Oh My Girl [Part 7]

Title: Oh My Girl [Part 7]

Author:한민기 (Han MinGi).

Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kim Yeobin(OC).

Genre: Romance.

Length: Parts.

Rating: PG.

P.S: Loha loha~ no cincong ya, aku cuma mw berpesan ama readers klo part ini very long. wkwkwk~ kayaknya sih -_______- jangan lupa commentnya yaa~

 

~~~o~~~

 

Part 7

 

Yeobin POV

 

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu, nona. Saranghae. Jaljayo …” aku masih shock. Ia mendekapku kepelukannya. Hangat. Sama seperti saat ia menggenggamku, disampingku, dan menciumku.

 

Tuhan, apa ini mimpi? Tolong bangunkan aku!! Aigoo~ apakah ini sama saja aku berselingkuh?! Anio~ aku kan single. Selingkuh dari mananya? Dari hongkong?! Aish .. apa yang ia katakan tadi? Saranghae? Berarti dia mencintaiku? 

 

“Nona, kenapa kau belum tidur?” tanyanya lembut. Sangat lembut. Mataku memanas. Aku seperti ingin menangis. “W ..wae? Kenapa kau melakukan ini .. padaku?” tanyaku lirih. Setetes air mata jatuh dari mataku. Dengan cepat siwon menghapusnya.

 

“Mianhae nona … ssstt~ uljima …”ujarnya “Kau boleh memukulku,” ujarnya. Aku menggeleng, kemudian aku memeluknya. Aku tidak bisa mengartikan perasaan ini. Hatiku …. disaat aku melihatnya, bayangan hankyung selalu ada di belakangnya. Dan itu membuatku tersiksa. Jika aku dekat disisinya, jantungku selalu berdegup tak karuan.

 

Apa aku jahat? Dia sudah menciumku dan saat ia menciumku hanya ada bayangan hankyung di kepalaku. Dan kesimpulannya adalah, aku belum bisa melupakan hankyung.

 

“Ka .. kau tidak salah siwon-ssi.” ucapku “Wae?” tanyanya lembut “Mianhae ….”isakku. Ia mengelus punggungku dan berkali-kali mencium puncak kepalaku “Mianhae, mianhae, mianhae …. aku .. belum bisa melupakan hankyung.” ucapku penuh sesal.

 

“Gwenchana,” balasnya dengan nada kecewa. Aku mendongak menatap ke manik matanya “Aku tidak perlu meminta jawaban darimu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya padamu. Maaf kalau aku lancang, nona. Aku tahu kalau pembantu mencintai majikannya sendiri itu hal yang menjijikan.” ujarnya.

 

“Ani. Itu tidak menjijikan. Itu wajar. Siapa saja bisa jatuh cinta kepada siapa saja. Perasaan tidak bisa ditolak.” ujarku. Ia tersenyum. Senyum yang sangat manis. Aku suka itu.

 

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu, nona?” tanyanya “Molla.” jawabku pelan “Kalau begitu. Ijinkan aku untuk menggantikan hankyung di hatimu.” ujarnya. “A-aku …” aku bingung harus jawab apa. “Terserahmu saja.” ujarku.

 

“Aku mencintaimu nona. Saranghae …” ucapnya “Sudahlah. Aku ingin tidur.” ujarku seraya membalikkan tubuhku. Aku membelakanginya.

 

Sudah 30 menit. Aku belum bisa tidur. Perlahan aku membalik dan melihat siwon sudah tertidur. Aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajahnya. Dia benar-benar sudah tidur. Pasti dia lelah setelah berjalan-jalan tadi.

 

Aku mengeluarkan daun kering itu dari laci meja disebelah ranjangku. Aku menatap daun kering itu. “Apakah ini yang kau maksud dengan kebahagiaan?” tanyaku sendiri. Aku tersenyum “Kalau iya. Gomawo. Gomawo, kau sudah memberikan kebahagiaan untukku. Tuhan mengabulkan doaku. Ia sudah mengirimkan pangeran yang baik hati kepadaku.” aku mencium daun kering yang telah dilapisi plastik tipis itu. Kemudian menaruhnya kembali di laci meja.

 

Aku menatap wajah robot kuda itu. Bahkan saat tidur saja ia masih tetap tampan. Dia memang sempurna. Tapi aku penasaran, apa kelemahannya. Aku menyentuh hidungnya yang mancung itu, kemudian beralih ke bibirnya yang mempesona itu. Mian, aku tak membalasmu. Tadi aku sangat takut karena aku merasa hankyung terus mengawasiku. Padahal ia tak mencintaiku.

 

Chu~

 

Aku mencium bibirnya.  “Gomawo~” ucapku setelah melepas ciumanku. Aku tersenyum sendiri. Mana ada robot kuda setampan dirinya? Kurasa tidak. Apakah aku termasuk gadis beruntung bisa mendapatkannya?

 

Aku mendekat kepadanya, kemudian menempelkan telingaku di dadanya.

 

Dugeun .. dugeun … dugeun ………

 

Aku suka suara detak jantungnya. Ini pertama kalinya aku mendengar suara detak jantungnya. Ini nyaman sekali. Mianhae. Aku belum tahu siwon-ssi, bagaimana perasaanku ini. Pikiranku belum menyatu dengan hatiku. Aku terus berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan hankyung. Hanya dia yang aku cintai. Selamanya. Tapi hatiku seperti berkata lain. Aku janji, aku akan menjawab secepatnya. Entah itu kata ‘iya’ atau ‘tidak’. Terima kasih telah mencintaiku. Itu membuat luka dihatiku membaik sedikit.

Yeobin POV end

 

~~~o~~~

 

Author POV

Siwon bangun pagi-pagi sekali. Ia meregangkan otot otot tubuhnya. Kemudian menoleh ke samping kanannya. Ia tersenyum. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah tuan putrinya itu.

 

“Good morning, princess~” gumamnya. Siwon memeluk tuan putriny sangat erat, sehingga membuat tuan putrinya itu terbangun karena terganggu oleh pelukan siwon.

 

“Ya! Lepasss!!” yeobin merentangkan kedua tangannya dengan kasar sehingga wajah tampan nan mulus siwon kena gampar tangan indah yeobin.

 

“Aaawww~ appo ….” ringis siwon. Ia mengelus-elus pipinya yang merah karena ulah yeobin. Yeobin bangkit dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan siwon yang sedang kesakitan. “Aissh, kembali ke biasanya. Huh!” keluh siwon. Ia pun keluar dari kamar yeobin.

 

Ia menutup pintu dengan malas sambil menguap. Saat ia berbalik ….

 

“Whoaaa .. omona!!” jerit siwon dan nyonya park bersamaan. Nampan yang berisi 2 buah roti isi dan 2 gelas susu putih hampir terjatuh dari tangan nyonya park.

 

Siwon menjadi salah tingkah. Ia melihat penampilannya, sangat berantakan. Kemudian ia membungkuk berkali-kali kepada nyonya park. Sementara nyonya park hanya menatap siwon aneh.

 

“Jeosonghamnida, nyonya park.” ucap siwon gemetar. “Bwahahahahahhahahahhhahahaha~” nyonya park tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol siwon.

 

“Nyo .. nyonya park?” tegur siwon “Hahaha .. n-ne? Aigoo … siwon-ssi, huhahahahha~ kau lucu sekaliiii~ huahahahah~” siwon mengkerutkan keningnya.

 

“Oh .. aigoo aigoo .. mianhae .. mianhae …” ujar nyonya park. “Apa yeobin sudah bangun?” tanya nyonya park “Su .. su .. su .. sudah.” jawab siwon gemetar. Ia juga heran, kenapa ekspresi nyonya park biasa saja. Ia pikir ia akan dimarahi setelah ini atau akan langsung di pecat.

 

“Jangan khawatir siwon-ssi, aku tidak akan memecatmu. Sebenarnya aku pulang jam 1 malam. Dan kalian sengaja tidak aku bangunkan. Omo~ kau tahu? Kau dan yeobinnie sangat maniiiissss sekali saat tidur!! Omonaaa~”

 

“Siwon-ssi, kenapa kau masih disi …… EOMMA?!?!”

 

~~~o~~~

 

Yeobin POV

Oh, aku sangat amat sangat MALU!! Wae? Ternyata eomma sudah tahu kalau aku dan robot kuda itu tidur berdua. Dan parahnya, dia tidak membangunkan kami! Sialan!! Padahal dia pulang jam 1 malam. Bisa- bisanya dia …….. arrrghh!! Jinjja!!

 

Teeeett! Teeeeett~!

 

Bel istirahat berbunyi, sebelum keluar kelas, aku mengeluarkan kotak bekal berisi roti selai dari dalam tasku. Hari ini eomma memaksaku untuk membawa bekal. Haisssh … menyusahkan saja, kan? Tapi kalau tidak dimakan, kasihan juga.

 

Robot kuda itu menghampiriku. Oh …. astaga, kenapa aku jadi gugup. Okay, tenang .. tenang .. tenang .. kalau ia macam-macam, aku bisa saja melayangkan roti selai ini ke wajahnya yang mirip kuda itu, kan?

 

“Nona, kenapa makan di kelas?” tanyanya sembari duduk di bangku kosong sebelah bangkuku. No, no, no, jangan buat aku tambah gugup robot kuda! “Memangnya kenapa?” tanyaku balik dengan cepat “Kita ke taman belakang saja. Kajja.” ajaknya “Tapi … bekalku?” tanyaku “Bawa saja. Kau bisa makan disana.” ujarnya. Akhirnya aku mengikutinya ke taman belakang.

 

“WHOOOAAAA!!! CHOI SIWOOOONN!!!”

“SIWON-AH!!! SARANGHAEEEE!!!”

“CHOI SIWON!!! KYAAAA~!!”

“SIWOOONNN!!!”

 

Aisssh, gadis gadis genit itu lagi! Untungnya mereka tidak mengejar. Mereka hanya diam di tempat sambil berteriak histeris seperti orang gila. Aku menatap wajah kuda menyebalkan itu. Dia hanya senyum-senyum sendiri. Cish, pede sekali dia!!

 

“Heh? Itukan Kim Yeobin? Dia anak kelas XII-B, kan?”

“Ya! Apa-apaan, dia?! Kenapa dekat-dekat dengan choi siwon, hah?!”

“Apa hebatnya dia? Dia biasa saja. Masih lebih cantik aku, kan?!”

“Mungkin dia pakai ilmu hitam untuk mendekati choi siwon!”

“Dasar gadis murahan!”

 

“Yak!! Kalian membicarakanku, hah?!” bentakku kepada hoobae hooba terlaknat ini. PAdahal mereka masih hoobaeku, tidak sopan sekali!! “A-ani. Tidak ada yang membicarakanmu, sunbae.” jawab mereka “Dengar!! DIA, CHOI SIWON, ADALAH BODYGUARDKU!!!!” ujarku lantang.

 

“He? Bodyguard? Kenapa pakai gandengan tangan segala, hah?!” aku segera melepaskan tangan siwon. Cih, yang minta digandeng memangnya siapa?? “Sudahlah, nona kim. Abaikan saja para nenek sihir itu.” hah!! Kena kalian!!

 

Aku meninggalkan para hoobae tidak sopan itu. Di Korea mana ada hoobae yang setidak sopan mereka? Yang kutahu mereka semua itu pindahan dari luar negri. Mungkin itu sebabnya. Ah, masa bodoh!

 

Siwon mengajakku duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon pinus. Aku suka pohon pinus. Karena pohon pinus adalah saksi saat firstkiss-ku dengan hankyung.

 

Flashback 2 Years ago ..

 

Aku berjalan-jalan dengan Hankyung di sekitar sungai Han. Ini sangat menyenangkan, karena ini adalah kencan pertamaku dengan Hankyung. Oh, dia sangat tampan hari ini. Aku mempererat gandengan tangannya. Begitu juga dengannya.

 

“Yeo … ayo kita ke taman itu!” sahut hankyung semangat. Ia menunjukkan taman di dekat sungai Han yang banyak pohon pinusnya. “Siapa takuuuuutt!!!” sahutku ketika mulai berlari mendahuluinya. Ia pun juga mengejar.

 

Aku mempercepat langkah kakiku. Hingga akhirnya ia tertinggal. Aku bersembunyi di balik pohon pinus yang cukup besar. Aku duduk bersandar disana. Berusaha mengatur nafasku. Pasti Hankyung tidak bisa menemukanku! Hahaha~

 

Sudah 20 menit. Tapi hankyung belum menghampiriku. Aku menengok melihat keadaan sekitar. Sepi sekali! Apa jangan-jangan hankyung meninggalkanku disini? Aigoo … aku pulang dengan siapa??

 

Aku kembali berbalik dan menyandarkan kepalaku di batang pohon pinus ini. Daun jatuh berguguran dengan indah. Ah, awal musim gugur yang indah. Aku memejamkan mataku. Merasakan sentuhan lembut dari dedaunan yang jatuh menerpa wajahku. 

 

Sesuatu yang lembut dan basah menempel dipipiku. Aku membuka mataku dan menemukan hankyung yang sedang mencium pipiku. Kebiasaannya sejak kecil. Ia suka mencium pipi. Dan aku senang karena ia hanya suka mencium pipiku. 

 

“Kau kemana saja? Aku khawatir mencari-carimu dari tadi. Kupikir kau menghilang tiba-tiba.” ujarnya dengan nada khawatir. “Aku hanya disini dari tadi. Justru aku khawatir kalau kau pulang duluan meninggalkanku. Lalu aku pulang dengan siapa?” tanyaku.

 

Ia duduk disampingku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ini sangat nyaman. Dari sini saja aku bisa mendengar suara detak jantungnya. Indah dan lembut sekali. Seperi wajahnya. 

 

Tiba-tiba ia duduk dengan tegak, kemudian menatapku. Tangannya membelai pipiku yang mulus. Ia menatapku lembut, sangat lembut. Aku menyukai matanya yang indah. Ia makin dekat dengan wajahku. Hingga hidung kami bersentuhan. Hidungnya sangat mancung. Ia memiringkan kepalanya. 

 

Sampai akhirnya bibirnya menempel di bibirku. Ia melumatnya sangat lembut. Ia memejamkan mata, aku pun mengikutinya. Ia menangkup kedua pipiku. Aku membalas ciumannya. Hangat. Sangat hangat. 

 

Setelah satu menit, akhirnya ia melepaskan ciumannya. Ia tersenyum dan menatapku lembut. Sangat lembut. Kemudian ia memelukku sangat erat. Aku pun membalas pelukannya. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya “Hmm, sangat nyaman.”  jawabku “Apa kau mau lagi??” tanyanya genit “Mwo??”

Flashback end

 

“Nona, kenapa melamun? Cepat dimakan bekalnya. Nanti keburu masuk.” tegur siwon “Ah, ne, ne.” jawabku. Aku membuka kotak bekalku dan mengambil roti selai kacang cokelat. Hmm, favoritku!

 

Aku menatap siwon yang sedang memejamkan matanya. Wajahnya juga … sangat indah. Ah! Bicara apa aku ini? “Kau mau?” tawarku seraya menyodorkan roti selai cokelat “Nde? Ah, tidak. Nona saja yang makan. Itu kan milik nona.” tolaknya. Aku meletakan roti selainya di pangkuannya.

 

“Aku tidak suka makan sendirian.” ujarku datar. Ia tersenyum lembut dan mulai memakan roti selainya. Refleks aku tersenyum melihatnya. Kemudian melanjutkan makanku.

 

“Kau tadi melamunkan apa, nona?” tanyanya “Bukan apa-apa.” jawabku berbohong. Kalau aku menceritakan kepadanya, bisa saja ia merasa tersakiti. Ya! Sejak kapan aku memikirkan perasaannya?

 

“Kapan first kiss nona terjadi?” tanyanya. Mwo? Bicara apa dia? Dia berbicara itu seakan-akan bisa membaca pikiranku? Ah, itu hanya kebetulan. “Me .. memangnya kenapa?” tanyaku “Ani. Aku hanya penasaran.” sepertinya ia menyinggung kejadian semalam. Sialan!!

 

“I .. i-itu terjadi 2 tahun yang lalu.” jawabku. Ada sedikit raut kekecewaan di wajahnya. Apa? Memangnya kenapa? “K-kalau kau?” tanyaku. Sebenarnya aku juga penasaran, sih. Ia tersenyum …. errrr, apa maksudnya? Senyuman apa itu? Apa ia sedang menggodaku? “Dengan majikanku sendiri.” MWOYA?!?!?!?!

 

“Jinjja?” tanyaku tak percaya. YA! Walau bagaimanapun, dia itu pria. Dia sudah dewasa. Kenapa first kissnya baru terjadi semalam, hah?! Ia mengangguk sambil tersenyum “Apa kita perlu mengulangnya lagi agar nona ingat?” godanya “ANDWAE!!!” teriakku.

 

~~~o~~~

 

Aku berjalan dengan robot kuda ini menuju parkiran dimana mobilku berada. Huh, sangat menyebalkan. Dari tadi ia terus menggodaku! Sialaaann!! Oh, soal kalung itu … aku tidak memakainya!! Huahahahaha~

 

“Mau apa dia kemari?” tanya siwon “Hmm? Nugu?” tanyaku. Aku melihat arah yang ia perhatikan. Kyuhyun. Dia sedang bersender di depan mobilku. Ketika melihat kami ia tersenyum. Atau ia hanya tersenyum padaku?

 

“Memangnya kenapa?” tanyaku. Sepertinya ia tidak suka kalau kyuhyun ada. Mereka kan saudara. Aku berlari kecil menghampiri Kyuhyun. Aku berhenti di depannya. Kyuhyun berjalan mendekatiku dan membungkukan badannya. Omo~! Apa yang ia lakukan? Ia mengalungkan kedua tangannya di leherku. Dia sedang apa?

 

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku “Sebentar dulu, nona.” ujarnya. Wajahku dan wajahnya dekat sekali. Aku jadi grogi. Sesekali ia melirikku dan tersenyum lembut. Kemudian ia kembali berdiri tegak. Aku meraba sekeliling leherku. Kalung?

 

“I .. inikan kalung yang waktu itu. Kenapa kau memakaikannya kepadaku?” tanyaku. Ia tersenyum “Sebenarnya aku membelikannya untukmu.” jawabnya. Aku mengkerutkan keningku “Pakai setiap hari, ya, nona.” pesannya.

 

“Mana kalung yang biasa kau pakai?” tanya siwon tiba-tiba “A .. a-aku .. tertinggal.” jawabku bohong “Haha, tertinggal. Atau ditinggalkan?” tanyanya sinis “Kajja.” ajaknya. Ia mendahuluiku masuk ke dalam mobil. Tak biasanya ia tak menggandeng tanganku. Kurasa ia marah. Aih, sejak kapan lagi aku memikirkan perasaannya hah?!

 

“Kyuhyun-ssi, kau ingin ikut?” tawarku, ia menggeleng “Baiklah. Aku duluan. Annyeong.” pamitku “Annyeong. Hati-hati dijalan, nona.” pesannya. Aku mengangguk dan masuk kedalam mobil.

 

“Neo … gwenchana?” tanyaku pada siwon saat kami di dalam mobil “Hmm.” jawabnya “Lumayan menarik. Aku mempunyai dua kalung. Berinisial ‘S’ dan ‘K’. ‘S’ untuk Sial, ‘K’ untuk Keberuntungan. Mungkin kalau aku pakai dua-duanya, hidupku akan seimbang.” candaku. Tapi gagal, wajahnya malah semakin suram. Oohh, apa aku salah bicara? Memang benar kan ‘K’ untuk Keberuntungan??

 

Sampai di rumah dia masih tetap diam. Oh … ayolah Yeobin, kenapa kau harus peduli??

 

Aku duduk di sofa ruang tamu. Menatap siwon yang berdiri disampingku tanpa melakukan hal konyol apapun. Biasanya dia akan lancang duduk di sampingku atau menggangguku. Ish, kenapa suasana jadi canggung begini?

 

Beeep!! Beeep!!

 

Telepon rumahku menyala, aku bangkit dan segera mengangkatnya.

 

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, yeonnie-ya~!!”

“Appaaa~ akhirnya kau meneleponku juga. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?”

“Ne, appa baik-baik saja, jagi. Kau sendiri?”

“Yah … aku lumayan baik.”

“Wae? Apa ada masalah?”

“Eum …. ani. Aku memang biasanya begini, kan?”

“Ah, ne ne ne.”

“Waeyo appa? Kenapa meneleponku?”

“Hmm, sebenarnya appa sekarang sudah ada di Amerika.”

“MWOYA?!”

“Hmm, mianhae jagi. Appa tidak sempat mengabarkan. Karena ini juga mendadak. Appa berangkat kemarin lusa. Jeongmal mianhae.”

“Gwenchana appa.” jawabku lirih.

“Bagaimana hubunganmu dengan hankyung?” aku tercegang. Hankyung? Appa belum mengetahuinya atau apa?

“Eung ….”

 

Eomma datang. Ah! Bagus!! Ini kesempatan. Mianhae appa, aku masih ingin berbicara banyak denganmu. Tapi mau bagaimana lagi?

 

“Appa, ada eomma baru datang. Apa kau ingin bicara dengannya?”

“Eh? Ng .. baiklah.”

 

“Eomma, appa!” sahutku seraya menunjuk telepon rumahku. Dengan semangat eomma merebut gagang telepon dari tanganku.

 

“Hufftt … selamat.” gumamku. Aku pun berjalan menuju kamar untuk mengganti bajuku. Sementara siwon mengikutiku hingga pintu kamar. Saat hendak membuka pintu, aku berbalik dan menatap siwon. “Mianhae.” ucapku dan langsung berbalik dan masuk kamar.

 

Setelah berganti baju, aku segera keluar ingin menemui eomma. Kulihat siwon masih berdiri di tempatnya. Oh, aku tak berani menatapnya. Sangat menakutkan. Oiya, tadi aku juga sempat memakai kembali kalungnya. Jadi aku memakai 2 kalung sekaligus. Kampungan sekali -______-”

 

“Eomma ..” sahutku. Aku melihat eomma sedang duduk dengan tidak tenang di sofa. Aku duduk disebelahnya dan menatapnya heran.

 

“Jangan menatapku seperti itu yeonnie. Aku jadi tambah pusing.” ujarnya. Aku mengkerutkan keningku

 

“Apa appa menanyakan soal …”

“Ne, dan dia marah tahu kalian berpisah.”

“Kupikir ia sudah tahu. Memangnya eomma tak memberitahunya?” ia menggeleng. Aku tambah pusing. Apa yang terjadi sebenarnya??

“Dia bilang, ini tak seharusnya terjadi. Walaupun dia tak mencintaimu sekalipun, perjodohan harus tetap berlangsung.” ujarnya. Perasaanku campur aduk. Senang, sedih, bingung. Kalau perjodohan akan terus berlangsung, berarti aku akan kembali pada hankyung lagi.

 

“Lalu sekarang bagaimana?” tanyaku “Molla. Katanya appa akan membicarakan soal ini kepada keluarga Han.” jawabnya.

 

Aku menghela napas berat. Aku melirik siwon yang ekspresinya malah tambah ….. akh!! Aku bingung!!

 

“Eomma …. eottokkhae?” tanyaku lirih. Ia mengelus kepalaku lembut “Sabarlah. Eomma yakin akan ada jalan keluarnya. Pokoknya itu yang terbaik.” aku merasa seperti di permainkan. Jinjja.

Yeobin POV end

 

Siwon POV

Aku mengikuti nona kim hingga ruang tamu. Ia duduk disebelah nyonya park yang sedang duduk dengan gelisah. Nona kim menatapnya aneh.

 

“Jangan menatapku seperti itu seperti itu yeonnie. Aku jadi tambah pusing.” ujarnya. Pusing kenapa? Apa tadi tuan Kim membicarakan sesuatu yang memusingkan. Ah, kenapa aku jadi ikut campur begini?

 

“Apa appa menanyakan soal …”

“Ne, dan dia marah tahu kalian berpisah.” potongnya cepat. Marah? Berpisah? Apa yang dimaksud ‘kalian berpisah’ itu nona kim dan Hankyung? Dan tuan Kim marah mereka berpisah? Ah, molla.

“Kupikir ia sudah tahu. Memangnya eomma tak memberitahunya?” nyonya park menggeleng. Nona kim menatapnya frustasi.

“Dia bilang, ini tak seharusnya terjadi. Walaupun dia tak mencintaimu sekalipun, pejodohan harus tetap berlangsung.” ujarnya. Dadaku terasa sesak mendengar perkataan itu. Perjodohan? Itu berarti mustahil bagiku untuk mendapatkan nona kim?

 

“Lalu sekarang bagaimana?” tanya nona kim “Molla. Katanya appa akan membicarakan soal ini kepada keluarga Han.” jawabnya. Nona kim menghela napas berat. Aku yakin ini berat untuknya.

 

“Eomma …. eottokkhae?” tanyanya lirih. Nyonya park mengelus kepalanya. Jujur, ingin sekali kupeluk dia. Dan menenangkannya. “Sabarlah. Eomma yakin akan ada jalan keluarnya. Pokoknya itu yang terbaik.” jawab nyonya park.

 

Nona kim bangkit dari duduknya, kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Ia melangkah keluar tanpa pamit. Segera ku kejar dia, tapi tanganku ditahan oleh nyonya park “Sudah. Biarkan dia sendiri dulu. Kau ikuti dia diam-diam saja.” pesannya. Aku mengangguk dan membungkuk sebentar. Lalu kembali mengikuti nona kim diam-diam.

 

~~~o~~~

*Kyuhyun – Hope Is A Dream That Doesn’t Sleep*

 

Aku mengikutinya kesuatu tempat. Entah kemana, tapi ia memilih berjalan kaki. Kupikir ia akan menaiki bis. Tapi ini sudah 20 menit. Aku tak mendengar suara isak tangis. Apakah ia terus menahannya? Kumohon jangan lakukan, aku tak tega melihatmu begini, nona.

 

Ia terus berjalan, hingga ia sampai di taman dekat sungai Han itu. Kemudian ia duduk di bawah pohon pinus yang besar. Ia bersandar di batang pohon itu. Air matanya tumpah seketika. Ia memeluk dirinya sendiri. Dedaunan yang gugur jatuh menerpa wajahnya. Aku tahu ini berat untukmu nona.

 

Aku menghampirinya, ia terus terisak. Kemudian aku duduk di sampingnya, ia belum menyadari kehadiranku. Aku mengeluarkan botol air minum dari jasku. Kemudian ku sodorkan kepadanya.

 

Ia menyambar kepelukanku. Aku membalas pelukannya dengan lembut. Pasti kau merasa dipermainkan nona. Aku tahu itu. “Apa kau masih marah denganku?” tanyanya. Aku menggeleng “Aku tidak pernah marah denganmu.” jawabku.

 

“Siwon-ssi, bagaimana kalau aku dan Hankyung tetap dijodohkan?” tanyanya “Bukankah seharusnya nona senang? Lalu kenapa nona malah bertanya?” dia memukul dadaku “Aku menanyakan perasaanmu, bodoh!” omelnya.

 

Aku tertawa kecil. Kenapa nona malah tanya lagi? Pasti perasaanku saat ini sangat sakit sekali. “Kan sudah pernah kubilang, nona tidak perlu menjawabnya.” jawabku “Tapi .. bagaimana kalau aku menjawabnya?” aku terhenyak “M-mwo?” tanyaku.

 

“Nado saranghae, choi siwon.” ucapnya pelan dan lembut. Ia menatapku, aku membalas tatapannya lembut. “Gomawo adik kecil ..” godaku sambil menyentil hidungnya “Aaaww! Yak! Sopan sedikit dengan majikanmu! Dasar robot kuda!!” omelnya “Tapi kan aku tampan.” ujarku sembari kembali memeluknya erat.

 

“Lalu … sekarang kita berpacaran?” tanyaku tiba-tiba “Ani.” jawabnya. Mataku terbelalak, apa maksudnya? “Kalau kau berhasil membuatku melupakanya, baru kita berpacaran.” jawabnya “Ok. Siapa takut?!” tantangku.

 

“Hmm, nona …” panggilku “Ne?” jawabnya “Bolehkah aku menciummu lagi?”

 

“ANDWAE!!!!”

 

~TBC~

 

Huahahahaha~ seperti biasa, endingnya selalu gaje. Alurnya juga gaje. Wkwkwk~ Gamsahamnida ya yg udh mw rcl. Klo bisa sering2 yaa … *maunya :p* okreyy, kira2 ada yg mw tanya2 tentang ffku ini? atw mw tanya2 tentang authornya?? *weekkkss … ngarep gila lo thor. wkwkwk~* okreyyy, gamsahamnidaaa~ *BOW*

Iklan

One thought on “Oh My Girl [Part 7]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s