School X Fight [ROUND 4]

Title : School X Fight.

Author : Kumiko Kureichi (@Kumiikoisme)

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Shim Minhyo, dkk.

Genre : School Life, Comedy, Romance.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG-13.

Previous : 1 | 2 | 3 |

Annyeong~ Hwaa~ udh ronde ke 4(?). Nggak kerasa ya? *kerasa banget lageee -.-* Hohoho, penasaran ga? Saya sendiri bingung mau dibuat apa ini FF, LOL. Tapi enggak deng, cuma bercanda. Eh, tapi seriusan ni. Saya dilanda bingung akut. Abaikan saja. Permintaan saya nggak banyak, hanya baca FF ini, dihayati, lalu diberi komentar, jangan lupa like kalo suka, jangan bashing, dan jangan lupa puji authornya yang cantik ini –V #duagh *kebanyakan kali -.-“* No bacot, cekidot!

~~~o~~~

Minhyo POV

“Aku hanya ingin kau.”

“Mwo? Apa maksudmu?!”

“Aku hanya ingin kau, Shim Minhyo.”

“Orang gila!” Apa maksudnya? Menginginkanku. Apa maksudnya ia mau memakanku, atau membawaku pulang ke rumahnya lalu dijadikan pajangannya? Aish, aku tidak mengerti. Jangan tanya kenapa karena jawaban yang pasti hanyalah ‘Karena Shim Minhyo adalah gadis bodoh’.

“Aku tidak gila. Kau yang gila.”

Doeeengg~

Masih berani pula dia mengataiku gila. Dasar namja ababil. Maksudku, labil. Maksudku abstrak. Ah, terserahlah. Apapun itu yang penting Cho Kyuhyun itu tetap namja yang sulit dimengerti dan menyebalkan.

“Lalu apa maksudmu?” tanyaku kesal dan geregetan. Oh, tuhan, andaikan saja kau menghalalkan daging seekor Cho Kyuhyun. Akan kumakan ia hidup-hidup sekarang juga.

“Kau itu bodoh atau apa. Tadi kan aku sudah bilang. Aku menginginkanmu.”

“Lalu?”

Ekspresinya? Gubrak!

Tiba-tiba ia memasang wajah setan. Eh, salah, dia memang berwajah setan. Ia perlahan mendekatiku. Aku pun spontan melangkah mundur menghindarinya. Hingga akhirnya aku terpojok di dinding. Tangan kanannya berada di samping kepalaku. Wajahnya mendekat ke wajahku. Omo omo omo~ dia mau apa? Apa dia belum makan?

“Jadilah—”

BRAKK!!

Yang jelas itu suara pintu menjeblak terbuka. Dan orang yang telah membukanya dengan kasar itu adalah Lee Donghae. Lagi-lagi mereka bertatapan sengit. Ah! Aku teringat kejadian kemarin! Tentang ‘Donghae mantan anggota Grup 1’. Apa ada kaitannya dengan Cho Kyuhyun. Tentu ada! Tapi aku tidak tahu.

Tanpa bersuara ia menarik kerah kemejaku dan menyeret menjauh dari tempat itu. Hey, aku sudah seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan saja -_-. Astaga, sepertinya semua orang akan dengan senang hati memperlakukanku seperti bukan perempuan. Oke, terimalah takdir naasmu ini Shim Minhyo.

“Hyaaakk!! Yaaakkk!! Lepaskan aku!! Lee Donghae!! Kubilang—aaakkhh!” aku meringis ketika ia melepaskan tangannya dari kerahku kasar. Omo … aku hampir tercekik. Namja ini benar-benar kasar. Apa tidak bisa lembut sedikit dengan perempuan. Oke, mungkin ia menganggapku laki-laki. Lupakan. Never mind. Arrrgghh!

“YA! Apa yang kau lakukan?!” bentakku kesal “Kenapa kau malah kesana sendiri?!” tanyanya dengan nada emosi “Hey! Aku tidak—aish, tadi aku benar-benar ke toilet. Dan segerombolan gadis menyeretku ke ruangan itu. Sungguh, aku tidak berbohong.”  jawabku jujur walaupun agak sedikit malas.

“Lalu apa yang kalian lakukan di dalam tadi?” tanyanya pelan hampir tak terdengar.

“Mwo? Kau ini bicara apa Donghae-ssi? Kenapa menanyakan hal seperti itu?” tanyaku sambil tertawa kecil.

“Jawab saja pertanyaanku!!”

Aku terpaku melihat matanya yang menatap tajam mataku. Lee Donghae, sebelumnya ia tak pernah bersikap setegas ini. Ada apa dengannya? Apa dia mempedulikanku? Cih, itu hanya mimipi. Bahkan sampai dunia kiamatpun seorang Lee Donghae tidak akan mempedulikan Shim Minhyo. Kepalanya itu kan seperti batu marmer #eh.

Tiba-tiba aku mengingat perkataan Cho Kyuhyun beberapa waktu lalu.

“Seharusnya kau tahu dari sekarang, aku bisa saja menjadi satu-satunya yang berada di sekolah ini.”

“Apa? Melaporkan semua ini kepada kepala sekolah? Shim Minhyo, kau lupa siapa anak pemilik yayasan sekolah ini??”

Astaga, Cho Kyuhyun. Kenapa setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu itu sangat penting?

Tidak tidak, jika aku menceritakan itu semua kepada Lee Donghae. Menceritakan Choi Siwon adalah pelakunya, lalu Kyuhyun dalang dari semua ini. Bisa saja menambah satu korban lagi di Grup 0. Sebaiknya aku tidak menceritakan ini kepada siapapun. Terutama Lee Donghae. Aku khawatir jika ia memberi perhitungan kepada Cho Kyuhyun. Dan semuanya akan hancur lagi.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya menyadarkanku dari lamunan.

“Ah, aniyo. Dia tidak bilang apa-apa.” jawabku berbohong. Ia menatapku penasaran “Jinjja? Kau pasti berbohong.” tuduhnya. Ayo berpikir Shim Minhyo, berpikirlah! Buat Donghae agar percaya denganmu! Astaga kenapa otakku beku sekali?

“Ng .. dia hanya bilang besok aku harus membersihkan seluruh toilet Grup 1. Lalu aku menolaknya mentah-mentah. Dan ia mengancamku …” ucapanku terputus karena kehabisan ide. Astaganaga .. Shim Minhyo babo. Kenapa kau harus mengatakan hal itu juga? Sama saja menggali lubang kuburan sendiri.

“Mengancammu apa?” tanyanya penuh selidik “Pokoknya begitulah! Kau ini kenapa sih? Apa kau mengkhawatirkanku, hah? Hahaha!” aku tertawa garing. Tapi itu berhasil membuat wajahnya sedikit memerah. Omo~ kyeopta! Jarang-jarang dia seperti itu. Wajahnya yang seperti itu langka di pasaran. Limited Edition.

Demi apapun, aku sangat berterima kasih dengan bel terakhir. “Ah, waktunya pulang. Aku harus segera membantu Ibuku. Annyeong Donghae-ssi~” aku segera melesat meninggalkannya. Hey, lagi pula sejak kapan aku senang membantu Ibuku? =.=”

~~~o~~~

Morning 06.45 am.

“Shim Minhyo!! Kenapa kau lama sekali?! Temanmu sudah menunggu dari tadi!!” teriak Ibu dari ruang tamu. Suaranya membahana sampai ke pelosok dunia.

“Ne! Sebentar lagi!!” balasku.

Daaann .. yup! Beres sudah tatanan rambutku. Hey, jangan mengira aku gadis genit -.-, aku memang hobi mengganti-ganti model rambut setiap hari. Entahlah kenapa itu menjadi ritual rutinku setiap pagi. Yang jelas aku diajarkan teman kecilku. Kalian tidak perlu tahu namanya, kan?

Ah, sudah berapa lama kira-kira Joohyun menungguku? Sepertinya terlalu lama. Akupun beranjak dari kamarku menuju ruang tamu “Mian Joohyun-ssi membuatmu menung—”

Tas yang berada di tanganku jatuh seketika. Kalian tahu? Slow motion mode:on. Tunggu, sejak kapan Joohyun bertransformasi menjadi setampan ini? Oh, tidak. Dia bukan Joohyun. TUNGGU. Apa tadi yang kukatakan? Dia. Bukan. Joohyun. Seo Joohyun. Oh, ya. Tentu Joohyun kan yeoja. MWOOO?!?! YEOJA?!?!

“Hyaa~!! Siapa kau?!” tanyaku marah. Namja itu berbalik dan ia tersenyum padaku. Oh, tunggu. Jangan katakan aku amnesia! Dia benar-benar bukan Joohyun! Maksudku! Kau tahu siapa namja yang ada dihadapanku ini?! Seseorang yang sangat amat kubenci di dunia ini! Bahkan aku ingin sekali memakan daging segarnya!!

Minhyo POV end

Author POV

“Kenapa kau diam saja? Kalau kau sudah siap sebaiknya kita cepat. Bisa-bisa kita terlambat, Minhyo-ya~” ia menekan kalimat “Minhyo-ya” dan berhasil membuat gadis itu terkejut seperti orang tersambar petir.

“Mwo? Mwoya?! Apa katamu?! Kau memanggilku apa barusan?! HYAAKK! Beraninya kau kurang ajar padaku!! Untuk apa kau kemari hah?! Pergi dari sini!!” Minhyo memukul Kyuhyun dengan tas ranselnya. Sementara Kyuhyun hanya bisa merintih kesakitan.

“Aw! Aw! Ya! Minhyo-ah! Ampun! Ya! Kau seharusnya tidak melakukan ini padaku! Nanti kalau ibumu tahu bagaimana?!” tanya Kyuhyun sambil mencoba menyelamatkan dirinya dari hajaran sakti Shim Minhyo. Minhyo membanting tasnya ke lantai dengan kesal.

“Apa?! Lagi pula untuk apa kau kemari?! Kau ingin membuat hidupku lebih sengsara lagi, hah?! Kau ingin menyiksaku lagi, hah?! Apa kau belum puas menyiksaku selama ini, hah?! KAU MENCARI MASALAH DENGANKU CHO KYUHYUN!!!”

Matanya melotot kepada Kyuhyun. Nafasnya terengah-engah. Tapi Kyuhyun hanya menanggapinya dengan santai “Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu terhadapku? Apa dimataku ini aku adalah seorang bejat?”

“Benar! Dan kau mungkin lebih dari itu! Kau bukanlah manusia! Kau sangat amat jahat! Kau gila Cho Kyuhyun! KAU GILA!!” Kyuhyun 100% cengo saat ini.

Minhyo melangkah kesal meninggalkan Kyuhyun di rumahnya. Ia bahkan mengabaikan mobil mewah Kyuhyun yang sudah bertengger di depan rumahnya disana sejak tadi. Kyuhyun tak tinggal diam. Ia segera mengejar Minhyo dan menarik tangannya.

“Ya! Kau mau kemana?! Aku sudah menyiapkan mobil untukmu. Sebaiknya kita berangkat bersama. Atau kau ingin naik bis? Itu tidak apa-apa. Asal kau bersamaku.” cegah Kyuhyun sambil memegang tangan Minhyo erat.

“Aku tidak akan menaiki mobil mewahmu itu ataupun bis! Lepaskan aku Tuan Cho!! Lebih baik aku naik kura-kura saja dari pada harus bersamamu!!” Minhyo menginjak kaki Kyuhyun dengan sekuat tenaga sehingga berhasil melepaskan diri darinya. “Aaarrgghh!! Shim Minhyo!! Kembali!!” teriak Kyuhyun. Minhyo tetap berlari kencang menjauhi Kyuhyun.

“Ah! Itu dia! Bacon!! Bacon!!” Minhyo memanggil-manggil seorang anak laki-kaki yang sedang mengendarai sepeda dengan tumpukan koran di keranjangnya. Anak itu segera menghampiri Minhyo “Aish!! Noona! Berhenti memanggilku seperti itu!!” omel anak bernama Baekhyun itu “Kalau begitu jangan panggil aku Noona! Cepat antarkan aku ke sekolah! Ppaliwa!!” Minhyo segera duduk di belakang Baekhyun “Ada apa? Kau seperti dikejar setan!!” tanya Baekhyun “Memang setan beneran! Ppaliwa!!” Baekhyun segera menggoes sepedanya dengan kecepatan turbo.

“Yaaak!! Shim Minhyoooo!!” Kyuhyun membungkukkan badannya. Nafasnya tersenggal. Keringat bercucuran dari dahinya. Itu karena ia tak bisa berlari-lari seperti itu. Tentu saja karena dia bukan atlet!

“Sialan!! Gadis macam apa dia?! Bisa-bisanya berbuat seperti itu!!” ia menggerutu sendiri. Bahkan ia tak menyadari Siwon datang menghampirinya dari dalam sebuah mobil mewah.

“Ckckck, hanya menjinakkan satu kucing liar saja susah. Bagaimana jika segerombol kucing liar?” sindirnya kepada Kyuhyun. Yang disindir menatapnya sinis “Huh, memangnya kau bisa?” tanya Kyuhyun menantang.

“Kau itu bodoh atau apa? Sudah kubilang jangan terburu-buru. Satu hal baru yang kau harus tahu. Shim Minhyo tidak pernah berangkat ke sekolah dengan kendaraan apapun.” jelas Siwon.

“Wae?”

“Mollaseo. Mungkin dia tidak punya ongkos?” jawab Siwon asal. Kyuhyun tertawa kecil “Tch, mustahil. Dia tak semiskin itu. Pasti ada alasannya. Kau benar. Sebaiknya aku mencari tahu lebih dalam asal usulnya.” tekadnya. Siwon mengkerutkan keningnya dan mengangkat kedua bahunya tak peduli “Kita bicarakan saja itu nanti. Sekarang naiklah. Apa kau mau dihukum karena telat?”

“Hah … tidak ada yang bisa mengeluarkanku.”

Author POV end

Kyuhyun POV

To: Cho Minhyo

Chagiya~ aku tahu kau terburu-buru dan itu tak masalah. Tapi kau tidak bisa menolak tawaranku yang kali ini. Pulang sekolah kutunggu di gerbang belakang. Kau seharusnya bersyukur hari ini tidak kuberi pekerjaan. Ne? :*

From: Cho Minhyo

Demi apapun aku muak denganmu!

Aku tersenyum sendiri melihat pesan yang baru saja kukirim. Ah~ Shim Minhyo. Gadis itu benar-benar berbeda. Demi apapun, aku harus bisa mendapatkannya. Dia tidak boleh jatuh ketangan manapun!

Aku terus berjalan hingga sampai di taman ‘khusus’ Grup 0. Biasanya aku menemukannya disini sedang menyendiri. Entah apa yang kami lakukan jika bertemu. Biasanya hanya berdebat atau apalah. Tapi kuyakin kali ini tidak.

“Apa-apaan ini?!” pekikku pelan. Aku tidak hanya melihat anak itu. Tapi juga Shim Minhyo. Sedang apa mereka berdua disini? Sialan! Jangan bilang gadis itu mencoba mendekatinya? Atau mengadu kepadanya tentang semuanya. Ah, tidak mungkin. Aku berani jamin ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

“Kau masih berhutang cerita padaku. Aku tahu kau berbohong.” katanya tajam sambil memegang lengan Minhyo kuat. Ia mengerang kecil “A .. aku benar-benar tidak bohong Lee Donghae! Semua yang kukatakan kemarin  itu benar!!” jawab Minhyo gemetar. Mengatakan apa? Apa dia mengatakan yang sebenarnya?

“Kau pasti bohong. Cho Kyuhyun pasti mengatakan sesuatu yang lebih penting dari itu! Pasti ada kaitannya dengan hukuman Lee Hyukjae itu, kan?!” tuduhnya “Kau ini bicara apa?! Kenapa kau tidak percaya denganku?!”

“KAU YANG TIDAK PERCAYA DENGANKU!!!”

Sudah lama aku tak melihatnya sekeras ini. Yang terakhir ketika ia melawanku setahun yang lalu. Ia melakukan hal yang sama dengan Shim Minhyo. Ia membela Lee Hyukjae mati-matian karena telah menghajarku hingga hampir babak belur. Dan pada akhirnya mereka berdua yang dijebloskan ke Grup 0. Tapi jujur, itu memang prosedur dari sekolah. Dan aku senang saat ia terkena hukumannya. Aku membencinya sampai kapanpun.

“Kau bahkan tidak bisa berkata jujur padaku karena tidak mempercayaiku!! Kau lebih memilih si brengsek dari Grup 1 itu!! Akibatnya kau sendiri yang di jebloskan kesini!! Kau terlalu dangkal Shim Minhyo!! Kau benar-benar murahan!! Dengan mudahnya terbujuk oleh kebaikan palsu setan itu!!”

PLAKK!

Tangan mungil Minhyo mendarat mulus di pipi kiri Donghae. Matanya melotot marah kepada Donghae “K-kau .. kau boleh saja mempercayaiku atau tidak. Yang jelas … i .. ini semua kulakukan demi kita semua. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Apa .. a-apakah seorang murahan yang rela melakukan ini semua demi teman yang baru kukenal beberapa jam? TAPI AKU TIDAK SEDANGKAL DAN MURAHAN SEPERTI ITU!!!”

“Sejak awal sudah kuperingatkan!! Kalau tidak mampu tidak usah berlagak sok pahlawan!!”

“Memangnya sejak kapan kau memperingatkanku?! Peduli saja tidak pernah!! Kenapa kau mudah sekali berbicara seperti itu?! Lagi pula aku sanggup! Aku mampu! Bahkan aku bisa melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan darimu!!”

“Terserah .. bukankah selama ini kau merengek kepadaku? Kenapa sekarang kau yang menyembunyikan semuanya?”

“Tidak ada yang aku sembunyikan.” ucapnya tegas. Namun matanya menghindar dari tatapan Donghae.

“Hahaha .. kau lucu. Sudah kepergok berbohong masih saja mengelak. Kau benar-benar bodoh.” Donghae akhirnya pergi meninggalkan Minhyo yang masih mematung. Ckckck, gadis itu. Apa sebenarnya yang dipikirkan olehnya? Apa ancamanku itu benar-benar berpengaruh? Tapi ini sangat bagus. Semakin banyak orang yang membencinya. Permainan ini akan semakin menarik.

Kyuhyun POV end

Author POV

Hari ini Minhyo bisa saja bernapas lega. Sesuai dengan harapannya, Kyuhyun tidak tiba-tiba muncul di rumahnya. Dan mengganggunya sampai detik ini. Biasanya Kyuhyun akan mengirimkan sms berupa tugas yang harus ia kerjakan. Entah dari mana ia dapat nomor ponsel Minhyo. Tapi sampai saat ini, belum ada tanda-tandanya.

Namun, tidak untuk saat ia memasuki kelasnya. Semua mata tertuju padanya. Menatapnya dengan tatapan membunuh. Minhyo dibuat bingung lagi. Ditambah ia tak menemukan Lee Donghae. Joohyun pun hanya bisa menunduk di tempatnya. Sudah diduga, ia dilarang bertemu dengan Shim Minhyo.

“Apa kau PUAS!!”

Bruukk!!

“Aaarrgghh!!”

Minhyo meringis, tubuhnya menabrak salah satu meja. Karena dorongan yang berasal dari Kwon Yuri. Gadis itu menatap Minhyo penuh kebencian.

“Pengkhianat! Kau busuk Shim Minhyo!! Aku benar-benar menyesal pernah bertemu denganmu! Berhenti bersikap sok pahlawan!! Musuh dibalik selimut.”

“Apa yang kau bicarakan? Sudah kubilang, Yuri-ssi, aku—”

“Diam!! Bagaimanapun kau adalah penyebab Hyukjae dikeluarkan dari sekolah!! Kau brengsek!!”

Minhyo dibuat terkejut. Ia marah, kesal, kecewa, sedih, dan dendam kepada Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa? Pengorbanan yang selama ini ia perbuat. Tak menghasilkan apapun. Kali ini dia benar-benar bersumpah bahwa dia sangat membenci iblis jadi-jadian itu. Bukankah sampai detik ini Korea Selatan sudah merdeka? Kenapa masih ada peperangan konyol seperti ini? Shim Minhyo benar-benar merasa ‘ditantang’ oleh Cho Kyuhyun. Sekolah ini bukan tempat untuk belajar. Namun untuk berperang. Berperang untuk menjadi juara. Dan berperang untuk mendapatkan keadilan.

“Kau benar-benar bejat!!”

PLAKK

Satu tamparan mendarat mulus di pipi Minhyo. Air mata keluar dari sudut mata Kwon Yuri.

“Kedatanganmu kemari jelas hanya membawa petaka bagi kita semua!! Bisa saja satu persatu dari kita dikeluarkan dari sekolah ini!! Kami sama sekali tidak butuh belas kasihanmu!! Sejak dulu Grup 0 memang patut di kucilkan!! Karena kami sudah biasa diinjak injak. Kami memang tidak mempunyai harga diri.”

“Yuri-ssi ..” Minhyo tak sanggup berkata-kata. Dia memang tidak menangis. Tapi dia benar-benar bisa merasakan kesengsaraan yang diderita Grup 0 selama ini.

Author POV end

Minhyo POV

Apa sesakit ini rasanya dikhianati? Apa sesakit itu juga ketika kita mengecewakan teman-teman yang kusayangi? Apa kalian pernah merasakannya. Tidak peduli tamparan atau hantaman yang mereka berikan kepadaku. Berapapun. Jika itu mampu melampiaskan semua kekecewaan mereka, kekesalan mereka. Aku akan menerimanya tanpa penolakkan sedikitpun. Tanpa harus berlinangan air mata. Tanpa harus merintih kesakitan. Aku sanggup melakukannya. Selama bumi masih berputar, selama waktu terus berjalan, semua jenis makhluk hidup bisa merubah jalan hidupnya, cara hidupnya, hingga kita bertemu dengan titik terang dimana takdir sudah menunggu kita disana.

Aaahh … ingin sekali rasanya aku berlari kepelukan Ibuku. Lalu menceritakan semua kesengsaraanku selama disekolah sambil menangis sesegukkan di depannya. Namun hal itu hanya dilakukan oleh seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab. Dan karena aku bertanggung jawab, tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu. Aku pasti bisa melewatinya sampai tamat. Halaman demi halaman akan kutempuh sampai pada kalimat bertuliskan ‘TAMAT’.

“Ibu, aku pulang!” sahutku berteriak dengan wajah kusut. Ibu yang sedang menonton berita di ruang tengah hanya melihatku sekilas lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke televisi. Huh, begitulah beliau. Super cuek. Bahkan ratu cuek sejagad raya. Atau karena bosan ia hanya melihat diriku sepanjang hari. Karena Ayah sudah meninggal dan aku adalah anak tunggal. Tapi setidaknya ia harus membalas sapaanku atau berkata “Oh, kau sudah pulang?” atau “Kau pasti lelah. Cepat makan. Sehabis itu istirahat.” atau juga “Apa sedang ada masalah di sekolah?”. Tapi bohong kuadrat kalau Ibuku sangat perhatian seperti itu. Ibuku tetaplah si Ahjumma bawel yang judes. Tidak pernah mau peduli dengan anaknya. Tapi, kalau sudah ditagih biaya sekolah. Dia malah kalang kabut mencari uang.

“Heh, sedang apa kau diam disana? Kalau mau bertelur jangan disana! Cepat ganti pakaian! Dasar anak nakal!” omelnya. Omo .. omo .. nada bicaranya seperti bicara dengan suaminya saja. Heyy~ aku ini kan anaknya -.- Oke, tidak perlu di pertanyakan lagi jika Ibu memang seperti itu.

“Iyaaaa~” aku menjawab malas sambil menuju kamarku. Melempar tas ranselku ke sembarang arah. Mengikat rambutku dan melepas blazer. Dan mengganti bajuku.

Tiba-tiba mataku menangkap ke sebuah foto yang terpajang di dinding kamarku. Foto Ibuku sewaktu muda. Persis seperti diriku. Hanya saja …. hmmm, bagaimana, ya? Sedikit lebih ‘parah’ dari diriku. Aku lupa siapa yang memajang foto itu. Mungkin mendiang Ayahku. Ah! Iya! Benar! Dia yang memajangnya! Saat itu Ayah dan Ibu sedang bertengkar. Ibu mengusir Ayah. Hingga Ayah tidur di kamarku. Anehnya, aku malah tertawa saat Ayah memajang foto tersebut sambil memohon ampun di depan foto itu. Astaga .. mengingatnya saja ingin membuatku muntah. Ayah sangat mencintai Ibu. Makannya dia rela melakukan apapun asal Ibu tidak marah dan senang.

“Astaga! Tanggal berapa ini!” pekikku. Rasanya seperti tersambar petir. Aku melihat kalendar yang tergantung di dinding. Ya Tuhan! Demi apa! Besok peringatan 8 tahun meninggalnya Ayah! Gawat, kenapa bisa lupa? Astaga .. saking banyaknya masalah aku bisa lupa dengan Ayah.

Kira-kira Ibu sedang apa? Biasanya ia sedang mempelototi foto-foto Ayah. Tapi kenapa tadi menonton berita. Apa dia juga lupa? Astaga, kenapa lupa bisa berjamaah begini. Sebaiknya aku lihat dia saja.

“Ibu besok kita harus ke pemakaman Ayah. Kau tidak lupa, kan?” tanyaku.

Eh, kelihatannya serius sekali. Memangnya berita apa, sih? Lho, ternyata bukan berita. Tapi drama. Tapi tumben. Jarang-jarang Ibu menonton drama. Dan sepertinya dia tidak menyadari kini aku di sampingnya. Winter Sonata? Pantas. Ini, kan drama faforitnya dengan Ayah. Ayah pernah bercerita saat masa muda dulu mereka sering menghabiskan waktu untuk menonton drama ini berulang kali. Eh, tunggu dulu. Ayah? Apa Ibu sedang mengenang masa-masa bersama Ayah? Woah, ajaib sekali. Padahal dulu mereka sering bertengkar karena hal-hal kecil. Itu pun tidak menyebabkan masalah. Mereka itu seperti pasangan muda. Padahal sudah tua -.-

“Ibu apa kau dengar aku?” tanyaku lagi.

Sepertinya dia tidak fokus kepada dramanya. Tapi … omo .. dia meneteskan air matanya. Apa dia menangis? Tentu saja Minhyo bodoh! Astaga, apa yang harus kulakukan? Sungguh aku tidak pernah melihatnya menangis. Aku harus bagaimana? Menenangkannya? Bagaimana? Astaga, anak macam apa aku ini? Apa sebaiknya pura-pura tidak lihat saja. Bagus. Lalu aku pura-pura tuli.

“Ah, kau ada disini.” pekiknya. Ia langung mengusap air matanya dan mengganti channel televisi. Daaan .. sekarang suasana menjadi canggung. Hanya ada suara seorang jurnalis pembaca berita yang ada di televisi. Jujur, hubunganku dengan Ibu sebenarnya kurang baik. Hmm, aku tidak tahu juga. Setiap hari ia selalu mengomel menyuruhku belajar dan jangan hanya bermalas-malasan.

“Sedang apa kau disini? Ah, iya. Kenapa akhir-akhir ini kau jelek sekali? Tidak, kau memang jelek, sih. Ya, tapi tidak sejelek ini.”

Astaga, kata-katanya itu beracun sekali ._.

“Ish .. Ibu. Aku ini kan anak Ibu yang paling cantiiikk~”

“Iya, masa mau dibilang ganteng. Itu fitnah.”

Gubrak!

“Aish .. sekali saja, Bu. Puji aku! Pintar, cantik, baik hati dan tidak sombong!”

“Minhyo bodoh, jelek, pemalas dan bandel.”

“Arrgghh!! Itu kebalikannya!! Apa kau tidak bersyukur punya putri sepertiku?!”

“Apa kau pernah sekali membanggakan Ibu? Bahkan sampai Ayahmu mati saja kau tidak pernah membanggakannya. Dan kau membuatnya mati bosan menunggu prestasimu yang tidak kunjung naik di sekolah. Kau ini sebenarnya pagi-pagi berangkat kemana? Bangun kesiangan, lalu jalan kaki ke sekolah. Bahkan sempat-sempatnya mencuri buah milik orang. Mau sampai dimana kau?”

Eeeeekk! Tahu dari mana dia?! Jangan-jangan dia menguntitku ._.v

“Eeeh .. tentu saja aku sampai di sekolah Buuu …”

“Lalu kau ngapain saja disana?”

“Tentu saja belajar. Mau jualan?”

“Kupikir seharian kau hanya nangkring diatas pohon.”

Gubrak!!

“Ibuuu .. tidak baik berprasangka buruk terhadap anak sendiri.”

“Aku bukan begitu. Itu memang faktanya. Sejak kecil kau memang begitu.”

“Ish. Lihat saja! Suatu hari nanti aku akan membuat Ayah dan Ibu bangga kepadaku!”

“Sejak kecil kau selalu mengatakan itu. Sekarang umurmu sudah 18 tahun. Mau sampai kapan berkata seperti itu.”

“Sampai aku sampai pada halaman terakhir!”

“Eh? Maksudnya sampai kau mati? Memangnya kau mau mati kapan?”

Gubraaakk! Bugh!! Duaaakkk!! Daaarrrr!!

Menyebalkan.

~~~o~~~

Ah, entah kenapa hari ini aku merasa lebih baik. Mungkin berkat kemarin aku sempat mengobrol sedikit dengan Ibu. Tapi, tetap saja. Pulang-pulang nanti … aku pasti akan kusut lagi.

Aku menatap gerbang belakang yang sudah ada di depan mataku. Huft … aku merindukan kehidupanku yang dulu. Setiap datang di gerbang, aku selalu bisa menyapa teman-temanku. Berkata ‘selamat pagi’ kepada setiap orang. Tersenyum bodoh kepada setiap orang. Kali ini mana bisa. Lagi pula, siapa juga yang ingin berteman dengan orang bodoh sepertiku.

Ditambah, sekarang aku malah makin kesepian. Sudah bagus masih ada Joohyun. Jein dan Hana tidak mungkin bermain denganku lagi. Aku tidak ingin mereka ikut dijebloskan ke dalam Grup 0 yang seperti neraka.

Benar juga yang dikatakan Yuri kemarin. Aku hanya menambah masalah Grup 0. Tapi, bukan aku juga yang meminta masuk ke Grup 0! Semua ini gara-gara Cho Kyuhyun. Argh, namja itu benar-benar harus ditimpuk dengan apa agar hatinya yang seperti batu itu bisa hancur. Dia benar-benar kejam. Disiksa olehnya sama saja disiksa di api neraka. Menyebalkan. Padahal aku sudah berbuat banyak agar hukuman Hyukjae bisa dihapus. Tapi iblis busuk itu tetap saja mengeluarkan Hyukjae. Itu sama saja dia mempermainkanku. Ah, aku lupa. Pelakunya kan bukan Hyukjae. Itu artinya, Cho Kyuhyun sengaja memfitnah Hyukjae.

Yang masih mengganjal di pikiranku adalah atas dasar apa Cho Kyuhyun melakukan semua ini. Atau .. mungkinkah ada hubungannya dengan Lee Donghae. Aku tahu. Pasti ada. Apa aku tanyakan saja langsung ke Donghae? Tapi apa dia mau? Ah! Jangan. Kemarin kan kami bertengkar. Lalu siapa kira-kira yang tahu permasalahan antara Kyuhyun dan Donghae? Kedua namja itu benar-benar misterius. Yang satu gila, yang satu sangat dingin. Yang satu setan, yang satu malaikat. Malaikat pencabut nyawa ._.

“Ayo cepat ke kelas Grup 0!! Kudengar ada yang ingin bunuh diri!!”

“Cepat! Cepat!”

Eh?! Ada apa ini? Kenapa semuanya masuk lewat gerbang belakang? Apa? Bunuh diri?! Siapa yang bunuh diri?! Aku segera berlari seperti orang kesetanan. Siapa .. siapa yang bunuh diri? Apa jangan-jangan Lee Donghae? Ah, tidak mungkin namja itu melakukan hal sedangkal itu. Dia sendiri yang mengataiku dangkal. Lalu siapa? Kwon Yuri? Ah, bisa saja. Tapi semoga saja bukan dia.

“Joohyun-ssi!! Cepat turun!!”

“Ah! Dia kan yang kemarin datang ke ruangan Cho Kyuhyun sendirian. Ia sampai sujud di depan Cho Kyuhyun agar anak yang namanya Shim Minhyo di pindahkan lagi ke Grup 3.”

“Apa?! Dia sendirian kesana?! Hey, apa kau yakin?!” tanyaku kepada mereka “Ia, aku juga melihatnya! Eh, tunggu. Kau siapa?” tanyanya “Bu-bukan siapa-siapa.” jawabku. Dan benar, yang diatas gedung itu adalah Seo Joohyun! Astaga! Apa yang ia lakukan?!

“Seo Joohyun!! Joohyun!! Kau dengar aku?! Jangan melompaatt!! Disitu berbahaya!! Kumohon turunlah!!” teriakku.

“Minhyo! Tidak! Aku tidak akan turun!”

“Ya! Shim Minhyo! Disini rupanya kau! Ini semua gara-gara kau!” Yuri datang memarahiku. Rupanya ia juga mengkhawatirkan Joohyun. Ish, kenapa banyak sekali orang disini. Sepertinya bukan dari Grup 0 saja.

“Joohyun! Ayo turun! Kau tidak boleh ada disitu!”

“Joohyun! Turunlah!!”

“Kau tidak boleh melakukan hal itu!”

Teman-teman Grup 0 turut membantu membujuk Joohyun. Tapi, aku tidak melihat Lee Donghae di sekitar sini. Apa yang sedang namja itu lakukan?!

“Hahaha. Sepertinya ada yang ingin mengancamku, ya?” suara itu.

“Cho Kyuhyun!” pekikku. Ia datang kemari bersama kacung-kacungnya. Mengancam? Siapa yang ia maksud?!

“Hahaha! Shim Minhyo, kau lihat sendiri? Temanmu sendiri rela bunuh diri demi dirimu. Bukankah itu sangat kejam?”

“Apa?! Kau pasti yang memaksanya, kan?!” aku mencengkram kerahnya kuat “Woaw, santai saja. Bukankah aku tidak pernah melakukan kekerasan kepadamu, kan?” tanyanya sambil tersenyum licik “Tch, bajingan kau! Apa maumu?! Untuk apa kau datang kemari!! Ini bukan wilayahmu!! Cepat sana pergi!!” usirku “Bicara apa kau ini? Tentu saja ini wilayahku juga.” shit. Lagi-lagi ia membicarakan hal itu. Bajingan kau Cho Kyuhyun.

“Ya!! Kau yang berada diatas sana!! Dengar!! Bukankah kemarin sudah kubilang. Aku tidak akan pernah berbaik hati memasukan Shim Minhyo ke dalam Grup 3 lagi. Meskipun kau terjun dari atas sana sekalipun!! Kau hanya akan mati sia-sia. Kalau kau berani. Silahkan terjun saja!”

“Apa yang kau lakukan?! Kenapa malah bicara seperti itu!! Dasar bodoh!!”

“Kau yang bodoh! Mana mungkin gadis culun sepertinya berani terjun dari atas sana?”

“Bajingan!” aku segera berlari menuju kelas dan menaiki loteng. Kini aku berada beberapa meter di belakang Joohyun.

“Joohyun-ah! Hati-hati! Disana berbahaya! Kau bisa terjatuh!!” teriakku “Tidak!! Minhyo, jangan mendekat! Atau aku akan turun!” aku menghentikan langkahku.

“Joohyun. Apa yang kau lakukan! Kenapa kau melakukan semua ini?” tanyaku lembut.

“Aku .. aku hanya ingin membalas semua kebaikanmu. Kebaikanmu yang telah membantu Hyukjae, membantu kami semua.”

“Kebaikan apa?! Aku tidak melakukan apapun untuk kalian!!”

“Tidak! Kau salah!! Berkatmu .. berkatmu .. aku .. jadi mempunyai teman. Yaitu Shim Minhyo. Gadis dari Grup 1 yang penyemangat. Melihat tingkahmu saja sudah membuatku senang. Berada di dekatmu saja sudah membuatku merasa nyaman. Sebenarnya bukan kau yang memulainya. Tapi aku. Coba saja kalau waktu itu aku tidak lewat kawasan Grup 1. Mungkin Minhyo tidak akan … tidak akan dijebloskan kesini. Minhyo tidak akan menderita. Minhyo tidak akan dijahati oleh Grup 1. Minhyo bukan penyebabnya. Aku hanya ingin Minhyo tidak menderita lagi. Aku ingin Minhyo menjadi Minhyo yang dulu. Yang saat itu baik hati mau menolongku. Aku tidak ingin Minhyo di jahati lagi oleh Cho Kyuhyun. Aku hanya ingin Minhyo bahagia, bisa berkumpul bersama teman-teman lamanya. Minhyo tidak akan senang jika berada disini. Itu … itu sebabnya aku ingin Minhyo dipindahkan lagi ke Grup 3.” jelasnya dengan beruraian air mata.

Joohyun, kau tahu. Yang kau katakan sangat menyentuh. Walaupun kita baru bertemu beberapa bulan. Tapi kau sudah seperti sahabatku sejak kecil. Kau sangat peduli kepadaku. Kau juga memikirkan kebahagiaanku. Kau terlalu baik, Joohyun. Tapi kau tidak perlu melakukan hal ini.

“Joohyun-ah …” panggilku “Kau tahu. Kau sangat baik. Dan aku tidak menderita. Aku bahagia disini. Bukankah waktu itu aku sudah pernah bilang? Aku akan memulai semuanya disini. Di Grup 0. Bersamamu dan teman-teman yang lain. Jadi, aku tidak akan menderita disini. Karena disini adalah tempatku. Dan aku tidak akan kembali lagi.” jelasku.

“Tapi .. teman-teman yang lain sering melukaimu.”

“Itu tidak apa. Selama kau masih ada disini. Aku kan kuat. Aku tidak akan lemah. Lagi pula mereka hanya bercanda. Hahaha. Iya, kan?” tanyaku.

Ia hanya diam. Menunduk. Perlahan aku mendekatinya.

“Selama ini .. mungkin mereka menganggapku Shim Minhyo si Pembawa Masalah. Sejak dulu, aku memang begitu. Selalu membuat kecerobohan. Dan aku tidak jarang diomeli orangtuaku. Ah .. iya. Orangtua. Sejak kecil aku tidak pernah membuat mereka bangga terhadapku. Aku selalu menyusahkan mereka. Ayahku pernah bilang kepadaku, di dunia ini semua manusia pasti mempunyai takdir yang baik. Jadi, walaupun aku yang berasal dari Grup 0, yang katanya kelas terburuk yang pernah ada. Kita sendiri juga bisa menemukan kebahagiaan dari Grup 0. Tidak ada yang tidak baik di dunia ini. Semua pasti punya kelebihan dan kekurangan. Karena Tuhan itu Maha Adil.”

Aku sampai di depannya. Aku bisa melihat dibawah banyak orang yang melihat kearah kami. Lee Donghae ternyata belum datang juga.

“Dan kau tidak perlu bersujud di depan Iblis itu. Karena Tuhan sudah memberikan kita kebahagiaan. Jadi kita harus bersyukur.” ucapku.

“Tapi, jika kau tetap ingin terjun dari sini. Kau harus bersamaku.” candaku “Apa?!” pekiknya “Ya!! Kau yang disana!! Ya!! CHO KYUHYUN!! SI IBLIS DARI NERAKA!! DENGARKAN AKU, SHIM MINHYO!! MALAIKAT PEMBAWA KEADILAN!! AKU TIDAK PEDULI SETINGGI APA JABATANMU! TAPI DIMATAKU KAU TETAP SEORANG PENGECUT YANG MENGANDALKAN SENJATA!! KALAU KAU BERANI AYO LAWAN KAMI!! GRUP 0 TIDAK AKAN MAU TUNDUK KEPADAMU!! KARENA KAMI KUAT!! KAMI BUKAN PENGECUT DARI KELAS LAIN YANG INGIN DI PERINTAH OLEHMU!!!” teriakku sekuat tenaga. Kulihat ia menatap tajam kearahku. Aku tersenyum penuh dengan kemenangan.

“Teman-teman!! Kalian lihat pengecut itu?! Dialah penyebab utamanya!! Dia yang menjebloskan kalian satu persatu ke dalam Grup 0!! Sekarang tunggu apa lagi? SERANG DIA!!!”

“Hyaaaaakkk!!!!” semua pasukan Grup 0 pun menyerang Cho Kyuhyun dengan beberapa antek-anteknya. Aku hanya tertawa puas dari sini. Ah, begitu bahagia melihat penderitaan Cho Kyuhyun. Rasakan akibatnya! Inilah akhir dari hidupmu Cho Kyuhyun. Mati ditangan tawananmu sendiri. HAHAHA.

“Hey, sebaiknya kita ikut juga. Ayo!” ajakku sambil menarik tangan Joohyun. “Woah, sepertinya seru! Ayo Joohyun!! Aku akan memotong kepalanya!!” seruku “Aku akan memitas-mitas tulangnya!”

“Rasakan ini! Ini akibatnya kalian memperlakukan kami seperti budak!!”

“Hahaha! Ini sangat menyenangkan!”

“Akhirnya aku bisa membalas perbuatannya!”

“Kau akan mati di tangan kami!”

“Kau sudah berakhir Cho Kyuhyun!!”

“Teman-teman! Berhenti! Nanti kita yang disalahkan!!” aku berteriak kepada semuanya. Semua pun berhenti. Omo, lihat para orang kaya itu sekarang. Babak belur di hajar ‘budak’nya sendiri.

“Ckckck .. bukankah ini terlihat miris?” tanyaku diiringi seringai. Entah sejak kapan aku senang melihatnya menderita.

Cho Kyuhyun bangkit. Ia meringis kecil ketika menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya “Beraninya kau melukaiku ..” ujarnya dengan nada dingin. Tangan kanannya mengepal. Aku melangkah menghampirinya. Ia menatapku heran saat aku sampai di depannya.

Duaaakkk!!

“Aaarrrgghh!! Apa yang kau lakukan?! Sakit!!” rintihnya saat aku menendang kakinya sekuat tenaga hingga ia terjatuh.

“Sakit?! Sakit katamu?! Aku jamin sakit yang kau rasakan tidak sebanding dengan apa yang kami rasakan. Terutama aku. Apa kau tahu sakit yang kurasakan, hah?! 10000X lebih sakit dibanding itu. Apa kau mau merasakannya juga, hah?!” teriakku di depan wajahnya.

“Dengar!! Bahkan sampai kau mati ditanganku!! Rasa sakit ini tidak akan pernah terhapus!! Camkan itu Cho Kyuhyun!!” terlunjukku berada di depan hidungnya. Ini pertama kalinya aku merasakan marah sebesar ini. Aku menatap tajam kearahnya.

“Dan sampai dunia kiamatpun, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” ucapku pelan penuh penekanan. Setelah itu aku pun pergi meninggalkannya.

Minhyo POV end

Kyuhyun POV

“Dan sampai dunia kiamatpun, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” ia mengucapkannya penuh dengan penekanan. Kulihat siluet matanya begitu tajam dan terpancar kebencian yang sangat kuat kepadaku. Sepertinya ia benar-benar membenciku. Setelah ia pergi, semua orang juga ikut meninggalkan kami.

“Benar-benar kurang ajar! Mereka harus diberi pelajaran!!” ujar salah satu temanku dengan geram. Namun dengan cepat kumenahannya “Tidak. Tidak perlu.” cegahku.

“Shim Minhyo. Lihat saja, rasa sakit itu pasti akan segera hilang.”

~~~o~~~

Kini aku berada di depan rumah Shim Minhyo. Hmm, aku ingin lihat apa reaksinya ketika bertemu denganku. Tapi itu tidak akan terjadi karena aku tidak akan membiarkan dia mengetahui keberadaanku. Karena apa? Karena aku sedang memata-matai keberadaannya. Entahlah, aku hanya ingin mengetahui keadaannya yang sebenarnya.

“Minhyo!! Ibu berangkat duluan!!” seorang wanita parubaya keluar dari rumah Minhyo. Pasti dia Ibunya. Mau kemana dia?

“Neeeee! Hati-hati, Bu!!” balas Minhyo berteriak juga. Gila, suaranya kencang sekali. Bisa terdengar sampai keluar. Sebenarnya anak itu manusia macam apa, sih?

Tunggu, berangkat duluan? Itu artinya Minhyo akan menyusul. Oke, aku hanya tinggal tunggu disini sampai dia keluar. Kira-kira mereka ingin kemana? Sepertinya akan bertemu dengan seseorang yang penting.

Aku melirik jam tanganku, kenapa anak itu lama sekali? Apa membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk memoles make up di wajahnya yang aneh itu. Aish, pantas saja ia selalu datang terlambat ke sekolah. Jangan-jangan setelah ini dia tidak akan naik bis. Bagus, kau akan menguntitnya terus sambil berjalan kaki! Aku tidak mengerti. Apa dia seorang yang ramah lingkungan? Aish, seperti mobil saja.

5 menit …

10 menit …

20 menit ….

30 MENIT!!

“Aish!! Dasar kura-kura!! Kenapa dia lamban sekali!!” teriakku frustasi. Rasanya aku ingin sekali menelan pohon yang ada di depanku ini bulat-bulat. Dasar gadis lelet! Apa dia ketiduran?

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Akhirnya dia keluar juga. Woah .. tumben sekali dia bisa berdandan secantik ini. Ia memakai dress lengan pendek berwarna putih susu selutut. Ia membawa anjing peliharaannya. Persis seperti anak kecil. Ternyata wajahnya cantik juga kalau sedang tidak marah. Eh, apa itu? Ia membawa bunga lili di tangannya. Apa dia ingin melayat? Tapi wajahnya tidak terlihat sedih.

“Ayo kita berangkat MoonTae~” ia pun berjalan menuju suatu tempat bersama anjingnya. MoonTae? Haha~ nama macam apa itu. Tapi, pantas juga dengan anjingnya. Kurasa itu bukan anjing mahal. Paling-paling hanya anjing jalanan biasa.

Gadis itu terus berjalan dari gang ke gang. Aku tetap menjaga jarak dengannya. Apalagi dia membawa anjing. Kalau anjingnya lihat, lalu menggonggong? Ah, lagi pula tidak mungkin. Seseram apapun wajahku, yang penting aku tetap tampan.

Kyuhyun POV end

Author POV

Setelah 30 menit berjalan kaki, akhirnya Minhyo sampai di tempat yang dituju. Yaitu taman pemakaman dimana ada makam Ayahnya. Cho Kyuhyun yang menyadarinya sempat terkejut. Dipikirannya ia menebak-nebak siapa yang dikuburkan di makam ini.

Minhyo membungkuk hormat di depan makam yang bertuliskan ‘Shim Changmin’ di batu nisan tersebut. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah makam Ayahnya sendiri. Setelah memanjatkan doa-doa, ia meletakkan bunga lili diatas makam Ayahnya. Ia juga melihat bunga lili yang lain. Ia berpikir pasti Ibunya yang menaruhnya. Karena beliau berangkat duluan.

“Ayah, apa kabar?” tanya Minhyo layaknya sedang berbicara kepada Ayahnya sungguhan. Kyuhyun yang tidak mendengar mendekatkan jaraknya antara Minhyo.

“Aku sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau baik-baik saja? Ehmm .. maaf, akhir-akhir ini aku jarang kemari. Yah … kau tahu, aku sangat sibuk dengan urusan sekolah. Hehehe …” ia tertawa garing layaknya orang bodoh. Kini pandangannya kosong. Ia teringat kejadian saat ia dimasukkan ke dalam Grup 0.

“Ayah, kau tahu ..” Kyuhyun terkejut mendengarnya. Ternyata itu adalah makam Ayahnya Minhyo.

Minhyo pun melanjutkan perkataannya, “Mungkin kau sudah tahu disana. Aku telah mengecewakanmu. Aku berbohong. Bahkan Ibu tidak mengetahuinya. Dulu, Ayah berjuang keras mengumpulkan uang agar aku bisa masuk ke dalam Shinhwa. Dan aku masih ingat wajah Ayah saat itu. Ayah sangat senang dan bangga saat aku diterima disana. Tapi kini aku mengecewakanmu. Maafkan aku, Ayah. Aku masuk ke dalam Grup 0.” terdengar nada kekecewaan disana. Tapi Minhyo tetap tersenyum tegar sambil mengatakannya. Itu yang membuat Kyuhyun terperangah. Dari dulu ia memang sudah tahu bahwa Minhyo bukan anak yang lemah. Ia yakin 100% bahwa Minhyo tidak akan meneteskan air matanya.

“Tapi .. kurasa aku menyukai kehidupanku yang sekarang. Ayah tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.” sangat bertolak belakang dengan keadannya sekarang yang tertekan dengan penindasan dari Grup 1.

“Guk!!” MoonTae menggonggong. Seolah tahu kesedihan yang dirasakan oleh Minhyo, walaupun Minhyo tak menampilkannya. Minhyo berjongkok dan mengelus kepala anjing itu “Ah~ kau baik sekali MoonTae.” Minhyo tersenyum tulus kepadanya.

“Ayah, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku pamit dulu.” Minhyo membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan pemakaman itu.

Sementara itu Cho Kyuhyun tersenyum getir “Tch .. gadis itu. Masih bisa sok tegar disaat dia menderita. Hebat.” gumamnya. Ia pun kembali mengikuti Minhyo.

Author POV end

Minhyo POV

“Minhyo!!” tegur Joohyun saat melihatku hendak memasuki kelas “Ah, Joohyun, bagaimana keadaanmu?” tanyaku “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Ternyata kau selamat. Aku pikir kau kenapa-kenapa.” ujarnya.

“Wae? Kau pikir aku akan mati karena dihajar oleh gengnya Kyuhyun itu? Ahahaha! Itu tidak mungkin~ kau tenang saja!” candaku. Aku pun memasuki kelas. Kalian tahu apa yang kurasakan? Disini sepi sekali. Padahal semuanya ada. Termasuk .. ah, Lee Donghae. Rupanya dia masuk. Biasanya mereka akan memakiku atau menghajarku ketika masuk. Tapi … kenapa tiba-tiba kelas ini mendadak seperti kuburan?

“Kau pasti bingung. Ini karena tingkahmu kemarin yang menyelamatkan martabat Grup 0!” bisik Joohyun padaku “Mwo?” tanyaku bodoh “Aish! Intinya mereka kini merasa bersalah karena telah memperlakukanmu buruk selama ini.” jelasnya.

“Jinjjayo?” tanyaku. Aku memperhatikan setiap wajah yang ada di kelas ini. Mereka semua menghindari tatapanku. Apa benar yang di katakan Joohyun barusan? Kalau begitu .. itu tandanya … mereka sudah bisa menerima kehadiranku!! Ah~ neomu haengbokhae!”

“Ah iya, dan juga … mereka menyesal karena telah menuduhmu yang mengakibatkan Hyukjae mengeluarkan diri dari sekolah ini.”

“Tunggu, apa katamu barusan? Mengeluarkan diri?! Bukannya di keluarkan?!

Minhyo POV end

Author POV

Sepulang sekolah, Minhyo tak langsung pulang ke rumahnya. Melainkah menuju rumah Hyukjae. Tentu saja alamat yang di dapat dari Seo Joohyun. Ia pikir selama ini Kyuhyun yang mengeluarkan Hyukjae dari sekolah ini. Namun Minhyo hanya ingin memastikannya dan betanya kepada orangnya langsung apa alasannya. Maklum, tingkat penasaran Minhyo itu tinggi sekali.

Minhyo berhenti di depan rumah yang bisa dibilang sederhana. Namun lebih kecil dari rumahnya.

“Permisi!” Minhyo menyahut dari luar. Beberapa lama kemudian pintu terbuka dan muncullah sosok Hyukjae. Namja itu cukup terkejut dengan kedatangan Minhyo. Sehingga ia menutup pintunya lagi namun dengan cepat ditahan Minhyo.

“Hyukjae-ssi!! Jamkanmanyo!” tahan Minhyo. Hyukjae menatap Minhyo kesal. Ia pun melepaskan tangannya dari pintu “Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau kemari?” tanyanya kesal dan emosi.

“Izinkan aku bertanya kepadamu sebentar saja.” pinta Minhyo.

“Aku tidak ada waktu. Jika tidak ada keperluan lain kau bisa pergi.”

“Hey, kau mengusirku?!” omel Minhyo.

“Tentu saja! Cepat pergi!” usir Hyukjae. Ia pun menutup pintunya namun ditahan lagi oleh Minhyo.

“Yak! Dengar! Aku hanya ingin tanya! Apa benar kau sendiri yang mengundurkan diri dari sekolah, hah?!” tanya Minhyo yang mampu membuat Hyukjae terpaku seperti orang tersambar petir. Minhyo menatapnya serius.

“Aa .. Hyukjae, apa itu benar?” tanya Minhyo pelan. Hyukjae tersadar dari lamunannya “Itu bukan urusanmu!” dengan cepat Hyukjae menutup pintunya saat Minhyo sedang lengah.

“Hyukjae-ssi! Buka pintunya! Jebal! Tolong buka pintunya!” sahut Minhyo dari luar. Namun tak ada jawaban dari Hyukjae. Minhyo menghela nafas berat. Punggungnya bersandar pada pintu rumah Hyukjae.

“Eottokkaeyo? Apa dia benar-benar mengeluarkan diri? Bukan dikeluarkan?” pikirnya. Ia menunduk pasrah.

Tiba-tiba ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya teringat akan Ayahnya. Seakan menimbulkan rasa semangat lagi. Ia pun bangkit dan berseru “Baiklah! Hyukjae-ssi! Aku tidak akan pulang sebelum kau menjelaskan semuanyaaaa!!” Hyukjae yang mendengar dari dalam hanya bisa pasrah.

3 jam kemudian ….

“Kau pasti bisa Shim Minhyo! Fighting!!”

Hari sudah sore, namun Minhyo belum beranjak seincipun dari tempatnya. Bahkan ketika langit mulai gelap, menandakan akan datang hujan, ia tetap bertahan di tempatnya.

“Hyukjae-ssi! Aku masih bertahan!!” sahut Minhyo dari luar. Tak ada jawaban. Minhyo mengendus kesal

“Aish .. kenapa anak itu sama keras kepalanya dengan Lee Donghae? Dasar kembar dempet! Menyebalkan!!” gerutunya sendiri.

Kreek~

Pintu terbuka. Minhyo pun terkesiap. Ia tersenyum lebar ketika sang empunya rumah akhirnya membuka pintunya juga.

“Sudah kuduga kau tidak akan tega.” ujar Minhyo senang. Namun hanya ada ekspresi datar dari Hyukjae.

“Apanya yang tega? Kenapa kau masih disini? Teriakkanmu menggangguku yang sedang tidur!! Cepat pulang! Atau kau akan kulempar ke rumahmu!” omelnya kesal. Minhyo terkejut, matanya membulat, mulutnya menganga lebar.

“MWO?!?! Jadi dari tadi kau tidur?!! Teganya kau membiarkanku sendirian disini!! Setidaknya ajak aku masuk!!” omel Minhyo balik.

“Hah, memangnya apa hakmu?? Aku juga tidak menyuruhmu terus bertengger di depan rumahku!! Dasar yeoja aneh!!”

BRAKK!!

Pintu ditutup dengan kasar oleh Hyukjae.

“Mwo .. mwo?!! Sudah mengusirku mengataiku yeoja aneh pula!! Dasar monyet gila!! Buka pintunyaaaa!! Aishhh!!” umpatnya kesal.

JDEERRR!! *saya bingung gimana suara petir kalo di tulis =.=a*

“Kyaaaa!!” jerit Minhyo terkejut. Tiba-tiba suara petir menyambar. Tak lama hujan pun datang menyusul sangat deras. “Sialan! Aku tidak bawa payung! Aish, menyebalkan!!” cercanya. Ia menyudut ke tembok agar tidak terkena cipratan air. Namun udara yang dingin mampu menusuk hingga ke tulangnya.

“Bertahanlah Shim Minhyo. Kau pasti bisa!” bisiknya menyemangati. Sayangnya hujan semakin deras sehingga setengah pakaiannya basah. Ia tak memikirkan bagaimana Ibunya nanti marah, namun ia hanya memikirkan Hyukjae.

Pertahanan Minhyo runtuh. Tubuhnya ambruk. Pandangannya kabur, wajahnya pucat. Tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri.

~~~o~~~

Sekolah sudah mulai sepi, hanya tersisa Kyuhyun dan Siwon yang masih berada di kelas Grup 1. Dua namja itu biasa pulang terakhir hanya untuk membicarakan sesuatu sangat lama.

“Jujur, sebenarnya aku kurang mengerti ketika kau bilang kau menginginkannya.” ujar Siwon pada Kyuhyun yang sedang duduk di tepi jendela. Kyuhyun terdiam sambil menatap halaman sekolah yang basah terkena hujan.

“Maksudmu?” tanya Kyuhyun. Sebenarnya ia tak fokus dengan apa yang dibicarakan Choi Siwon.

“Aish .. apa kau menyukainya?”

Kyuhyun menoleh dan menatap lurus kearah Siwon. Lama. Ia pun menjawab dengan singkat “Tidak.” namja berambut coklat itu mengalihkan perhatiannya keluar jendela lagi.

“Tch, mungkin sekarang iya. Tapi hati-hati, jika kau terlalu sering berurusan dengannya, bisa-bisa kau menyukainya.” tutur Siwon.

“Tidak akan. Dia sudah memiliki Lee Donghae.” ucapnya spontan. Kyuhyun sendiri terkejut kenapa ia melontarkan kata-kata itu.

“Woah .. menarik. Cinta segitiga rupanya. Hahaha!”

“Diam kau! Aku tidak mungkin menyukainya.” sahut Kyuhyun kesal.

Beberapa menit keadaan mendadak menjadi hening. Ingatan Kyuhyun tertuju saat hari dimana ia membuntuti Minhyo. Ia menemukan satu fakta bahwa Minhyo seorang anak yatim. Dan ia mengetahui satu hal, Minhyo adalah anak yang tegar. Kyuhyun masih belum menyadari bahwa ada rasa menyesal di dalam hatinya. Itu karena ia sulit mengartikan isi hatinya.

“Aku ingin tanya satu hal. Apa alasanmu melakukan ini semua?” tanya Siwon yang mampu membuat Kyuhyun kehilangan kata-kata. Namun ia bisa menutupinya dengan wajah dan tatapannya yang tajam.

Namja itu hanya diam, tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Choi Siwon.

“Kyuhyun-ah, aku tahu yang sebenarnya kau alami selama ini. Ketika kau pertama kali bertemu dengannya, aku tahu kau sangat menyukai anak itu. Saat anak itu menentangmu, kau kecewa, dan kau patah hati. Itulah penyebabnya saat kau membenci Shim Minhyo. Cho Kyuhyun, kau itu menyukainya.” tanya Siwon.

Kyuhyun tersenyum kecut. Ia pun beranjak menuju Choi Siwon. Ditatapnya namja bertubuh tinggi itu

dengan serius.

“Itu karena aku ingin menyingkirkannya. Aku ingin memusnahkan siapa saja yang berani menentangku. Ingat itu baik-baik.”

END

 

 

 

Hahahahah! Tenang, cuma bercanda kok. Yang asli nih ..

 

 

 

TBC

Huahahahah. Bagaimana? Terlalu lama menunggu jangan sampe lupa gimana cerita sebelumnya =.=a. Maaf yah, kalau hasilnya kurang memuaskan TT_TT kesalahan saya karena terlalu banyak menunda-nunda pekerjaan. Tapi jujur, sempet bingung juga mau dibuat apalagi ni cerita#bawel. Kepanjangan ga? Ini sekitar 23-24 halaman neooffice xD. Maaf ya~ Jangan lupa tinggalkan jejaknya :*

Iklan

18 thoughts on “School X Fight [ROUND 4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s