akan kembali padanya, hah?!!” tanya Donghae emosi.

“Donghae …”

“JAWAB AKU SHIM MINHYO!!” teriak Donghae sambil mengguncangkan kedua bahu Minhyo. Gadis itu terpaku.

“Kenapa kau tanyakan hal itu padaku?” tanay Minhyo pelan.

“Haha .. kenapa katamu? Karena aku tahu kau hanya gadis bodoh yang mudah tertipu oleh siapapun! Kau memang orang yang sok kuat dan sok pahlawan. Tapi hatimu itu lemah! Kau lemah Shim Minhyo! Jangan buat aku menyesal telah menyelamatkannya.”

GLAAARRR!!!

Tiba-tiba petir menyambar. Hujan pun turun dengan deras di malam hari itu. Mengguyur kota Seoul dan sekitarnya. Minhyo pun begitu, air matanya berjatuhan bersama hujan di malam itu.

“Kau bilang … aku lemah?” gadis itu tersenyum getir. Kini emosi masih melanda diri Donghae. Namja itu tak sadar telah mengatakan kata-kata menyakitkan kepada Minhyo.

“Apa kau marah padaku, Donghae-ya?” Minhyo menggenggam lengan Donghae. Namja itu menepisnya dan memalingkan wajahnya.

“Aku tidak marah padamu. Aku marah pada diriku sendiri. Bukan hanya itu. Aku juga cemburu!! Kau tahu, aku begitu khawatir ketika Joohyun meneleponku dan ia mengatakan kau belum ada di rumah. Aku langsung bergegas mencarimu. Saat di sekolah aku melihatmu sedang di kepung oleh tiga orang preman. Saat itu aku sangat takut kehilanganmu, tapi sudah ada namja yang mendahuluiku. Aku … aku marah karena tidak bisa menjagamu dengan benar, aku ….” Donghae tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kini namja itu menangis sesegukan.

Minhyo menatapnya tak percaya. Mungkinkah Donghae melihatnya saat berciuman dengan Kyuhyun?

“Apa kau melihatku …”

“YA! Aku cemburu saat kau berciuman dengan Kyuhyun!! Aku marah!! Hatiku sakit Minhyo-ya. Kau tahu .. aku baru menyukaimu. Tapi kenapa kau …” Donghae tak melanjutkan kata-katanya. Namja itu terlalu sedih, kesal, dan kecewa. Sedangkan Minhyo, gadis itu menangis tanpa bersuara.

“Ya! Kau benar, semua ini memang salahmu!! Salahmu kenapa bisa didahulukan oleh namja laknat itu?!! Kenapa kau begitu lamban Lee Donghae? Apa kau tidak tahu perasaanku sekarang?!! Sekarang aku hancur, aku merasa bersalah padanya. Kenapa baru sekarang …. KENAPA TIDAK DARI DULU SAJA DONGHAE-YA!! JANGAN BUAT AKU MENYESAL!!” Minhyo berlari meninggalkan Donghae yang masih mematung. Tubuh gadis itu menggigil, dan luka di kepalanya terasa sangat perih dan sakit ketka terkena air hujan. Tapi itu tidak sebanding dengan hatinya yang lebih sakit lagi.

~~~o~~~

“Ahjumma, apa kau mau makanan penutupnya?” tawar Baekhyun hati-hati. Namja berusia 15 tahun itu sedang menemani Ibunya Minhyo. Mencegah hal-hal yang tidak di inginkan tidak terjadi.

“Aniya, Baekhyunie. Aku sudah makan malam dua kali.” tolak Ibu Minhyo tegas. Entah sudah berapa kali Baekhyun terus menawarkan makan malam kepada Ibunya Minhyo, walaupun ia tahu sendiri kemampuan memasaknya sangat menyedihkan.

“Aish .. dimana anak itu? Kenapa lama sekali! Awas saja jika dia pulang babak belur lagi, akan ku hajar dia hingga tewas! Lihat saja!” ucap Ibu Minhyo geram hingga membuat Baekhyun bergidik ngeri.

“Apa benar dia itu Ibunya? Kenapa bisa kejam sekali dengan anaknya sendiri?” bisik Baekhyun pelan. Ia mensyukuri mempunyai Ibu yang lembut dan baik hati meskipun dirinya tidak sekolah sampai saat ini.
Ibu Minhyo mendelik tajam kearahnya. Sementara Baekhyun hanya tersenyum memohon ampun.

Cekleek~

Pintu rumah terbuka. Walaupun tidak babak belur, Minhyo pulang dengan keadaan basah kuyup. Keadaannya sangat kacau.

“YAK!! ANAK NAKAL!! Seharian aku mengkhawatirkanmu!! Kukira kau sudah tewas di hajar oleh preman-preman itu! Tapi sempat-sempatnya bermain hujan-hujanan begini, hah?!! YA!! Lukamu itu belum kering!! Bagaimana kalau kenapa-kenapa, hah?!” sembur Ibunya emosi.
Tangan wanita itu melayang hendak memukul kepala Minhyo tapi langsung di halangi oleh Baekhyun.

“Ahjumma, jangan omeli noona. Kasihan! Ampuni dia Ahjumma! Biarkan aku yang dipukul!” ucap Baekhyun minta ampun.

“Terserah! Aku muak dengan kalian!” bentak Ibu Minhyo keras. Wanita itu melangkah kesal menuju kamarnya. Tidak mempedulikan lagi keadaan anaknya yang mengenaskan ini.

“Noona, gwenchanayo?” tanya Baekhyun khawatir. Ia menuntun Minhyo menuju kamarnya.

“Perbanmu harus diganti. Tapi sebelum itu sebaiknya kau mandi. Akan ku siapkan teh hangat.” ucap Baekhyun.

“Tidak perlu.” tolak Minhyo dengan suara bergetar, gadis itu akan menangis lagi “Keluarlah Baekhyunie, aku sedang ingin sendiri.” perintah gadis itu pelan.

“Tapi noona, kau bisa masuk angin.”

“AKU BILANG KELUAR!!” teriak Minhyo. Baekhyun terpaku melihat perubahan noonanya yang sangat drastis. Minhyo menjadi bersikap dingin, pendiam, dan juga cengeng. Akhirnya ia mengalah, namja itu akhirnya keluar dari kamar Minhyo dan menutup pintunya.

Minhyo pun menangis sejadi-jadinya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kenapa kau jahat sekali padaku Donghae-ya? Kau jahat Donghae, kau jahat …” ucap Minhyo sembari terisak.

~~~o~~~

Keesokan harinya, Minhyo memutuskan untuk tetap masuk sekolah. Walaupun kondisi badannya kurang mendukung, tapi kali ini bukan paksaan dari Ibunya. Melainkan kemauan dari dirinya sendiri. Sedangkan Ibunya saat ditemui di ruang makan, wanita itu tak mengatakan apa-apa dan juga tidak menatap Minhyo sedikitpun.

Gadis itu berangkat bersama Baekhyun. Entah rasukan dari setan apa, tiba-tiba bocah lelaki itu sudah ada di depan rumah Minhyo. Tidak seperti biasanya, Minhyo tidak menyapa Baekhyun dengan cerewet. Gadis itu hanya naik di boncengan sepeda Baekhyun tanpa berkata sepatah katapun.
“Noona, apa kau tidak punya mulut? Setidaknya ucapkan terima kasih kepadaku karena sudah mau mengantar jemputmu ke sekolah!” cerocos Baekhyun memecahkan keheningan.

“……”

Baekhyun kecewa, bocah itu mengharapkan setidaknya Minhyo menceramahinya atau mengomelinya.

“Ah, kau masih marah padaku karena tidak ku jemput kemarin? Kalau begitu aku minta maaf, kemarin aku di suruh oleh Eomma untuk ke pasar. Aku sampai lupa harus menjemputmu. Mianhae.” ucap Baekhyun cengengesan.

“Sampai kapan kau akan terus berbicara?” tanya Minhyo dengan nada dingin dan terkesan tajam.

“Ne~ aku jalan.” Baekhyun pun menggoes sepedanya dengan segera.

“Noona, setidaknya ijinkan aku bernyanyi jika aku tidak boleh berbicara, ya?” pinta Baekhyun. Minhyo hanya diam tak menanggapi permintaan Baekhyun.

Miwuhago shipeunde
Dareun saram gyeoteseoh
haengbokhan neoreul boneungeohtdo
jichyuhbeoryeohsseo ijen
Amugeotdo moreunchae neol bonaeya haedduhn nal
Nuhmudo oraen iriraseo neukkimjocha eobjiman
Neoreul jiwooryeo aesseodo bwasseo
Hajiman isseul soo oebneun iringeohl jebal nae gyeohte isseojweo
Dallajin geoseun—

“Hentikan.” ucap Minhyo saat Baekhyun hampir menyanyikan reffnya. Baekhyun menautkan alisnya bingung, kenapa Minhyo menyuruhnya menghentikan lagunya? Apa suaranya fals?

“Kita sudah sampai.” lanjutnya. Minhyo segera turun tanpa di perintah. Gadis itu menyelonong pergi tanpa mengatakan apapun kepada Baekhyun lagi.

“Kenapa dia menyuruhku berhenti? Apa aku salah menyanyikan lagu? Atau suaraku jelek? Ah, mustahil! Aish, harusnya tadi aku menyanyikan Baby Don’t Cry saja!” omongnya sendiri.

Di depan gerbang belakang sudah ada gerombolan siswi yang sedang berbisik-bisik satu sama lain. Mereka terdengar sedang membicarakan masalah Kyuhyun dan Minhyo. Ketika Minhyo datang, mereka langsung memberikan tatapan membunuhnya kepada anak itu.

“Berhenti disitu! Gadis murahan!” bentak salah satu dari mereka. Semua siswi itu mengepung Minhyo dengan membuat lingkaran di sekitar Minhyo. Mereka semua tersenyum licik kepadanya.

“Minggir,” ucap Minhyo malas.

“Kau tidak bisa lari lagi! Kau memang jalang!! Kami sudah tahu kemarin kau mencelakai Kyuhyun dengan menikamnya!! Iya, kan?!!” tuduhnya. Minhyo hanya diam tak menjawab tuduhan siswi tersebut.

“Hah, dasar pengecut!! Jika kau memang membencinya, tapi tidak dengan cara seperti ini!! Memalukan!!”

“Apa setelah ini kau akan membunuh satu persatu Grup 1, hah?!!”

“CUKUP!! Jika kalian tidak tahu kenyataannya sebaiknya kalian diam saja!! Kalian tidak tahu apa-apa!! Sudahlah, sebaiknya kalian jangan cari masalah! Aku sedang tidak ingin ribut dengan kalian.” bantah Minhyo.

“Oh, kau berani melawan kami, hah?!” tantang mereka. Minhyo di dorong hingga gadis itu terjatuh. Mereka mulai melempari Minhyo dengan telur. Namun ada seorang namja yang memeluk tubuh Minhyo, mencoba melindungi gadis itu dari serangan telur-telur itu.

Minhyo tercegang. Matanya membulat, gadis itu mengadahkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang telah melindunginya. Seakan terkena serangan jantung ketika Minhyo melihat Donghae yang sedang melindunginya.

“Dong .. donghae-ya ..” gumam Minhyo. Donghae menarik kepala Minhyo sehingga berada di dadanya. Minhyo masih mematung karena tidak percaya apa yang dilakukan oleh Donghae saat ini.

“YAAA!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!! INI BUKAN DAERAH KALIAN!!!”

“Kyaaaa!!! Namja brutal itu!!! Lariiiii!!!”

Siswi-siswi itu langsung kabur dari tempat itu begitu melihat seorang namja berjaket putih dengan wajah menyeramkannya. Namja itu segera menghampiri Donghae yang basah karena telur-telur mentah itu.

“Ya! Kalian itu mesra sekali! Sudah hentikan. Jangan membuatku iri!” goda Hyukjae. Donghae segera melepas Minhyo dan bangkit.

“Gwenchana? Yakss … kau bau sekali.” Hyukjae menutup hidungnya rapat-rapat ketika mencium bau busuk di tubuh Donghae.
Donghae tak menghiraukan pertanyaan Hyukjae “Minhyo-ya, gwenchana?” tanya Donghae khawatir. Gadis itu hanya bangkit tanpa suara. Ia tak menatap Donghae dan Hyukjae. Hyukjae cukup terkejut melihat keadaan Minhyo yang buruk.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Hyukjae. Tanpa pamit Minhyo segera pergi meninggalkan kedua namja itu.

“YA! Minhyo-ya!” Donghae mencoba memanggil Minhyo tapi tak gubris sama sekali oleh gadis itu.

“YA! Dari tadi kau anggap aku ini apa?!!” omel Hyukjae kesal.

“Berisik!” umpat Donghae. Namja itu segera berlari menyusul Minhyo.

“Minhyo! Tunggu!” Donghae menahan tangan Minhyo. Gadis itu berhenti, tak mengucapkan sepatah katapun.

“Aku .. aku minta maaf karena telah memarahimu kemarin. Aku sungguh menyesal, Minhyo-ya. Tidak seharusnya aku mengataimu lemah. Mianhae.” ucap Donghae menyesal.

“….”

“Minhyo-ya, kumohon jangan begini. Katakanlah sesuatu.” pinta Donghae.

“Kau mau aku mengatakan apa?”

“Apa kau marah padaku?” tanya Donghae langsung. Minhyo tersenyum kecut. Gadis itu menghempaskan tangan Donghae yang masih mengikat di tangannya.

“Kau tanya apa aku marah padamu? Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya kecewa padamu.” ucap Minhyo tegas.

“Kalau begitu maafkan aku.”

“Apa kau hanya bisa meminta maaf? Lalu kau mau aku memaafkanmu, dan kita bisa bersama lagi? Tidak. Sekarang aku tidak selemah dan segampang itu, Lee Donghae. Aku bukan Shim Minhyo yang lemah lagi. Camkan itu baik-baik.” jelas Minhyo dingin. Gadis itu pun berlalu begitu saja.

~~~o~~~

Baekhyun menunggu Minhyo dengan setia di depan gerbang sekolah. Sudah puluhan siswa/siswi yang keluar dari gerbang itu. Namun ia belum menemukan gadis yang dicarinya. Hingga ia melihat seorang namja yang tak asing baginya. Ia segera menghampiri namja itu.

“Hyung!! Hyung!!” teriak Baekhyun sok akrab. Namja itu mengerem motornya tiba-tiba sehingga menabrak sepeda Baekhyun yang melaju cepat.

“YAK! Bisa tidak kau menyetir, hah?!” omel Baekhyun kesal setengah mati. Donghae menatapnya aneh, harusnya ia yang bilang seperti itu. Mimpi apa Donghae semalam kenapa bisa bertemu bocah menyebalkan macam Byun Baekhyun?

“Oke, lupakan. Lagi pula sepeda ini sudah tua. Perkenalkan, namaku Byun Baekhyun. Namdongsaeng Minhyo noona yang paling tampan dan innocent.” ucap Baekhyun percaya diri.

“Namdongsaeng? Marga kalian berbeda.” tanggap Donghae.

“Aaahh~ anggap saja aku adik angkatnya! Meskipun dia tidak pernah menganggapnya sebagai adik. Huh, dia selalu memperlakukanku layaknya sopir pribadinya. Ah, lupakan!” cerocos Baekhyun. Donghae tersenyum kecil melihat tingkah Baekhyun yang hampir menyerupai Minhyo.

“Aku Donghae. Lee Donghae.” ucap Donghae memperkanalkan diri.

“Hmm, jika marganya diganti menjadi Lee Minhyo cocok juga, sih.” gumam Baekhyun pelan. Namun masih terdengar oleh telinga Donghae.

“Nde? Maksudmu?” tanya Donghae.

“Ah, tidak. Kukira kalian berpacaran. Karena aku pernah melihatmu mengantar Noona pulang malam-malam. Jujurlah, kalian habis dari mana? Taman namsan? Sungai han? Atau ke pulau jeju?” pertanyaan Baekhyun makin tidak masuk akal.

“Hey, kau kira kami kencan, hah? Tidak. Kami tidak, emm, berpacaran.” jawab Donghae singkat.

“Oh, sayang sekali. Padahal aku merestui hubungan kalian. Ah, lupakan! Aku jadi lupa ingin menanyakan sesuatu kepadamu!” seru Baekhyun.

“Tanya apa?” tanya Donghae.

“Begini, kemarin Noona pulang basah kuyup. Dan dia tiba-tiba mengomeliku. Apa yang terjadi? Aku yakin kau tahu karena kau teman dekatnya di sekolah, kan?”

Donghae terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Namja itu ragu, apa ia harus ceritakan kejadian sebenarnya?

“Ah, tidak apa-apa. Dia hanya marah karena lama dijemput, lalu ketika aku antar pulang tiba-tiba di tengah jalan hujan.” jawab Donghae berbohong.

“Hmm, benarkah?” tanya Baekhyun memastikan. Bocah ini sempat menaruh curiga kepada Donghae.

“Baiklah. Aku maklumi. Aku yakin masih ada yang kau sembunyikan. Tapi yang penting, aku harap hyung bisa menjaga Noona dengan baik. Kau tahu, ia hanya tinggal berdua dengan Ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal. Dia pasti sangat kesepian. Tapi sifatnya sama sekali tidak berubah seperti yang sekarang ini. Ia tetap ceria dan juga sangat menyebalkan. Kadang sangat nakal hingga membuat Ibunya ingin membunuhnya. Tapi sekarang, aku tidak tahu apa yang terjadi. Ia jadi pendiam. Lebih baik ia memarahiku dari pada terus bersikap dingin seperti itu. Aku mengatakan ini karena aku ingin kau menjaganya dengan baik selama ia di sekolah.”

Donghae terdiam mendengar cerita Baekhyun. Ia sadar Minhyo benar-benar sangat kesepian. Apalagi saat gadis itu di jebloskan ke Grup 0 dan tidak memiliki teman selain Joohyun. Banyak orang yang memaki dirinya. Tapi gadis itu masih bisa sempat melawan. Kini Donghae sadar, Minhyo adalah gadis yang tegar. Walaupun gadis itu mengalami masa sulit, ia masih bisa berbaik hati kepada orang lain. Donghae benar-benar menyesal telah mengatai Minhyo bahwa dia gadis yang lemah.

“Tanpa kau suruh aku juga sudah tahu apa yang harus kulakukan.” ucap Donghae sambil tersenyum.

“Baiklah. Ah! Noona!! Sampai jumpa Donghae hyung! Noonaaa!! Tungguuuu!!!” Baekhyun segera mengejar Minhyo yang sudah berjalan jauh.

~~~o~~~

7 hari setelah kejadian itu. Akhirnya Kyuhyun di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Kini keadaan namja itu sudah membaik. Di dampingi oleh Noonanya, Cho Ahra, kedua orang itu sudah sampai di rumah tercinta mereka.

“Apa Appa dan Eomma ada di rumah?” tanya Kyuhyun. Ahra menggeleng sambil tersenyum lembut.

“Tch, bahkan ketika anaknya terkena musibahpun mereka masih sibuk dengan perusahaannya yang menyebalkan itu. Apa aku harus mati dulu baru mereka peduli denganku?” umpat Kyuhyun kesal.

“Hey, jangan berkata seperti itu! Oiya Kyu, apa aku perlu panggil polisi untuk menyelidiki kasusmu?” tanya Ahra. Kyuhyun menggeleng menolaknya. Namja itu turun dari mobil dan segera membuka pintu rumahnya.

“Surprise!!!”

Sahut seorang gadis tiba-tiba dari dalam. Kyuhyun sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu. Begitu juga dengan Ahra.

“Hye .. hyejung? Kenapa kau bisa ada disini?!” pekik Kyuhyun terkejut.

TBC

huwaaaaa~ kependeka ya? Khusus part ini aku bikin pendek. Kenapa? Gak tau juga sih ._. #duagh kayaknya ceritanya makin ga seru ._. melankolis gimanaaa gitu. Saya juga heran kok jadi cengeng gini -_-. Sudahlah, ff sendiri komen sendiri -__-. Ditunggu komennya memberdeul~ :****
NB: aku tutup akun fb. Jadi cuma post di blog. Mianhae ..
dan username twitterku juga ganti @Nandalicialicie. Follow yah ^^ #promosi

Iklan

12 thoughts on “School X Fight [ROUND 6]

  1. Ping-balik: School X Fight [ROUND 7] | Kumiko Planet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s