School X Fight [ROUND 5]

Title : School X Fight

Author : Kumiko Kureichi (@Kumiikoisme)

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Shim Minhyo (OC), dll.

Genre : School Life, Comedy, Romance.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG-13.

Previous: 1 | 2 | 3 | 4

~~~o~~~

Minhyo POV

Minhyo-ya ..” setitik cahaya putih muncul di hadapanku. Lama kelamaan titik itu mulai membesar, seakan aku diseret kedalam titik yang sudah menjadi lubang itu.

Ayah!!” pekikku saat melihat sosok Ayahku yang telah lama pergi. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya tinggi dan kurus. Dia masih sama seperti yang dulu. Tunggu, kenapa ia memandangku sedih?

Ayah ….. benarkah ini Ayah?!” tanyaku sembari mendekat kepadanya. Sudah beberapa langkah aku berjalan, namun kenapa Ayah makin menjauh? Ada apa ini sebenarnya?

Min-ah, Ayah kecewa denganmu.”

Tap,

Langkahku terhenti. Tubuhku terasa mulai membeku. Dia benar-benar Ayahku. Panggilan itu hanya diucapkan oleh Ayahku.

Min-ah, kenapa kau mengecewakan Ayah?” nadanya terdengar begitu lirih. Ia terus menatapku sedih.

Ayah, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Ayah, kumohon kembali. Pulanglah bersamaku. Jangan tinggalkan aku dan Ibu sendirian lagi. Ayah, kumohon! Jangan pergi lagi!!” teriakku kepadanya. Lagi-lagi tubuhku serasa seperti diseret kebelakang. Lama-lama Ayah makin menjauh. Tidak, kumohon jangan begini! Aku ingin tetap bersama Ayah!!

Ayah!! Aku tidak ingin pergi!! Ayah!! Kembali!! Jangan tinggalkan aku!!”

Min-ah, jangan kecewakan Ayah lagi ….”

AYAAHHHH!!!!”

Tiba-tiba aku terbangun. Astaga … apa aku baru saja bermimpi? Ayahku .. aku barusana mimpi bertemu Ayahku. Kalimat terakhir Ayah terus terngiang di kepalaku. “.. jangan kecewakan Ayah lagi ….” Ayah, selama ini aku tidak pernah mengecewakanmu. Maksudku, meskipun aku berbuat salah, tapi kau tidak pernah sedih ataupun marah. Yang kau lakukan hanya tertawa dan menasehatiku.

Ayah, selama ini kau berbohong kau padaku. Kau tidak pernah bilang kecewa padaku, namun kau hanya menyembunyikannya sendiri. Apa .. ini ada kaitannya dengan masalah di sekolah? Mungkin saja. Karena sejak aku SD, Ayah selalu bertekad ingin memasukkanku ke sekolah yang kini aku tempati jika aku besar nanti. Sebenarnya, sekolahku adalah sekolah impian Ayah. Namun beliau tidak cukup mampu sehingga hanya tamat sampai SMP. Tapi berkat kerja kerasnya, uang yang selama ini ia kumpulkan akhirnya bisa menampungku di sekolah itu. Itu karena Ayah ingin aku menjadi orang yang sukses dan berguna kelak nanti. Menurutnya, jika aku masuk ke sekolah terkenal itu, mungkin saja nasibku bisa sebagus sekolah itu. Namun, kini semua itu hanya sia-sia. Aku masuk ke dalam kelas terendah dan hanya ada 5% untuk menjadi orang sukses. Rata-rata orang yang masuk ke dalam Grup 0 hanya ada kurang dari setengah siswa yang lulus. Hhh, apakah aku salah satunya?

Tunggu dulu jangan bergerak jangan bernafas jangan berkedip!

Kyaa!! Ini dimana?!” rasanya aku tidak bisa bernafas. Kenapa aku bisa ada disini?? Ini bukan kamarku. Aku tidak tidur dengan kasur lipat. Dan …. oh, BAJUKU!! Kenapa aku jadi memakai jaket dan celana boxer?! Dimana seragamku?! Oh!! Ini kacau kacau kacau!! Gawat gawat gawat!!

Ohh .. kau sudah bangun?” tiba-tiba Hyukjae muncul dari balik pintu. Eh, Hyukjae? Tunggu, astaga aku lupa! Kemarin aku habis mengemis di depan rumahnya! Lalu kenapa bisa tiduran disini? Ah, iya. Aku kehujanan. Lalu pingsan, payah.

Kulihat Hyukjae memegang selimut dan bantal. Apa dia mau tidur?

Tunggu sebentar,” ia menjatuhkan selimut dan bantalnya begitu saja. Lalu beralih ke salah satu lemari pakaian dan mengambil sesuatu. Setelah itu ia melemparkan sebuah pakaian ke arah wajahku.

Pakai itu. Itu punya kakakku. Seragammu masih basah. Aku tidak punya baju lain.” aku menatap kaos dan celana pendek yang di lempar Hyukjae. Apa dia ikhlas meminjamkanku? Aish, menyebalkan.

Eeehh!! Hyukjae!! Tunggu!” panggilku. Ia berhenti di depan pintu tanpa menoleh kearahku. “Siapa yang .. mengganti bajuku?” tanyaku gugup. Hyukjae, tolong jangan katakan kalau kau sendiri yang menelanjangiku. Andwaeeee!!!

Hmm, menurutmu siapa? Lagi pula kau sama sekali tak menggoda.” ucapnya singkat lalu meninggalkanku yang terbengong. APPPHHAAAA DIA BHIIILLLAAANGG?!?! KURANG AJARR!!! Itu namanya pelecehaann!!!

Hyukjae sialan!!” umpatku kesal. Aku pun segera mengganti baju ini dengan baju yang ‘lebih layak pakai’. Aish, jaketnya bau sekali! Apa dia tidak pernah mencucinya? Mentang-mentang jaket kesayangan, tapi tidak begitu juga. Eh, ini kan jaket yang biasa ia pakai. Aish, pantas saja!

Tak lama kemudian setelah aku selesai mengganti baju, ada seorang wanita paru baya masuk ke dalam kamar ini. Eh, apa dia Ibunya Hyukjae? Sialan. Aku ditipu. Kalau ada Ibunya disini, kenapa harus si monyet itu yang menggantikan bajuku?

Syukurlah kau sudah sadar. Ini, aku bawakan bubur untukmu. Pasti kau belum makan sejak tadi siang.” ucapnya ramah sembari menyodorkan semangkuk bubur yang masih hangat.

Gamsahamnida ahjumma. Maaf telah merepotkanmu. Aku sungguh minta maaf.” ucapku sambil membungkuk. “Ah, tidak, tidak apa-apa. Sudah, sekarang kau makan yang banyak.” balasnya baik. Omo .. baik sekali dirinya. Ibuku tidak akan sebaik ini walaupun aku sedang sekarat sekalian. Paling ia hanya mengatakan “Dasar anak nakal! Makanya, jangan suka merepotkan orangtua! Ini akibatnya! Sekarang kau malah tambah merepotkanku! Ingat usia Shim Minhyo!” atau “Makan ini! Harus dihabiskan! Aku sudah susah payah membuatnya! Awas kalau sampai tersisa setitikpun, tidak akan kuampuni kau!” aigoo .. berbeda sekali dengan Ibunya Hyukjae . Tapi aku juga kasihan kepadanya, sial sekali punya anak seperti Hyukjae pastinya. -______-

Ibunya Hyukjae tetap menungguku menghabiskan bubur ini. Dia perhatian sekali, dari mana ia tahu aku belum makan sejak tadi siang? Pasti tadi Hyukjae dimarahi habis-habisan olehnya. Hihihi, rasakan itu Lee Hyukjae!

Kau pasti yang namanya Shim Minhyo, kan?” tanyanya padaku setelah aku selesai makan. Ia menyodorkan segelas air putih kepadaku. Dari mana ia tahu namaku?

Tolong maafkan Hyukjae.” ucapnya lirih dengan raut wajah menyesal. Eh, aku tahu anaknya telah berdosa karena membiarkanku seharian diluar tanpa minum dan makan. Tapi apakah harus berlebihan seperti ini?

Eng .. tidak apa Ahjumma. Dia hanya membiarkanku seharian. Bukan satu minggu. Hehehe.” candaku sedikit. Namun yang kudapat adalah raut wajahnya tambah muram.

Iya, aku mengerti. Tolong maafkan kesalahan Hyukjae. Ia telah merepotkanmu selama ini.” makasudnya? Aku tidak mengerti. Sebenarnya Ahjumma ini menyinggung masalah yang mana?

Sebenarnya, aku sudah tahu sejak pertama kali ia dimasukkan ke kelas 3-0.”

Apa?

Ternyata dia menyinggung masalah itu.

Walaupun Hyukjae menyembunyikan semuanya dariku. Tapi kelak pasti semuanya akan terbongkar. Karena satu tahun terakhir Hyukjae makin pendiam di rumah. Akhirnya aku tanyakan kepada Donghae, teman dekatnya, Donghae menceritakan semuanya padaku. Ia bilang padaku Hyukjae diturunkan ke kelas itu karena kesalah yang ia perbuat di sekolah.”

Ahjumma ..” aku tak tega melihat wajahnya yang begitu sedih seperti itu. Perasaanku sama seperti saat aku melihat Ibuku menangis. Rasanya sangat menyakitkan.

Dari awal, aku sudah punya firasat bahwa ia tidak akan bertahan lama di kelasnya. Itu karena ia anak beasiswa. Mustahil ia bisa masuk ke dalam Grup 2 jika ia bukan anak orang kaya. Nyatanya ia hanya anak orang miskin. Namun berkat ia memenangkan kejuaraan baseball, ia dapat beasiswa ke dalam sekolah itu. Awalnya aku sempat menyarankan agar ia memilih sekolah lain saja. Tapi melihatnya begitu sungguh-sungguh, membuatku mengikhlaskannya masuk ke dalam sekolah elit itu.”

Mendengar ceritanya, membuatku kembali bernostalgia saat perjuanganku memasuki sekolah ini. Tidak, perjuangan Ayahku.

Ahjumma .. uljimayo.” aku terkejut saat Ibu Hyukjae meneteskan air matanya. Ini membuat perasaanku seperti tercabik-cabik.

Dan aku dengar, dia sempat terlibat suatu masalah lagi baru baru ini. Pada awalnya ia menyembunyikan semuanya kepadaku. Ia selalu begitu, tidak pernah terbuka dengan siapapun. Bahkan dengan Ibunya sendiri …”

Kini ia terisak. Aku mendekat dan memeluknya “Ahjumma, hentikan. Kau tidak perlu begitu. Aku sudah memaafkan Hyukjae jauh sebelumnya. Uljimarayo ..” ucapku menenangkan.

Suatu hari, Donghae datang ke rumah saat Hyukjae tidak ada. Ia memberitahukan semuanya. Hyukjae terancam di keluarkan. Namun, hukumannya sempat ditunda karena ada kau. Ya .. ia bilang, ada seorang gadis yang rela menggantikan hukuman Hyukjae, bahkan tanpa memikirkan nasib dirinya sendiri sekalipun.”

Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku. Air mata yang sudah kutahan mengalir dengan seenaknya. Rasanya benar-benar menyakitkan, pasti berat menjadi dirinya saat ini. Mengetahui anaknya yang keras kepala masih bisa mempertahankan perasaan Ibunya. Siapa yang tidak iba?

Setiap hari aku mendengar cerita dari Donghae. Ia bilang, semakin hari semakin berat hukuman yang harus kau lakukan. Dan saat itu aku tahu, tak seharusnya kau melakukan semua itu. Harusnya Hyukjae yang melakukan semua itu. Namun dengan senang hati kau menggantikan hukuman Hyukjae. Pada akhirnya, aku bilang kepada Hyukjae, lebih baik kau mengundurkan diri dari sekolah itu dari pada terus menyiksanya.”

Apa?” tanyaku terpaku. Jadi … benar … Hyukjae mengundurkan diri. Bukan di keluarkan?

Tapi Ahjumma, kenapa .. kenapa harus keluar? Bukankah ia masih bisa bertahan di sekolah itu? Kenapa kau membiarkan menyerah begitu saja? Kau sendiri yang bilang Hyukjae yang bersungguh-sungguh. Ia .. ia .. ia masih bisa …” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku. Aku tahu niatnya baik, tapi .. kesempatan itu pasti ada. Aku pasti masih bisa melawan kekeras kepalaan Cho Kyuhyun.

Aku sangat menghargai pembelaan yang kau lakukan. Tapi disamping itu, kau juga harus memikirkan kebaikan semua orang. Bukan hanya Hyukjae, aku juga memikirkan nasib teman-temanmu di Grup 0. Termasuk nasib dirimu. Kau tidak perlu mengorbankan dirimu hanya untuk hal yang sia-sia.” entah kenapa aku merasa marah saat ia mengatakan hal itu. Tapi itu ada benarnya juga.

Kau benar-benar anak berhati mulia, Minhyo-ssi. Aku sangat bersyukur Hyukjae mempunyai teman sepertimu. Aku sangat berterima kasih.” ia membungkuk padaku. “Bibi, sudahlah. Kau tidak perlu seperti itu.” ujarku.

Ibu Hyukjae terbatuk-batuk, aku melihat gerakan dadanya yang tak terkontrol. Wajahnya tiba-tiba pucat. Aku melihat ada darah di sudut bibirnya. Astaga!

Ahjumma, gwenchanayo? Ahjumma!!” lama-lama aku berteriak memanggil nama Hyukjae. Begitu Hyukjae datang, ia kelihatan begitu panik dan segera membawa Ibunya menuju kamarnya. Aku mengikutinya. Hyukjae memberikan sebuah obat kepada Ibunya dan langsung di minum.

Aku menggigit jari-jariku melihat kejadian itu. Ya Tuhan … apa dia baik-baik saja? Kenapa bisa terjadi? Rasanya tubuhku merinding. Aku sangat takut. Bagaimana kalau sesuatu terjadi dengannya?

Tak lama kemudian Hyukjae pun keluar. Aku menatapnya cemas “Bagaimana? Apa dia baik-baik saja? Sebenarnya dia kenapa?” tanyaku bertubi. Namun ia hanya menghela nafas dan mengabaikanku. Aku mengikutinya sampai ruang tamu. Begitu ia duduk aku ikut duduk di depannya.

Bisakahkau berhenti mengikutiku?!” bentaknya. Namun tak ku gubris. Aku tetap menatapnya penuh dengan tanda tanya.

Ia mengidap penyakit kanker paru-paru. Kau paham?!”

Apa katanya?! Kanker? Dengan keadaan seperti ini? Bagaimana cara ia mengobatinya? Ditambah ia dikeluarkan dari sekolah. Aku tidak yakin akan keadaannya.

Hyukjae-ssi, apa beliau sudah di bawa ke rumah sakit?” tanyaku khawatir.

Sudah.”

Jangan bohong! Kau pasti hanya membeli obatnya saja di apotek! Jawab yang jujur! Kumohon, kali ini saja!” pintaku.

Maumu itu apa, sih? Kenapa kau cerewet sekali?!” omelnya lagi.

Hyukjae, apa yang akan kau lakukan setelah di keluar—maksudku, setelah kau mengeluarkan diri?” nadaku mengecil saat mengucapkan kalimat terakhit. Ia terkejut saat aku mengucapkannya.

Rupanya kau sudah tahu,” ucapnya lirih.

Aku bekerja paruh waktu.” lanjutnya.

Mwo?! Dengan ijazah SMP??”

Di kedai sederhana.”

Aku merasa iba mendengarnya. Bagaimana ia bisa mengobati Ibunya dengan pekerjaan seperti itu?

Sudahlah, sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam.” ucapnya sembari beranjak ke suatu tempat.

Apa?!

Sudah ..

MALAM?!

ASTAGA!! HYUKJAE!! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI?!?!” teriakku heboh. Aku melompat-lompat seperti ikan kehabisan oksigen dalam air.

Ini seragammu!” ia melempar kantung plastik berisi seragam kearahku. “Masih basah sedikit. Mungkin besok pagi baru akan kering.” astaga … malam? Bagaimana aku pulang? Ah! Ibu! Astaga … pasti aku akan digantung nanti! Dia pasti marah besar! Dan sebentar lagi Seoul akan dilanda gempa dahsyat.

Eottokkae? Bagaimana aku pulang?” sudah jam 10 malam. Mustahil masih ada bis. Ah, pabo! Lagi pula aku tidak punya sisa uang. Hyukjae mana mau mengantarkanku!

Sudah ada yang menjemputmu.” ujar Hyukjae “Mwo? Nuguya?” tanyaku “Lihat saja.” ucapnya cuek. Aku pun segera beranjak keluar.

Dia …

Lee Donghae?” tanyaku. Aku terpaku melihat sosoknya yang sedang duduk diatas motornya. Kami sama-sama terkejut. Jadi .. Donghae mengantarku pulang? Kenapa aku jadi gugup begini? Kenapa harus Donghae? Beberapa hari yang lalu kami bertengkar. Lalu jadi apa aku nanti? Pasti dia akan menurunkanku di tengah jalan! Andwae!!

Kenapa kau masih disini? Katanya mau pulang?” tanya Hyukjae “YAAK! Apa-apaan kau ini?! Kenapa harus dia? Memangnya kau tidak punya teman lagi selain dia? Kasihan sekali!” tanyaku. Ia menatapku sambil tersenyum jahil “Memangnya kenapa, huh? Lagi pula Donghae juga tidak keberatan. Benarkan?” aku menengok kearah Donghae yang sama kesalnya denganku. Rupanya dia juga telah ditipu dengan siluman monyet satu ini. Sialan, aku ditipu oleh monyet. Ini benar-benar tidak lucu.

Terima kasih. Aku akan berjalan kaki saja.” tolakku sopan. Aku menyelonong meninggalkan mereka berdua. Ah .. kenapa aku jadi gugup seperti ini? Donghae … dia begitu berbeda saat tidak memakai seragam. Begitu dewasa. Ah! Kenapa jadi membicarakan hal itu?! Aish!!

Ya!!” aku melompat terkejut. Tiba-tiba Donghae sudah ada disampingku. Motornya berjalan pelan menyeimbangi jalanku. Astaga .. dia menyusulku! Bagaimana ini??

Minhyo POV end

Author POV

Cepat naik!” titah Donghae kepada Minhyo. Minhyo masih tak mengerti apa yang Donghae katakan. Lebih tepatnya ia tak fokus. Karena ia masih saja gugup saat bertemu Donghae. Bahkan ia tak berani menatap Donghae. Ia takut Donghae akan menanyakan hal itu lagi kepada Minhyo. Seharusnya saat ini Donghae adalah orang yang harus ia hindari saat ini.

YA! Cepat naik!!” paksa Donghae.

Shireo!!” tolak Minhyo. Minhyo mempercepat langkah kakinya. Namun hal itu sia-sia karena Donghae tetap bisa menyusul dengan motornya.

Berhenti mengikutiku!!” omel Minhyo kesal.

Naik atau kutabrak!” ancam Donghae. Akhirnya dengan rasa kesal dan canggung, Minhyo duduk di belakang Donghae. Donghae pun menyerahkan helm kepada Minhyo.

Cepat! Ibuku bisa marah!!” Donghae langsung menuruti apa yang Minhyo perintah. Ia menggas motornya dengan kecepatan penuh.

HYAAKK!! Santai saja!! Kau ingin membunuhku, hah?!” omel Minhyo sambil memukul punggung Donghae.

Kini motor donghae melaju lamban. Perlahan Minhyo tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia bimbang antara minta maaf kepada Donghae atau membiarkannya. Tapi, jika ia tak melakukannya, ia merasa masih ada yang mengganjal di hatinya. Tiba-tiba Minhyo teringat masalah Donghae yang ternyata mantan Grup 1.

Lee Donghae …” sahut Minhyo pelan, disambut gumaman santai dari Donghae “Aku .. aku ingin .. aku ingin minta maaf soal kejadian beberapa hari yang lalu.” ucap Minhyo pelan. Namun masih bisa terdengar oleh Donghae.

Sebenarnya kau benar. Masih ada yang aku sembunyikan darimu. Hanya saja .. aku belum bisa mengatakannya sekarang. Aku … aku masih membutuhkan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Aku minta maaf jika membuatmu kesal. Sebenarnya aku percaya padamu. Aku ….” Minhyo tak tahu harus berkata apalagi. Kini perasaannya sudah lega saat ia sudah mengatakan semuanya. Begitupun dengan Donghae. Ia mengerti walaupun Minhyo masih belum bisa mengatakan yang sejujurnya. Tapi setidaknya Minhyo sudah menjelaskannya.

Untuk beberapa saat tak ada percakapan diantara mereka. Donghae hanya diam, tak membalas permintaan maaf dari Minhyo. Gadis itu mengira Donghae masih marah padanya.

Donghae, kau masih marah padaku?” tanya Minhyo khawatir.

Seharusnya kau yang marah padaku.” balas Donghae dan membuat Minhyo kebingungan.

Aku juga minta maaf. Telah mengataimu murahan. Itu karena aku tidak suka. Karena kau hanya menyimpan masalahmu sendiri dan mengatasinya sendiri. Aku hanya ingin kau tidak menyembunyikan masalahmu sendirian. Lain kali, jika ada masalah ceritakan saja padaku. Pasti akan kudengar.”

Minhyo terpaku mendengar kata-kata Donghae. Baru kali ini ia mendengar Donghae berbicara lembut dan bersahabat kepadanya. Walaupun begitu, Minhyo merasa senang. Karena perlahan Donghae mulai terbuka dengannya. Ia mengulas senyum di wajahnya.

Dimana rumahmu?” tanya Donghae setelah sampai di jalan raya “Lurus saja ikuti jalan. Begitu ada gang yang di sampingnya kedai ddeokbokki, masuk saja.” jelas Minhyo.

Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah sederhana. Minhyo segera turun dan mengembalikan helm Donghae.

Gomawoyo.” ucap Minhyo sambil tersenyum. Kemudian ia membungkuk sedikit dan memasuki rumahnya.

Minhyo-ya!” sahut Donghae spontan. Minhyo terkejut saat Donghae memanggilnya. Ia bertanya dalam hatinya, apa baru saja Donghae memanggil namanya dengan embel-embel -ya?

Minhyo berbalik dan menghampiri Donghae. Laki-laki itu mengacak rambut Minhyo pelan dan tersenyum kepadanya “Jaljayo.” ucapnya singkat. Kemudian ia pun berlalu meninggalkan Minhyo yang masih mematung di tempatnya.

Shim Minhyo … kau pasti bermimpi, kan?” Minhyo memukul-mukul pipinya. Sakit. Ini nyata. Minhyo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasakan wajahnya memanas. Gadis itu lari terbirit memasuki rumahnya.

Ibu ..” Minhyo melihat Ibunya yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu. Tanpa bantal dan selimut. “Apa dia menungguku?” tanyanya pelan. Ia segera mengambil bantal dan selimut dari kamar Ibunya.

Aigoo, kau bisa pegal-pegal kalau begini.” Minhyo mengangkat kepala Ibunya sedikit dan meletakkan bantal di bawahnya. Lalu menyelimuti Ibunya dengan selimut. “Jaljayo. Haha, jaljayo katanya.” Minhyo mengingat ucapan Donghae tadi dan menirukannya. Ia terkikik seperti orang gila dan segera beranjak ke kamarnya.

Author POV end

Minhyo POV

Aku terbangun ketika Ibu menggedor-gedor pintu kamarku. Dengan malas aku membuka pintuku dan tiba-tiba saja Ibuku menyemburku dengan Air dingin.

Huaaahhh!! Ibu!! Dingiiinn!!” aku memeluk diriku erat-erat. Gila! Yang benar saja, bangun-bangun sudah di sembur air es!!

Anak nakal!! Kemana saja kau semalam, hah?! Beraninya kau meninggalkan rumah tanpa pamit!! Kau pasti membolos, kan? Iya, kan?! Hah?!!” ia memukul kaki dan pantatku dengan sapu ijuk.

Aaww!! Aarrghh!! Ibu!! Ampuni aku!! Ampun buuu!!” jeritku kesakitan. Apa dia pikir aku ini anak laki-laki? Bisa-bisanya menyiksa anaknya seperti hewan.

Awas!! Jika kau mengulanginya lagi! Akan kusuruh kau tidur di luar tanpa alas sedikitpun!!” ia melotot kepadaku. Eh, apa itu? Matanya membengkak seperti habis menangis. Apa dia menangis karenaku? Hah, mustahil.

Apa?! Jam setengah tujuh!!” teriakku kalap. Aku segera melesat menuju kamar mandi. Membilas tubuhku dengan apa adanya. Setelah itu mengambil seragamku dari lemari. Lalu mengambil tasku. Tanpa memoles bedak ataupun menyisir rambutku sedikit pun.

Omo … kau seperti orang gila! Jangan keluar sebelum rapihkan dirimu!!” larang Ibu “Aku sudah telat, Bu! Aku berangkat!” ucapku setelah mengambil beberapa kimbab yang ada di meja makan.

Aish .. aku benar-benar harus lari marathon!” gerutuku kesal. Padahal kakiku masih sakit saat di pukul Ibu tadi. Langkahku berhenti ketika melihat seorang bocah yang sedang mengantarkan koran dengan sepedanya.

Baekhyun-ah!!” teriakku kepada anak laki-laki itu. Ia menghampiriku dengan pasrah “Di kejar setan lagi?” tanyanya kesal “Aku telat, bodoh! Ppaliwa!” ujarku.

Ne, arasseo!” jawabnya kesal “Eh, kemarin noona kabur dari rumah, ya?” tanyanya “Mwo? Hey, aku tidak kabur! Tapi dari mana kau tahu itu?” tanyaku.

Dasar. Kemarin Ahjumma menyuruhku untuk mencarimu, tahu! Tapi kucari kemana-mana kau tidak ada. Bahkan Ahjumma sampai putus asa dan menangis. Saat jam tujuh sore ia menunggumu di depan rumah sampai malam. Lalu kusuruh ia masuk dan biar aku yang menunggumu.”

Jadi … Ibu benar-benar menangis? Ibu mengkhawatirkanku? Kenapa aku jadi merasa bersalah begini. Ibu, maafkan aku TT_TT.

Aku tunggu sampai jam 9 malam kau tidak ada. Ya sudah aku pulang.” lanjutnya.

Dasar!” aku menjitak kepalanya pelan. “Aish, appo!” ringisnya.

Lalu semalam noona pulang dengan siapa?” tanyanya lagi.

Nde? Aaa .. nae chingu.” jawabku.

Hah? Namjachingu?”

YAK!! Chin-gu! Dasar budek!” ejaku.

Lalu namja yang semalam itu siapa?”

MWO?! YAK!!! KAU MENGINTIP YAA?!?!”

“Anio. Aku tidak sengaja lihat. Sumpah, noona!” ucapnya.

Awaskau Byun Baekhyun. Beruntung kau mau jadi supirku hari ini. Kalau tidak akan kumakan kau detik ini juga =.=.

“Aku curiga, jangan-jangan kebiasaanmu mengintip ahjumma sedang mandi belum hilang, lagi?”

“Mwoya?! YAK!!”

Aku segera melompat dari sepedanya begitu sampai di depan gerbang sekolahku “Gomawoyo Bacon!!” sahutku. Aku lari terpincang-pincang menuju kelasku.

Minhyo POV end

Author POV

Bugh!

Tanpa sadar Minhyo menabrak pintu kelasnya yang tertutup. “Aish, payah! Kukira dibuka!” gerutunya. Ia pun membuka pintu kelasnya dan,

Bruukk! lagi,

Kali ini ia tidak menabrak pintu ataupun tiang. Melainkan Donghae. Namja yang mengantarnya pulang semalam. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu dengannya disaat seperti ini.

Syuut~

Bagaikan angin berhembus, Donghae melengos pergi tanpa menyapa ataupun sekedar tersenyum kepada Minhyo. Gadis itu memasang tampang idiot.

“Apa yang semalam itu bukan Donghae?” bicaranya sendiri. Tiba-tiba Minhyo mengetuk kepalanya sendiri “Dasar bodoh, yang namanya Lee Donghae ya tetap si namja dingin dan misterius. Aish … ada-ada saja!” Minhyo pun memasuki kelasnya.

Begitu Minhyo masuk ia langsung diserang oleh Joohyun. Gadis itu hampir menabrak Minhyo yang baru datang. “Minhyo-ya!” sahut Joohyun riang seperti anak kecil. “Waaa!” Minhyo kaget dan memasang wajah berlebihan. Tapi kemudian ia langsung bisa mengendalikan dirinya lagi.

“Aish, kau mengagetkanku! Tahu tidak, tadi aku sudah tertabrak 2 kali! Kau mau membuatnya menjadi 3 kali?!” omel Minhyo “Hehe, mianhae. Aku hanya sedang penasaran saja.” ucap Joohyun cengegesan “Kenapa?” tanya Minhyo sembari duduk di tempatnya.

“Dari tadi aku melihat Donghae senyum-senyum terus. Kau tahu, itu adalah fenomena terlangkadi Grup 0! Aku belum pernah melihatnya tersenyum sekalipun! Ya … pernah, sih. Tapi itu senyum palsu. Yah, kau tahu, lah!” cerocos Joohyun.

“…..”

“Ya! Kau kenapa malah bengong??” tanya Joohyun. Ia merasa risih ketika Minhyo menatapnya sambil melongo. Seperti kambing yang belum di kasih makan seharian. Dan juga ayam kesambet.

“Joohyun-ah … sejak kapan kau jadi tukang gosip seperti ini??”

“HYAAKK!!”

~~~o~~~

Dari tadi aku melihat Donghae senyum-senyum terus. Kau tahu, itu adalah fenomena terlangkadi Grup 0! Aku belum pernah melihatnya tersenyum sekalipun! Ya … pernah, sih. Tapi itu senyum palsu. Yah, kau tahu, lah!

Minhyo duduk termenung di taman belakang kelasnya. Tempat ini sangat sepi. Karena tidak pernah ada yang beristirahat kemari. Biasanya, jika jam istirahat anak-anak akan menyerbu kantin atau bermain di lapangan. Atau mengobrol di kelas. Karena di belakang kelas mereka jaraknya lumayan dekat dengan toilet Grup 1. Dan tentu saja mereka harus menjauh dari tempat itu jika tidak mau berurusan dengan Grup 1. Kecuali Minhyo tentunya.

Berita yang disampaikan Joohyun tadi masih terngiang di kepalanya. Tiba-tiba ia teringat peristiwa semalam.

“Ish .. yang benar saja.” gumamnya pelan. Ia meminum milk teanya hingga ludes. Minhyo merasa pikirannya benar-benar kacau setelah kejadian semalam. Suara Donghae yang lembut masih terngiang jelas di telinganya. Dan juga senyuman Donghae yang tulus, seakan membutakan penglihatannya. Lee Donghae benar-benar sukses membuat gadis abstrak ini hancur.

“Sedang apa kau disini?”

Minhyo hampir melompat dari tempatnya saking terkejutnya. Namja yang sedang ia pikirkan tiba-tiba sudah ada disampingnya. Duduk bersamanya dengan milk tea yang sama. Gadis abstrak itu benar-benar sudah mati duduk rupanya!

“Jangan berlebihan seperti itu.” ujar Donghae. Minhyo mengedipkan matanya berkali-kali. Lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Donghae.

“Kau tahu ini tempat terlarang. Untuk apa kemari?” tanya Donghae.

“Kalau begitu aku salah tempat.” Minhyo hendak beranjak meninggalkan tempat itu. Namun di tahan oleh Donghae.

“Sudah. Tidak apa-apa.. Tidak ada yang melihat, kok. Hanya ada kita berdua disini.” Donghae tersenyum kepada Minhyo. Minhyo merasa bulu kuduknya berdiri. Ia merinding saat Donghae mengatakan hal itu. “Memangnya anak itu mau berbuat apa padaku?-_-” pikirnya.

“Eh?” Donghae mencengkram rahang Minhyo dan membuat wajah Minhyo menghadapnya.

“Keningmu … apa karena tertabrak pintu tadi?” tanya Donghae sembari memperhatikan kening Minhyo yang membiru.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Minhyo.

“Sebelum keluar aku hendak keluar, aku mendengar suara ‘bugh’ yang keras. Lalu saat kau buka pintunya kau menabrakku. Kau taruh dimana matamu? Pintu sebesar itu saja tidak lihat!” ejek Donghae.

“Ah … hehehe. Aku sedang terburu-buru.” Minhyo serasa ingin mengubur dirinya sendiri. Itu merupakan pengalaman memalukan yang pernah ia lakukan selama hidupnya.

“Kemarin, untuk apa kau ke rumah Hyukjae?” tanya Donghae tiba-tiba.

“Nde? Aku hanya ingin memastikan suatu hal.” jawab Minhyo.

“Kau sudah tahu kalau dia mengeluarkan diri?” tanya Donghae lagi. Minhyo mengangguk lemas.

“Haaahh .. kau tahu. Aku kecewa ia melakukan hal itu. Apalagi sekarang ini ia sedang susah. Ibunya mengidap penyakit kanker. Pekerjaannya juga tidak membantu.” ucap Minhyo prihatin.

“Ibunya … mengidap penyakit kanker?” tanya Donghae terkejut.

“Ne. Apa dia tidak cerita padamu?” tanya Minhyo. Donghae menggelengkan kepalanya.

“Hyukjae memang seperti itu. Meskipun dia terlihat berandal dan keras kepala. Jika ada masalah, dia tidak pernah menceritakannya ke siapapun. Dan walaupun sedang terlibat dalam masalah, ia masih bisa bersikap menyebalkan.” jelas Donghae.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Minhyo mencoba berpikir akan menanyakan hal apalagi kepada Donghae. Mumpung namja itu sedang baik-baiknya. Ah! Mantan Grup 1!

“Donghae, aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Ya, tanyakan saja.”

“Apa benar dulu … kau pernah tinggal di Grup 1?” tanya Minhyo hati-hati. Donghae tak langsung menjawabnya. Ia memandang langit Seoul yang begitu cerah hari ini. Minhyo diam-diam menatap wajah Donghae yang bersinar akibat cahaya matahari.

“Ya. Itu benar. Apa harus kujelaskan juga kenapa aku bisa masuk kesini?” tanya Donghae balik. Minhyo menundukkan kepalanya.

“Jadi .. itu hanya karena hal biasa. Sama sepertimu. Awalnya aku membela Hyukjae. Hingga aku emosi, dan mengacaukan ruang kepala sekolah. Begitulah.” jelasnya singkat.

“Tapi … bukankah itu berita terheboh saat itu. Kenapa kau sampai tidak tahu?” tanya Donghae kepada Minhyo.

“Jinjjayo? Ah .. dulu aku itu hanya anak biasa. Tidak suka bergosip. Yang aku lakukan hanya bermain bersama kedua temanku di Grup 3. Hahaha. Sepertinya aku kurang update tentang sekolah ini.” jawabnya.

Minhyo merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan Donghae. Ia merasa masih ada yang di sembunyikan dari dirinya. Entah itu antara dirinya dan Cho Kyuhyun atau bukan. Mereka pernah satu kelas, tentu saja ada suatu cerita dibalik semua ini.

“Baiklah kalau begitu, aku ke kelas dulu. Joohyun pasti sudah mencariku. Terima kasih atas waktunya, Donghae-ya.” Minhyo berjalan meninggalkan Donghae. Tapi beberapa meter dari situ, tiba-tiba Minhyo tersandung hingga jatuh.

“Aaaww!” jeritnya. Donghae segera menghampirinya dan membantunya duduk. “Gwenchanayo?” tanya Donghae khawatir “Ne. Hanya luka kecil.” jawab Minhyo.

“Kalau jalan lihat-lihat. Batu sebesar itu apa kau tidak lihat? Aneh, padahal matamu besar. Perlu kuantar ke UKS?” tawar Donghae.

“Jangan. Tidak usah. Biar aku sendiri bersama Joohyun. Haha, sepertinya terlalu banyak yang kupikirkan. Jadinya tidak fokus. Gomawo.” Minhyo bangkit dan berjalan lagi. Donghae tersenyum manis saat gadis itu berlalu.

~~~o~~~

BRAAK!

Kyuhyun membanting pintunya ruangannya kesal. Ia menatap tumpukan kertas yang ada di meja kerjanya. Laporan dari tiap kelas, yang harus ia cek satu per satu. Setelah itu diberikan kepada Choi Siwon, si ketua osis. Kadang ia menyesal menyandang gelar wakil osis di sekolahnya.

Satu jam lagi akan ada rapat osis. Tapi sekarang ini keadaannya sedang sangat kacau. Pikirannya, mental, dan juga hatinya. Semua itu karena seorang gadis yang baru saja memasuki kehidupannya setelah gadis itu menolongnya. Lalu dengan mudahnya Kyuhyun menjebloskan gadis itu ke api neraka. Setelah ia menjadi stalker gadis itu, kini ada sedikit perasaan bersalah kepadanya. Ya, gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Shim Minhyo.

Ditambah, baru saja ia melihat dua orang manusia sedang mengobrol dengan asyiknya di taman belakang grup 0. Gadis itu masih bisa tersenyum di masa-masa sulitnya. Meskipun akhir-akhir ini ia dan Minhyo tidak pernah saling kontak. Tidak ada lagi hukuman yang harus di selesaikan. Toh Hyukjae sudah menyelamatkan gadis itu. Dan kini, tanpa Minhyo, Kyuhyun benar-benar kacau. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Siluet matanya yang tajam, wajahnya yang penuh semangat, dan tampangnya yang bodoh masih tercetak di ingatan Kyuhyun.

Donghae, kini hanyalah namja itulah penghalang baginya. Kini ia tidak tahu harus berbuat apa kepada namja yang pernah mengisi hidupnya itu. Tapi suatu saat, ia pasti akan menyingkirkan namja itu agar bisa mendapatkan Shim Minhyo.

“Tidak!” ujar Kyuhyun tiba-tiba. Ia mengutuk dirinya yang barusaja mengingat sosok gadis itu.

“Tidak. Aku tidak mungkin menyukai gadis konyol itu. Aku tidak boleh.” tekadnya.

Ia membohongi dirinya sendiri yang cemburu melihat Minhyo dan Donghae berduaan di tempat sepi seperti itu. Kalau bukan kencan, apalagi namanya?

Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Kyuhyun memerintahnya masuk. Muncullah Siwon dibalik pintu itu. Wajahnya begitu panik. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Apa kau benar-benar yakin Minhyo tidak akan melaporkan kepada siapapun bahwa akulah pelakunya?”

Kyuhyun tertawa renyah. Disaat seperti ini bisa-bisanya Siwon memikirkan hal konyol seperti itu.

“Tenang saja. Dia tidak mungkin membocorkannya. Kau tahu sendiri ancamanku itu sangat kuat.”

“Tapi bagaimana kalau ia melakukannya? Kau ingat, jumlah mereka lebih banyak.”

“Itu tidak akan terjadi. Tidak ada buktinya.”

“Tapi melakukan pencegahan itu harus, kan? Bagaimana kalau kita singkirkan saja dia?” usul Siwon. Kyuhyun menatapnya serius.

“Singkirkan? Maksudmu? Mengeluarkannya dari sekolah ini? Itu sama saja menggali kuburan sendiri!”

“Tidak. Maksudku … yah, kau tahulah. Menyingkirkan dari muka bumi ini,”

Kyuhyun terlonjak kaget. “Kau gila!! Itu sama saja dengan tindak kriminal!! Kita tidak perlu melakukan hal gila semacam itu!! Kau bisa percaya padaku.”

“Tapi ini demi keselamatan kita berdua!! Ingat, kau juga dalang dari semua ini!! Kau yang menyuruhku untuk melakukan semua ini!!”

“Apa juga mau biaya pengobatan adikmu Jiwon dicabut, hah?!!” ucap Kyuhyun tegas. Siwon melotot. Ia kesal dan marah. Bisa-bisanya Kyuhyun memperlakukannya seperti itu.

“Apa kau lupa siapa yang menanggung biaya sekolah adikmu, dan juga ketika ia sekarat di rumah sakit karena penyakitnya itu?!!” tanya Kyuhyun tegas.

“Brengsek.” umpat Siwon kesal. Ia memijat keningnya frustasi.

“Dengar, kau tidak perlu melakukan hal apapun kepada gadis itu. Yang ada itu hanya akan membuat orang-orang menaruh curiga kepada kita. Aku yakin gadis itu tidak akan mau lagi mencari masalah kepada kita.” jelas Kyuhyun baik-baik.

Siwon tersenyum kecut. Kemudian menatap Kyuhyun tepat dimatanya. “Kau tahu? Kau takut kehilangannya. Kau peduli padanya. Kau menyukainya, Cho Kyuhyun. Dan itu tidak boleh terjadi!” tutur Siwon.

Kyuhyun tak menjawabnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah jendela. “Menyingkirkannya dengan cara apapun. Itu hanya akan sia-sia.” ucap Kyuhyun padanya.

“Sudahlah. Tidak usah mengelak lagi. Aku tahu kau mulai peduli padanya. Dan sebaiknya kau ingin dengan tunanganmu.” sindir Siwon sambil tersenyum sinis. Kyuhyun mengepal tangannya emosi. “Sialan. Dia mengungkit masalah itu lagi.” batinnya dalam hati.

“Kalau kau sudah sadar. Itu bagus. Baiklah, aku pergi dulu.” pamit Siwon.

Author POV end

Minhyo POV

Sial! Sial! Hari ini aku harus pulang telat! Ini gara-gara Kim Seonsaengnim memberiku tugas piket tambahan. Aku harus membersihkan kelas sampai bersih atau aku tidak akan pulang. Dan katanya hitung-hitung untuk nilai tambahan Kimia. Cih, lagi pula apa hubungannya Kimia dan kebersihan? Bilang saja dia sengaja memperbudakku. Cih!

Hari sudah mulai gelap. Dan aku masih dijalan dan jarak rumahku masih jauh. Sial, pasti Ibu akan memarahiku habis-habisan! Apa aku harus lewat jalan pintas? Tentu saja. Kau mau kakimu habis oleh sapu karena Ibuku?

“Syukurlah, tidak ada tanda-tanda preman!” gumamku. Secepat mungkin aku melewati tempat horror itu. Aku terus merasa merinding jika lewat sini. Apalagi mengingat kejadian saat itu. Saat aku menolong si setan keras kepala. Cih, tahu begitu dia tidak akan kutolong! Biar saja ia tewas dihajar oleh ahjuss-ahjussi gila itu. Toh mereka sama-sama gila.

“Mau kemana gadis kecil?”

DEG!!

Sekarang bisa kupastikan jantungku sudah melompat keluar dari tempatnya, bahkan bulu kudukku sudah rontok semua. Tolong jangan katakan bahwa mereka ingin menghabisiku.

“Mau main kemana? Apa kau tidak ingin main bersama kami?”

Oke, ini sedikit melegakan. Mereka terlihat seperti bukan ahjussi. Walaupun wajahnya ditutup oleh topeng. Tapi dari postur tubuh mereka dan suaranya, mereka sepertinya masih sekolah. Sama sepertiku.

Sial! Mereka sengaja menjebakku agar masuk ke jalan buntu! Dan kini mereka makin mendekatiku. Jumlahnya ada 3 orang. 3 lawan 1, itu curang. Tuhan, bantu aku!!

“Ah, kau sangat manis sekali.” salah satu dari mereka mendekatiku. Tunggu, suara itu. Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa? Sungguh, aku seperti pernah mendengarnya.

“Jangan sentuh aku!!” aku menangkis tangannya saat hendak menyentuh wajahku. Ini pelecehan! Aku tidak terima! Seandainya tadi Kim Seonsaengnim tidak memperbudakku, mungkin tenagaku tidak akan seloyo ini. Aku terlalu lelah.

“Oh ayolah. Sebaiknya kita bermain-main dulu, sebelum aku mencabut nyawamu.” ucapnya dengan nada horror dan dingin. Ia dengan cepat mencengkram pundakku dan menyudutkanku ke dinding.

“Lepaskan aku bajingan!!” teriakku kesal. Aku menendangkakinya dengan sekuat tenaga, lalu kabur dari tempat itu. Sialnya aku lupa masih ada dua orang lagi. Mereka menyeretku kembali dan menyuruhku berlutut di depan namja yang tadi hampir menyentuhku.

“Lancang sekali. Kau hanya tikus kecil yang suka mengganggu. Kau itu seperti hama! Yang patut di basmi!!”

PLAKK!

Ia menampar pipiku kasar. Aku meringis kesakitan. Sepertinya keluar darah dari sudut bibirku. Kini ia menjambak rambutku dengan kasar. Ini sakit sekali. Aku mengeluarkan air mataku. Ia menendang kakiku berkali-kali. Dan menghajarku dengan membabi buta. Menendang perutku, lalu menginjak tanganku. Ia juga menamparku hingga berkali-kali.Hingga aku terkapar lemas.

“Sekarang saatnya kau bertemu dengan ajalmu, SHIM MINHYO!!”

Ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Aku bisa melihat persis saat ia melayangkan pisaunya kearahku, sebelum seseorang menghentikannya dan menghajar ketiga preman itu hingga mereka lari terbirit-birit.

“Minhyo-ya, ireona! Minhyo-ya!” ia memanggil-manggil namaku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Namja itu menggunakan topi dan juga kaos putih. Aku seperti pernah melihatnya.

“Minhyo-ya! Jebal, jangan tinggalkan aku!!” kini ia terisak sambil memelukku. Aku tidak tahu persis siapa pahlawan yang menolongku ini. Yang jelas aku sangat berterima kasih kepadanya.

“Go .. gomawo …” ucapku lirih.

“Anio .. harusnya aku yang mengatakan itu. Mianhae Minhyo-ya! Mianhae! Tolong jangan tinggalkan aku!!” ia mendekapku erat. Entahlah … aku merasa sangat nyaman saat ia memelukku. Hangat. Aku belum pernah merasakan pelukan sehangat ini. Sama seperti Ayah memelukku.

“Min-ah …” ia memanggilku lirih.

“Ayah …” ucapku terbata. Setelah itu aku tidak dapat melihat apapun.

Minhyo POV end

Author POV

“Huwaaaa!! Minhyo-yaaaaa … kenapa kau jadi seperti ini?? Ini semua salahku. Maafkan aku Minhyo-yaaa! Huweeeee!!” Hana menangis meraung-raung mendapati temannya terbaring lemah di ranjang kamar Minhyo.

“Sudahlah Hana-ya, jangan menangis terus-menerus! Kau sangat berisik!!” omel Jein yang sedari tadi kesal mendengar raungan Hana yang begitu bising.

“Jein-ah! Apa-apaan kau ini?! Teman kita sedang tak sadarkan diri karena di keroyok preman!! Kenapa kau malah menyuruhku diam?! Apa kau tidak kasihan kepadanya?! Teman macam apa kita ini?! Tidak ada disaat ia membutuhkan pertolongan kita!” bela Hana begitu dramatis dan puitis dengan kata-katanya.

“YA!! Aku menyuruhmu diam karena kau sangat BERISIK!! Minhyo sedang istirahat! Bisa-bisa ia terbangun karena jeritanmu seperti nenek lampir!! Lagi pula jika kau menangis kau tidak membantunya apa-apa.” omel Jein kesal.

“Tentu saja membantu. Membantunya bangun secepatnya.” balas Hana polos.

Pletak!

Jein mendaratkan satu jitakan jitunya di kepala Hana.

“Jein benar. Menangis tak membantu apa-apa. Lagi pula ini semua salahnya Minhyo sendiri. Sempat-sempatnya dia tawuran dengan preman. Dia pikir dia hebat? Hah, keterlaluan.” ucap Ibu Minhyo yang tiba-tiba muncul. Jein dan Hana terkesiap. Mereka memandang heran gadis yang dibawa Ibu Minhyo di sampingnya.

“A-annyeong haseyo. Joohyun imnida. Aku teman sekelasnya Minhyo di—“

Hana dan Jein segera menarik tangan Joohyun. Mereka berdua menyadari suatu hal. Jika Ibu Minhyo mengetahui bahwa Minhyo masuk ke Grup 0, bisa-bisa jadi kacau.

“Ah, Joohyun-ah … akhirnya kau datang juga. Lama tak bertemu, ya? Hehehe.” Jein tertawa garing. Ibu Minhyo menatap kedua anak itu yang sikapnya agak tidak beres.

“Ya sudahlah.” Ibu Minhyo pun meninggalkan kamar Minhyo.

“Hufftt .. syukurlah ia tak curiga!” ucap Hana lega. Joohyun menatap dua gadis abstrak itu kebingungan.

“Aa … joseonghamnida.” ucapnya pelan.

“Ah! Kau pasti teman sekelasnya Minhyo di Grup 0, kan?” tanya Jein. Joohyun mengangguk pelan. Kemudian Jein menjabat tangan Joohyun dengan semangat.

“Gomawo! Jeongmal gomawo! Kau sudah bersama Minhyo selama ia melewati masa sulitnya. Kita berdua adalah temannya saat masih di Grup 3. Kami ingin sekali membantu Minhyo, tapi anak keras kepala itu malah melarangku untuk ikut campur. Tapi ada benarnya juga, bisa-bisa kami berdua ikut ke Grup 0.” ucap Jein panjang lebar.

“Aaa … ne, kalian tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku sendiri juga ikhlas dan senang hati menemani Minhyo. Dia itu anak yang baik.”

“Baguslah. Eh, jamkanman, anak yang baik? Apa kau tidak salah?” tanya Hana melongo.

“Ne, dia anak yang baik. Sangat baik kepadaku.”

“Ah, kukira apa. Aku yakin sikap tengilnya itu tidak akan hilang dari dalam dirinya.” ujar Jein.

“Joohyun-ssi, kumohon kau jangan cerita kepada Minhyo Eomma kalau Minhyo sebenarnya masuk ke dalam Grup 0!” pinta Hana.

“Nde?! Jadi selama ini Minhyo tidak cerita kepada Ibunya?!” pekik Joohyun. Hana dan Jein mengagguk kompak.

“Waeyo?” tanya Joohyun.

“Kau tah sendiri Ibunya itu sangat sadis dan kejam.”

“Ahaha … kalian bisa saja.” canda Joohyun.

“Ngomong-ngomong, namaku Jein, dan dia Hana.” ucap Jein memperkenalkan diri.

“Kenapa Minhyo bisa seperti ini?” tanya Joohyun to the point.

Jein dan Hana saling menatap satu sama lain. Mereka berdua tak tega menceritakan yang sebenarnya kepada Joohyun.

“Kau saja Jein-ah.” ucap Hana pasrah.

Joohyun menatap kedua gadis bersahabat itu dengan heran.

“Jadi Joohyun-ssi .. semalam Minhyo meneleponku. Dan yang bicara bukan Minhyo. Melainkah orang lain. Dan orang itu bilang Minhyo babak belur karena dihajar preman. Akhirnya aku datang ke tempat itu dan menemukan Minhyo terkapar tak berdaya di sebuah gang. Aku sempat melihat orang yang menolong Minhyo itu. Tapi ia berpakaian tertutup. Saat itu ia mendekap Minhyo sangat erat dan aku lihat matanya sembab. Begitu aku datang. Orang itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun kepadaku.”

“Omona … Minhyo-ya, kasihan sekali dirimu. Kenapa dia bisa berkelahi dengan preman? Lalu siapa yang menolongnya?”

“Molla. Aku pikir ini disengaja. Orang itu namja. Tubuhnya tinggi, dan memakai topi dan kaos putih. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Karena di gang itu sangat gelap.”

“Disengaja? Siapa yang tega melakukannya?” tanya Joohyun penasaran.

“Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun? Iblis berdarah dingin itu.” timpal Hana.

“Ne, dia pasti ingin berusaha menyingkirkan Minhyo dengan cara kejam itu.” tambah Jein.

Kyuhyun? Sepertinya tidak. Mana mungkin ia bisa melakukan hal sebodoh itu. Jika ia melakukannya, pasti orang-orang sudah bisa menebak bahwa dia pelakunya. Aku tahu Kyuhyun itu orang yang cerdas. Mustahil jika ia pelakunya.” batin Joohyun dalam hati.

Tanpa sengaja Hana melihat tangan Minhyo yang bergerak-gerak. Ia berteriak kegirangan begitu juga Joohyun dan Jein. Perlahan gadis malang itu membuka kedua matanya. Saat ia sadar, ia menyentuh keningnya yang sedang di perban.

“Dimana aku?” tanyanya dengan suara serak. Joohyun segera memberinya air minum. Minhyo meneguknya sedikit dan bertanya lagi.

“Kau ada di rumahmu. Minhyo-ya, gwenchanayo?” tanya Jein cemas. Minhyo mengangguk pelan. Ia melihat tangan kirinya yang di perban, begitu juga kepalanya.

“Ini … kenapa?” tanya Minhyo heran. Sontak Jein, Joohyun dan Hana terkejut. Mereka mengira kalau Minhyo sedang amnesia.

“Kau … tidak ingat? Semalam kau di keroyok preman hingga babak belur.” ucap Hana keceplosan. Jein menempeleng kepala Hana kesal.

“Oh .. ya. Aku ingat.” jawabnya pendek. Ketiga temannya bernafas lega.

“Kenapa kau bisa seperti ini Minhyo-ya?” tanya Jein.

“Molla … kemarin aku pulang telat. Karena hari sudah sore aku memutuskan untuk lewat jalan pintas. Dan ternyata aku bertemu dengan preman-preman itu.” jelasnya.

“Apa kau mengenali siapa pelakunya?” tanya Joohyun.

“Anio. Mereka bertiga memakai topeng.” jawab Minhyo. Joohyun terkejut “Bertiga?! Kenapa bisa-bisanya mereka mengeroyok seorang gadis 3 lawan 1?! Banci!!” ujar Joohyun kesal.

“Hahaha .. kau ada-ada saja. Tapi … sepertinya aku mengenal salah satu diantara mereka.” ucap Minhyo serius.

“Jinjjayo? Nugu?” tanya Hana.

“Cho Kyuhyun?” tanya Jein lagi.

“Bukan. Bukan dia. Tapi .. yang jelas aku seperti pernah mendengar suaranya. Tapi aku lupa.” jawab Minhyo.

“Kenapa kau bisa yakin kalau pelakunya bukan Kyuhyun?” tanya Jein.

“Entahlah … aku hanya berpikir, ah … tidak mungkin ia melakukan hal itu padaku.” jawabnya.

Joohyun tersenyum tipis, dugaannya benar. Memang bukan Kyuhyun yang melakukannya. Walaupun ia belum tahu siapa pelakunya. Tapi Minhyo pun juga berpendapat seperti itu.

“Eh, kalian tidak sekolah?” tanya Minhyo.

“Babo! Sekarang hari minggu!” Jein menjitak kepala Minhyo gemas. Hingga ia lupa bahwa Minhyo sekarang sedang di perban.

“Akhh! Appo!” ringis Minhyo kesakitan. “Oh! Mianhae, aku lupa. Hehehe.” ucap Jein cengengesan.

~~~o~~~

Hari ini Minhyo memutuskan untuk masuk sekolah. Itu bukan karena kemauan dari dirinya sendiri, melainkan ‘ancaman’ dari Ibunya. Jika Ibunya tidak memerintahnya, mana mau Minhyo repot-repot berangkat ke sekolah.

Dan juga ia diantar oleh Baekhyun. Sopir pribadinya yang setia mengantar jemput Minhyo. Sebenarnya anak itu sangat malas untuk melakukan hal ini, namun karena kasihan Noonanya sedang terluka, ia jadi tak tega membiarkan Minhyo berangkat ke sekolah sendiri.

“Hati-hati ..” ucap Baekhyun saat membantu Minhyo berjalan menuju gerbang sekolah. Minhyo melepaskan genggaman tangan Baekhyun “Sudah, disini saja. Jangan lupa menjemputku! Atau kau akan mati! Arasseo?!” ancam Minhyo. Baekhyun mengangguk malas lalu pergi meninggalkan Minhyo.

Gadis itu berjalan pincang menuju ruangan kelasnya. Ia menggigir bibirnya untuk menahan rasa sakit yang masih terasa di kaki dan perutnya. Wajahnya lebam penuh dengan luka. Kini ia bagaikan hantu yang hendak masuk sekolah.

“Ya!!” tegur seseorang dari belakang. Begitu Minhyo berbalik ia melihat Donghae yang sedang menatapnya tak percaya.

“Annyeong~” sapa Minhyo riang. Donghae menghampiri Minhyo dengan tatapan khawatir.

“Gwenchanayo? Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa begini?” tanya Donghae bertubi. Ia menatap Minhyo dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hancur.

“A .. aku tidak apa-apa. Hanya .. kecelakaan kecil.” Minhyo tersenyum polos.

Tiba-tiba Donghae melingkarkan tangan Minhyo ke pinggangnya. Ia membantu Minhyo berjalan menuju kelas. Melihat tindakkannya, sempat membuat Minhyo terbengong beberapa saat. Donghae mencengkram pundak Minhyo erat.

“Seharusnya kau tidak usah memaksakan diri.” ucap Donghae pelan. Minhyo memperhatikan wajah Donghae yang sangat gelisah.

“Kau sudah berjanji padaku. Jangan suka menyimpannya sendiri. Ceritalah kepadaku.” lanjutnya. Lagi-lagi Minhyo terus menatap Donghae. Memperhatikan wajah, rambut, dan semuanya. Ia meyakinkan dirinya “Tidak. Orang yang menolongku kemarin bukan Donghae. Lalu siapa?” pikirnya.

Sesampainya di kelas, semua manusia yang ada disitu melongo seketika melihat pemandangan aneh yang ada. Rasanya mustahil. Minhyo dan Donghae rukun. Oh, itu bisa saja. Yang baru aneh kalau Minhyo dan Kyuhyun rukun. Dunia akan kiamat.

“Sekarang ceritakan semuanya padaku.” Donghae berlutut dibawah Minhyo. Dan itu sempat membuat Minhyo tambah gugup.

“A .. aku harus mulai dari mana?” Minhyo menggaruk tengkuknya bingung. Donghae menatapnya dalam. Pada akhirnya Minhyo pasrah dan menceritakan semua yang terjadi pada hari itu.

“Kau dalam bahaya, Shim Minhyo.” ujar Donghae. Minhyo mengkerutkan keningnya heran. “Dalam bahaya? Wae? Bukankah urusanku dengan Cho Kyuhyun sudah selesai?” tanya Minhyo heran.

“Tidak. Urusan kalian belum sepenuhnya selesai.”

~~~o~~~

Urusan kalian belum sepenuhnya selesai.

Sampai saat ini kalimat Donghae masih terngiang-ngiang di kepala Minhyo. Minhyo menebak-nebak, apa Donghae menyinggung tentang masalah yang belum ia ceritakan kepada Donghae.

Tiba-tiba gadis itu yakin, kini ada yang berusaha ingin menyingkirkannya. Agar pelaku yang menghancurkan Grup 1 tidak diketahui. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun?

Gadis itu kecewa. Hatinya sakit, seperti ditusuk ribuan bahkan jutaan jarum. Kenapa bisa-bisanya Cho Kyuhyun melakukan hal sebejat itu? Cho Kyuhyun benar-benar pembunuh berdarah dingin. Namja itu sudah gila.

“Apa yang harus kulakuan?” ucap Minhyo khawatir. Perasaan takut itu muncul dengan sendirinya. Betapa mirisnya, gadis itu tahu ada yang membencinya sehingga ingin sekali membunuhnya.

Tanpa Minhyo sadari, ada sepasang mata mengamatinya dari jauh. Orang itu menatap Minhyo dengan iba. Begitu prihatin dirinya saat melihat banyak luka di sekujur tubuh Minhyo. Melihat tangan kiri dan kepalanya yang diperban, banyak luka lebam di wajahnya, serta luka memar di kakinya. Betapa malangnya gadis itu.

“Siapa disana?!” tegur Minhyo saat dirinya menyadari ada seseorang yang memperhatikannya. Gadis itu mendekat kearah orang yang menguntitnya dari tadi.

Tiba-tiba Minhyo tersandung, hingga gadis itu hampir terjatuh. Orang itu segera menangkap tubuh Minhyo sebelum gadis itu jatuh ke tanah. Begitu terkejutnya Minhyo saat ia tahu siapa yang menguntitnya tadi.

“Cho Kyuhyun?!” pekiknya. Minhyo menepis tangan Kyuhyun yang sedang merangkulnya. Ia menjauh beberapa meter dari Kyuhyun.

“Sedang apa kau disini? Ini bukan tempatmu!” bentak Minhyo geram.

Kyuhyun tersenyum sinis dan memandang remeh Minhyo. “Sedang apa katamu? Apa kau tidak salah bicara kepada anak pemilik yayasan ini?” ucapnya enteng.

Minhyo mengumpat kesal. Itu artinya ia tak bisa apa-apa. Saat gadis itu hendak pergi meninggalkan tempat itu, Kyuhyun sempat berbicara sesuatu yang membuatnya tambah kesal.

“Tch, begitu lemah.” ejek Kyuhyun. Minhyo mendelik kesal dan menghampiri Cho Kyuhyn penuh emosi “Apa katamu?!”.

“Sejujurnya, aku kasihan melihatmu. Sudah babak belur, masih bisa berlagak sok benci kepadaku. Disini terbukti, siapa pengecut yang sebenarnya, kan?”

“Sialan kau!!” Minhyo melayangkan tinjunya kearah Kyuhyun. Namun namja itu menahan tangan Minhyo dengan cepat.

“Jangan sia-siakan tenagamu. Kau butuh istirahat yang banyak. Tidak perlu berlagak sok kuat lagi. Kau itu gadis yang lemah, Shim Minhyo. Dasar munafik.” ujarnya merendahkan Minhyo.

“Kau yang munafik!! Aku tidak perlu belas kasihanmu! Toh, aku juga sudah tahu kau yang melakukan ini padaku!! Kau kejam Cho Kyuhyun!! Kau benar-benar iblis!! Aku benci padamu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu!! Catat itu baik-baik!” Gadis itu meninggalkan Kyuhyun. Begitu ia berbalik, air matanya keluar begitu saja.

Ada sedikit perasaan sedih di diri Kyuhyun. Namja itu tersenyum kecut “Tch, begitu kejamnyakah diriku? Apa kau benar-benar tidak bisa berpikirkan baik tentang diriku sedikit saja?” namja itu kecewa. Sangat kecewa. Akhirnya ia meninggalkan tempat itu juga.

Author POV end

Minhyo POV

Punggungku bersandar di dinding pembatas sekolah. Menunggu sopir pribadiku yang jalannya super lelet. Argh, sudah setengah jam aku disini. Kenapa ia belum datang juga? Awas saja kalau sampai ia tidak datang, dia pasti akan habis oleh Ibuku!

“Lama sekali!” gerutuku kesal. Ah, aku menyesal menolak tumpangan Donghae tadi. Tapi kalau Ibu melihatku pulang dengan seorang namja, dia pasti akan murka dan kota Seoul akan hancur seketika.

Aku melirik tangan kiriku yang masih dibalut oleh perban. Ah, jika seperti ini rasanya aku terlihat seperti orang lemah. Menyebalkan sekali. Ditambah luka memar yang ada di sekitar wajahku. Sial, aku benar-benar orang tak berdaya!

Hari sudah sore. Dan gerbang sekolah sudah ditutup. Sial. Apa aku harus menginap disini seharian? Byun Baekhyun, akan kubunuh kau!

Pikiranku melayang kearah namja iblis itu. Apa tadi aku keterlaluan? Apa aku terlalu gegabah menuduh Kyuhyunlah pelakunya? Padahal suara pelaku itu tidak mirip sama sekali dengan suara Kyuhyun. Ah, lagi pula untuk apa aku menyesal. Toh pasti otak dibalik semua ini adalah Cho Kyuhyun.

“Hey! Gadis kecil! Akhirnya kita bertemu lagi!”

Oh,

Tidak.

Tolong jangan katakan bahwa mereka bertiga. Dan mereka preman yang kemarin ingin membunuhku?

“Cho Kyuhyun …” ucapku refleks. Ketiga preman itu tertawa kejam “Hahaha … kau mengira aku adalah Cho Kyuhyun? Begitukah?” apa yang dia bilang barusan? Apa itu berarti dia benar-benar bukan Cho Kyuhyun? Sudah kuduga.

“Toloooongg!!” aku berteriak sekeras mungkin. Mereka bertiga makin mendekatiku dan menyudutkanku ke tembok lagi.

“Percuma. Tidak ada siapa-siapa disini selain kita. Hahahaha!!” mereka tertawa kejam. Lagi-lagi salah satu diantara mereka menodongkan pisau kearahku. Tuhan, aku belum ingin mati! Kumohon beri aku kesempatan lagi!

“Apa yang kalian inginkan?! Kenapa kalian ingin sekali membunuhku, hah?!” tanyaku ketakutan.

“Yang kita inginkan, hah? Aku hanya ingin kau musnah dari dunia ini. Dengan begitu tidak ada lagi si tikus pengganggu!” jawabnya sadis.

“Aku bukan tikus!! Tolong tinggalkan aku!!” pintaku hampir terisak.

“Kami akan meninggalkanmu setelah kau sudah tak bernyawa!!” kata-katanya membuatku merinding.

“Apa … apa yang telah kuperbuat … sehingga membuatmu ingin membunuhku!!” aku berteriak histeris. Kini aku benar-benar ketakutan. Kakiku melemas seketika. Aku benar-benar akan mati ditangan para preman itu.

“Sudah kukatakan kau hanyalah seorang PENGGANGGU!!”

“ANDWAEEEE!!!”

Craaaattt!

Darah segar menyiprat kearah Minhyo. Mata gadis itu terbelalak ketika tubuh seseorang mendekapnya erat. Seakan jantungnya berhenti berdetak. Ia amat sangat terkejut. Sebuah tragedi yang terjadi di depan matanya langsung.

Bruk!

Terdengar bunyi ringan ketika tubuh seseorang ambruk dan terkapar lemah di tanah.

“Sial!!” umpat preman itu kesal. Ketiga preman itu langsung melarikan diri dari tempat itu.

Minhyo masih dalam keadaan shock. Gadis itu melihat seorang pria yang telah menolongnya tadi dengan mendekap erat tubuhnya saat preman itu melayangkan pisau kearahnya.

“An .. andwae …” Minhyo menangis histeris. Ia memeluk tubuh namja itu. Dan memangku kepalanya.

“Min-ah …” namja itu memanggil Minhyo dengan lirih. Minhyo terkejut, suara itu persis seperti orang yang menolongnya waktu itu.

Namja itu menangkup wajah Minhyo dengan kedua tangannya. Wajah mereka semakin dekat. Hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Namja itu mencium bibir Minhyo lembut dan makin membuat Minhyo shock.

Tangan namja itu melemas, ciuman mereka pun terlepas. Ia seperti terkena serangan jantung, ketika ia tahu orang yang menciumnya itu.

“Aniya …”

“Minhyo-ya!!” tiba-tiba Donghae datang menghampiri Minhyo yang masih terpaku. Namja itu sama terkejutnya dengan Minhyo.

………….

Tenang, kali ini beneran TBC kok. Kalo nggak mau dikerjain lagi, makannya WAJIB RCL!! #maksa #yaudahsihsepele #kabur

Panjang banget ya? Apa biasa aja? ._. kalo gak salah ini sekitar 23-26 halaman NeoOffice ._.v. Hampura kalo kepanjangan, hampura deui lamun kapondokan #brokensunda #abaikan.

Saya nggak bisa janjiin kalo next part bakalan cepet beres yaaaa … soalnya tergantung mood dan ide yang muncul #halah #sepik #duagh

Kalau mau tanya-tanya, silahkan mention ke @Kumiikoisme #ciyeee #promosi #duagh

Gamsahamnida ^^

Iklan

27 thoughts on “School X Fight [ROUND 5]

  1. Ping-balik: School X Fight [ROUND 6] | FFindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s